Sering Digunakan Sekali Pakai, 5 Jenis Sampah Ini Akan Menumpuk Setelah Pandemi Usai

Sampah pandemi

Hari ini seluruh dunia sedang menghadapi satu masalah yang sama. Yup, masalahnya adalah pandemi virus corona. Virus ini telah berhasil merenggut banyak nyawa dan memaksa masyarakat berdiam diri dalam rumah. Hasilnya banyak sektor yang mengalami kerugian. Dari mulai sektor ekonomi, pendidikan sampai dunia hiburan.

Advertisement

Semenjak kemunculan virus Covid-19 di akhir tahun 2019, masalah demi masalah baru bermunculan di berbagai sektor. Termasuk masalah lingkungan. Di masa pandemi, ada beberapa barang yang kita gunakan pakai yang berakhir menjadi sampah. Walaupun barang-barang tersebut memang termasuk kebutuhan, tapi dampaknya terhadap lingkungan ternyata semakin mengkhawatirkan. Bisa tebak barang-barang apa aja yang menumpuk jadi sampah gara-gara pandemi ini?

1. Di masa pandemi, para ahli kesehatan menganjurkan tenaga medis dan masyarakat menggunakan masker sekali pakai. Bayangkan ada berapa juta orang yang membuang masker setiap harinya

Sampah masker membanjiri lautan via www.reuters.com

Barang pertama yang akan jadi tumpukan sampah adalah masker sekali pakai. Sebagai bentuk pencegahan, sejak awal, ahli kesehatan mengajurkan masyarakat dan khususnya tenaga kesehatan untuk menggunakan masker sekali pakai dan membuangnya setelah digunakan. Dari penggunaan masker saja kita sudah bisa membayangkan seberapa banyak yang berakhir menjadi sampah dan mencemari lingungan. Bayangkan ada berapa juta orang yang menggunakan masker dan membuangnya dalam sehari. Sebagai contoh,  di Hong Kong setidaknya ditemukan 70 masker dalam jarak 100 meter pantai seperti dilaporkan Reuters.

2. Selain masker, sampah plastik yang berasal dari botol hand sanitizer juga membanjiri lautan

Sampah plastik via edition.cnn.com

Selain masker, masyarakat juga dianjurkan untuk mencuci tangan dengan sabun atau alkohol untuk membunuh virus yang menempel pada tangan. Tempat-tempat seperti kantor pusat perbelanjaan dan restoran diwajibkan untuk menyediakan hand sanitizer sebagai protokol kesehatan. Umumnya hand sanitizer sendiri dikemas dalam botol plastik baik hand sanitizer yang berbentuk gel atau spray. Nah nggak sedikit orang yang membuang botol hand sanitizer saat cairan di dalamnya habis. Padahal sebenarnya botol plastik ini bisa digunakan kembali untuk diisi ulang.

Advertisement

3. Lalu ada alat atau bungkus makan sekali pakai yang hari ini banyak digunakan sebagai bentuk pencegahan

Sampah alat makan sekali pakai via lifestyle.kompas.com

Yang ketiga adalah sampah dari sektor kuliner. Beberapa tempat makan yang mulai beroperasi di masa pandemi menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk melakukan pencegahan agar para pelanggan maupun pekerja nggak tertular virus. Penyedia makanan biasanya menggunakan alat-alat makan sekali pakai seperti piring dan sendok plastik. Meski terlihat sepele, lama kelamaan alat makan sekali pakai ini akan jadi sampah yang menumpuk.

4. Di beberapa tempat umum, kita sering menjumpai tanda silang dari lakban. Setelah pandemi usai lakban ini akan dicabut dan bayangkan akan ada berapa banyak sampai dari bekas lakban ini

Sampah lakban bekas protokol jaga jarak via news.detik.com

Selain pemakaian masker dan hand sanitizer, hal yang penting dilakukan semasa pandemi adalah menjaga jarak. Di tempat-tempat yang sering didatangi oleh masyarakat seperti bandara, bank atau stasiun, kita sering menjumpai tanda silang di beberapa titik sebagai bentuk protokol jaga jarak. Biasanya tanda silang tersebut dibuat dari lakban. Bayangkan jika pandemi selesai dan lakban-lakban tersebut dicabut. Akan ada berapa banyak sampah yang menumpuk?

5. Terakhir ada sampah dari Alat Pelindung Diri (APD) dan sarung tangan lateks

Advertisement

Sampah APD dan sarung tangan lateks via waste4change.com

Terakhir adalah sampah APD. Menurut laporan, Alat pelindung diri ini telah menjadi sampah baru. Bahkan masuk pada kategori sampah yang berbahaya. Sejumlah organisasi pecinta lingkungan menyatakan bahwa sungai, laut dan selokan banyak dibanjiri oleh sarung tagan lateks dan alat pelindung diri yang nggak bisa di daur ulang. Masalah ini nggak hanya muncul di negara-negara besar seperti negara Eropa dan Amerika, bahkan di Indonesia hal ini juga sudah terjadi. Hal ini diketahui dari penelitian yang dilakukan oleh LIPI di sembilan muara sungai daerah Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

Melihat fakta ini sudah seharusnya kita kembali memperhatikan lingkungan sekitar tempat kita tinggal. Kita sebagai masyarakat bisa melakukan hal-hal kecil seperti nggak membuang sampah sembarangan dan menggunakan masker kain yang bisa dicuci dan alat makan dan minum sendiri untuk mengurangi limbah.

Sudah waktunya kita lebih peduli, kenal, dan memahami virus corona yang sudah hidup di antara kita. Dapatkan E-book Panduan Normal yang Baru di sini.
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Represent

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE