Sejak Rabu (10/06) kemarin, perhatian berita dan sosial media tertuju pada sosok Engeline Megawe. Gadis kecil berusia 8 tahun ini dilaporkan hilang pada pertengahan Mei lalu. Menurut laporan keluarga, Engeline hilang ketika bermain di depan rumahnya. Pencariannya memakan waktu yang cukup lama, bahkan mencapai daerah Banyuwangi di mana orangtua kandungnya berasal.

Walau polisi mencari hingga pelosok pulau Jawa, Engeline justru ditemukan terkubur di halaman belakang rumahnya.

Advertisement

Saat ditemukan, kondisinya memprihatinkan. Di lehernya ditemukan jeratan, tubuhnya terkena sundutan rokok dan memar-memar. Ia dikubur bersama secarik selimut dan boneka. Penyebab utama kematiannya dipastikan berasal dari luka senjata tumpul di kepalanya. Tubuh yang sudah tak bernyawa itu pun dikubur dalam lubang yang ditutupi dengan sampah.

Wajah ceria Angeline saat masih hidup

Wajah ceria Angeline saat masih hidup via cdn1-a.production.liputan6.static6.com

Manusia seperti apa yang punya hati menyakiti dan mengakhiri hidup gadis mungil ini?

Lihatlah senyumnya itu!

Senyumnya tak mungkin kembali lagi via cikalnews.com

Jauh sebelum kejadian ini terjadi, wali kelas Engeline telah banyak memperhatikan gadis yang tinggal di Jalan Sedap Malam, Denpasar ini. Engeline kerap kali datang ke sekolah terlambat dengan berjalan kaki. Jarak dari rumah hingga sekolahnya pun cukup jauh, sekitar 2 KM bila mengikuti jalan raya. Sesampainya di kelas, ia pun tak langsung fokus dengan apa yang diajarkan guru. Tatapannya sering kosong, bahkan mengantuk. Pakaiannya lusuh, bahkan tubuhnya pun seperti tak terawat. Pihak sekolah sampai terpanggil untuk memandikan murid kecilnya ini.

Usutnya, Engeline harus memberikan makan ayam, kucing, dan anjing yang dipiara ibunya sebelum sekolah. Bila tidak, ia terancam tak boleh sekolah dan dimarahi ibunya. Tak hanya itu saja — Engeline juga kerap mengeluh lapar. Namun ibu angkatnya yang bernama Margareith Megawe hanya mengatakan bahwa Engeline susah makan.

Advertisement

Menurut laporan polisi yang dilansir ke publik tadi malam, kelalaian yang menyebabkan kematian Engeline terjadi manakala Margareith tak di rumah. Pembantunya tega memperkosa Engeline yang masih polos. Karena rasa takut terhadap ibunya, pembantu yang belum lama bekerja untuk Margareith itu pun terpaksa membunuh Engeline dan menguburkannya di halaman rumah hingga berbau tak sedap.

Mungkin pertanyaannya bukan siapa yang “sampai hati”. Melainkan siapa yang begitu tak punya hati.

Dengan adik atau ponakan kita, Engeline masih sebaya. Tak sanggup rasanya membayangkan hal yang sama terjadi pada mereka yang kita cinta.

Masa depannya padahal masih panjang

Masa depannya padahal masih panjang via cdn-2.tstatic.net

Nyaris tak sanggup membayangkan jika adik atau keponakan kita menjadi Engeline nomor dua. Orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya justru menjadi alasan ia meninggalkan dunia. Selama 8 tahun hidupnya, Engeline sudah menahan perlakuan kejam dan rasa sakit yang jauh lebih besar dari batas toleransi manusia.

Engeline seharusnya bisa hidup lebih panjang dari kita yang sudah dewasa. Ia masih berhak menuntut ilmu setinggi mungkin. Ia masih punya banyak kesempatan untuk mengejar cita-citanya. Mungkin masih banyak pertanyaan polos Engeline tentang dunia yang belum terjawab. Masih banyak orang-orang yang sebenarnya bisa memberinya cinta, seandainya ia tak diangkat secepat ini ke surga.

Sebagai anak-anak, ia pun berhak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Sebagaimana adik dan sepupu kita yang bahagia.

Walaupun Engeline hanyalah anak yang diangkat karena kedua orangtuanya tak sanggup membiayai persalinan, sejatinya orang yang mengasuhnya memberikannya kasih sayang sepenuh hati. Tanpa perlu membeda-bedakan mana yang anak angkat dan mana yang bukan, memberikan hak dan kasih sayang sama adalah kewajiban. Engeline wajib mendapatkan pendidikan termasuk seragam yang layak, berhak mendapatkan waktu bermainnya, perhatian dari orang tua, dan tak lupa makanan bergizi demi tumbuh kembangnya.

Kasus Engeline tidaklah tunggal. Sebelumnya, publik dikejutkan dengan keluarga di Cibubur yang menelantarkan lima orang anaknya.

Kasus UP yang menelantarkan anak

Kasus UP yang menelantarkan anak via assets.kompas.com

Kasus seperti Engeline bukanlah yang pertama dan satu-satunya. Di tahun-tahun sebelumnya, kasus kekerasan dan penelantaran pada anak-anak sudah banyak terjadi,. Selain karena emosi sesaat, banyak juga dari antara mereka yang lalai.

Kasus UP misalnya. UP merupakan dosen sekaligus ayah dari lima orang anak, yang salah satunya ditelantarkan dan dilarang masuk ke rumah. Si anak sendiri terpaksa harus tinggal di pos satpam dan hidup dari belas kasihan tetangga dan satpam yang tengah berjaga. Saat terjadi penggeledahan oleh polisi, apa yang kita lihat begitu memprihatinkan. Rumah yang berantakan bak kapal pecah. Ditambah sampah-sampah berserakan tanpa dibuang. Sampai akhirnya kita dikejutkan pada fakta bahwa ayah dan ibu kelima anak tersebut menyimpan narkoba berjenis sabu-sabu. Barang itulah yang kiranya selama ini membuat mereka menelantarkan kelima anaknya tersebut.

Nurani kita semakin dibuat bersedih begitu melihat video porno beredar. Bagaimana tidak? Pelaku dari perbuatan tidak senonoh ini justru sepasang anak balita, yang masih belum tahu apa-apa. Kegiatan ini pun dilakukan dengan panduan dari seseorang yang merekam aksi mereka.

Perlukah negara mengeluarkan surat izin menjadi orangtua agar kekejaman ini tak terjadi lagi? Mengapa semudah itu bagi orang dewasa untuk menyakiti makhluk yang harusnya mereka lindungi?

Orangtua adalah malaikat bagi anak-anaknya. Saat nanti tiba saatnya, semoga kita tak justru menjadi malaikat pencabut nyawa.

Semoga, kita menjadi malaikat sebenar-benarnya. Bukan malaikat pencabut nyawa

Semoga, kita menjadi malaikat sebenar-benarnya. Bukan malaikat pencabut nyawa via www.brebeauty.com

Suatu saat nanti jika tiba giliran kita menjadi orangtua, semoga kita bisa ingat bahwa anak adalah karunia. Mereka yang masih polos dan tak berdosa, berhak mendapatkan kesempatan hidup yang panjang. Mereka layak untuk terus dipantau dan diperhatikan. Diberikan suasana hidup terbaik semampu kita. Dibesarkan dalam lingkungan yang bersih dan selayaknya.

Marilah berdoa agar tak terjadi kasus seperti Engeline yang berikutnya. Cukuplah tragedi yang ada sampai di sini saja. Jadikan diri malaikat pelindung mereka dan masa depannya. Bukan justru malaikat pencabut nyawa.

Lanjutkan istirahatmu, Engeline. Semoga kau temukan di surga apa yang tak pernah kau miliki di dunia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya