Polisi baru saja menetapkan seorang aktivis Papua, Veronica Koman, sebagai tersangka provokator terkait kerusuhan di Papua bulan Agustus kemarin. Lewat cuitan di Twitter pribadinya, Veronica dikabarkan sangat aktif menyebarkan informasi-informasi bohong atau hoaks soal bentrok Papua demi membuat situasi semakin panas. Ia bahkan juga menerjemahkan cuitannya ke Bahasa Inggris.

Hoaks, memang seringkali jadi ‘momok’ di tengah situasi-situasi panas yang terjadi. Persebaran hoaks semakin mudah sejak ada media atau jejaring sosial; sebut saja Facebook, WhatsApp, dan lainnya. Hoaks dipercaya menjadi sebab riuhnya penyelenggaraan pemilu 2014, pilkada Jakarta 2017, dan pemilu 2019 kemarin. Dan diperkirakan masih akan berlanjut sampai pemilu 2024 mendatang.

Baru saja sebuah riset menemukan fakta soal hoaks. Katanya penyebar hoaks ini rata-rata adalah orang yang berpendidikan dan berpenghasilan rendah

Veronica Koman: tersangka penyebar hoaks Papua via www.merdeka.com

Advertisement

Sebuah riset dilakukan oleh dosen Universitas Paramadina, Ika Karlina Idris bersama koleganya Laeeq Khan dari Ohio University, Amerika Serikat. Penelitian itu bertujuan untuk mengungkap lebih jauh identitas orang yang hobi banget menyebarkan hoaks, seperti dilansir The Conversation.

Dari 396 responden dari berbagai kalangan usia, pendidikan, dan jumlah penghasilan, ternyata ditemukan fakta bahwa semakin rendah tingkat pendidikan dan penghasilan responden maka semakin besar kemungkinan mereka menyebarkan hoaks. Mereka dianggap kurang mampu mencari dan memverifikasi informasi, sehingga mudah percaya dan membagikan informasi yang mereka dapat dari orang lain.

Riset di atas membantah riset sebelumnya yang menyatakan kalau usia memengaruhi kemampuan orang memverifikasi informasi. Iya sih, awalnya dikira cuma orang tua aja yang rentan kemakan hoaks

Hoaks banyak disebar orang tua di WA via m.caping.co.id

Dalam riset yang pernah dilakukan sebelumnya, disebutkan kalau orang yang rentan menyebarkan hoaks itu adalah orang-orang tua yang baru kenal teknologi. Kalau diingat-ingat, hoaks memang lebih sering beredar di grup-grup keluarga yang isinya orang-orang tua. Entah bapak ibu kita sendiri, atau pakde, bude, om, tante, pernah turut andil menyebarluaskan hoaks. Kita jadi mikir kalau usia berpengaruh terhadap kemampuan orang memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

Advertisement

Namun ternyata, usia nggak berpengaruh lo, Guys! Mau tua atau muda, sama-sama rentan kemakan hoaks selama tingkat pendidikan dan penghasilan mereka rendah. Tapi bukan berarti dengan adanya hasil riset itu kita jadi menggeneralisir semua orang yang pendidikan dan penghasilannya rendah rentan jadi penyebar hoaks ya…

Masalah hoaks ini memang pelik, tapi bukan berarti pemerintah nggak bisa bertindak apa-apa. Kuncinya memang meningkatkan literasi di berbagai kalangan. Tapi lebih baik sih diutamakan yang pendidikan dan penghasilannya rendah

Yuk, perangi hoaks! via www.liputan6.com

Dilihat dari temuan penelitian di atas, sebenarnya pemerintah jadi punya “kisi-kisi” buat bikin program-program literasi lo. Misalnya membuat pelatihan-pelatihan di desa-desa, dengan asumsi tingkat pendidikan dan penghasilan masyarakat pedesaan lebih rendah dibanding masyarakat perkotaan. Pelatihan itu sebaiknya nggak pandang usia, semua boleh ikutan.

Bisa juga menyasar orang-orang yang baru mengenal teknologi dan internet. Soalnya dalam penelitian di atas juga ditemukan fakta kalau orang-orang yang baru melek teknologi ini rentan menyebarkan hoaks. Selain itu, publik juga perlu tahu soal bagaimana sebuah informasi dihasilkan di internet. Mereka perlu tahu kalau nggak semua informasi kesehatan itu berasal dari tulisan seorang dokter, sekalipun namanya tertera di sana. Pun dengan info-info lain. Yuk, lebih bijak berinternet!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya