Dua Anak Muda ini Pakai Zodiak untuk Ambil Keputusan Hidup, dan Saya Ajak Mereka Ngobrol #Reportase

orang percaya zodiak

Ini wawancara paling aneh yang pernah saya lakukan. Di dalam sebuah kafe, saya duduk berhadapan dengan Bima, lelaki berusia 24 tahun yang sangat menyukai zodiak. Selama lebih dari dua jam dia bicara penuh semangat tentang pengaruh 12 zodiak dalam hidupnya.

Advertisement

“Aku nggak merasa sebagai less person karena percaya pada sesuatu yang abstrak. Saat aku lahir ke dunia, alam ini udah tercipta duluan. Jadi pasti udah ada aturannya,” kata Bima.

Sembari menyeruput Americano, Bima menjelaskan kalau zodiak nggak sesederhana yang dikira. Sejauh ini kita hanya tahu permukaannya saja apabila zodiak yang kita peroleh saat lahir dipengaruhi posisi berbagai benda langit. Terutama pergerakan matahari pada rasi bintang.

Bima sendiri berzodiak Capricorn. Dia mengaku punya beberapa sifat yang Capricorn banget: ambisius, percaya diri, dan kurang suka dikritik.

Advertisement

Bima juga mencari tahu zodiak orang-orang di sekitarnya. Termasuk saya yang berzodiak Aries. Nggak hanya teman, keluarga, gebetan, atau pacar, dia bahkan mencari zodiak Nabi Muhammad dan Yesus! Untuk seru-seruan aja sih katanya. Bagi Bima, zodiak memang hiburan yang menarik. Dia kerap menjadikannya bahan obrolan dengan teman-teman sekampus. Mereka senang karena zodiak bisa membantu memahami diri sendiri dan orang lain.

“Buatku zodiak adalah safe box. Kadang-kadang aku nggak tahu apa yang harus dilakukan kalau ketemu orang asing. Dengan tahu zodiaknya, aku bisa dapat gambaran kayak apa sih orang itu dan gimana cara menghadapinya. Itu helping banget buat berbagai hal,” jelas Bima.

12 zodiak dan sifatnya via id.pinterest.com

Advertisement

Menggunakan Zodiak sebagai “politik” untuk menghadapi orang lain

Zodiak berperan penting saat Bima mulai bekerja. Dua tahun lalu, dia harus menjadi staf marketing komunikasi, sebuah bidang yang belum pernah dipelajarinya. Bima ditugaskan untuk bertemu klien-klien dan membujuk mereka buat bekerja sama. Pokoknya harus menjalin networking sebaik mungkin. Padahal Bima adalah introver. Pekerjaan itu membuatnya cemas dan khawatir karena nggak tahu apa yang harus dilakukan.

Saat itulah Bima berpegang pada zodiak. Dia berusaha mengenal para klien berdasarkan zodiak mereka. Awalnya itu hanya dijadikan basa-basi pencair suasana, tetapi kemudian Bima menjadikannya strategi negosiasi.

Setiap mendapat klien Leo–yang dikenal narsistik–Bima berusaha memberinya berbagai pujian. Pasalnya dia tahu kalau para Leo sangat suka dipuji dan jadi pusat perhatian. Sedangkan kalau dapat klien Aquarius, Bima fokus menyampaikan betapa luasnya manfaat yang bakal diperoleh dari kerja sama mereka. Nggak hanya dirasakan klien, tetapi juga banyak orang lainnya. Strategi itu dipilih Bima karena tahu kalau Aquarius adalah orang yang cenderung peduli sesama.

Sungguh unik! Baru kali itu saya dengar ada strategi bisnis berdasarkan zodiak. Namun Bima menekankan, strategi itu hanya berperan sekian persen. Sebagian besar keberhasilan dalam menggaet klien tetap ditentukan kemampuan komunikasinya.

Selain dalam bekerja, Bima juga memakai zodiak dalam berteman dan pacaran. Dia menghindari pacaran dengan orang-orang Gemini. Sebab dari pengalaman pribadinya, Gemini cenderung genit dan sulit dipercaya. Tetapi bukan berarti dia nggak suka berteman dengan mereka. Gemini justru cocok dijadikan teman karena berjiwa bebas dan asyik diajak ngobrol.

Sembari kembali meneguk isi cangkirnya, Bima bercerita pada saya tentang asmara. Dia pernah punya pacar berzodiak Virgo. Sebagai Capricorn, Bima merasa hubungannya dengan Virgo lancar-lancar aja. Mereka tahu cara membuat situasi jadi nyaman. Sayangnya, Virgo cenderung suka mengkritik karena perfeksionis. Bentrok dengan Capricorn yang sulit menerima kritik akhirnya menjadi salah satu alasan mereka berpisah.

Obrolan panjang dengan Bima hari itu membuat saya memikirkan banyak hal. Tetapi sebelum memberi kesimpulan, mari saya ceritakan pertemuan selanjutnya dengan penyuka zodiak yang lain. Kali ini versi perempuan.

Pertemuan dengan Titah, seseorang yang sangat antusias dengan zodiak

Ada berbagai alasan untuk percaya zodiak via www.yourtango.com

Sehari setelah bertemu Bima, saya janjian dengan Titah di sebuah kedai. Perempuan berusia 25 tahun ini datang dengan pakaian berwarna gelap. Dia memesan segelas susu stroberi dingin. Lantas dengan ceria dan penuh semangat, dia bercerita tentang kesukaannya pada zodiak.

Titah suka membaca ramalan zodiak di koran saat masih kecil. Dia juga kerap menonton acara televisi yang ada ramalan bintangnya. Tetapi, saat itu zodiak hanyalah lucu-lucuan. Titah baru iseng mempelajarinya lebih lanjut saat jadi mahasiswi. Lingkungan pertemanannya mendukung hal itu. Zodiak kerap jadi topik obrolan yang menarik bagi mereka.

Seiring bertambahnya pengetahuan tentang zodiak, Titah merasa makin mengenal dirinya. Dia adalah seorang Libra sejati, cenderung menjaga harmoni dalam lingkungan. Dibanding bentrok langsung dengan orang lain, biasanya mereka lebih suka negosiasi. Konon Libra juga terlalu ramah sampai kadang-kadang disangka genit. Padahal itu hanya cara mereka mengakrabkan diri.

“Libra itu bucin (budak cinta) abis. Planet yang ngatur Venus. Katanya Venus itu planet cinta-cintaan, khusus relationship and lovey-dovey things. Kami memang nggak bisa sendirian dan butuh partner,” jelas Titah.

Sebagai Libra yang disimbolkan timbangan, Titah juga mengaku sulit mengambil keputusan. Dia pernah bingung saat harus memutus hubungan dengan pacarnya. Mereka memang udah berkonflik sebelumnya. Tetapi, dia nggak kunjung menemukan waktu yang tepat. Hari demi hari terlewat begitu aja. Sampai akhirnya, terjadi gerhana sekaligus purnama di langit.

“Katanya ada energi shifting yang gede tiap purnama. Pas gerhana, energi itu diblok. Kalau purnama dan gerhana terjadi bersamaan, kita bakal berada di ruangan yang kosong. Apa pun yang kita lakukan bakal jadi awal yang baru dan lancar. It’s a good time,” kata Titah yang langsung memutus pacarnya saat itu juga.

Selain dalam percintaan, zodiak juga dipakai Titah buat mengamati pertemanan. Konon Libra nggak cocok berteman dengan Cancer. Saat memerhatikan sekitarnya, ternyata teman Cancer yang dimiliki Titah memang sedikit. Tetapi itu nggak jadi pertimbangan buat memilih teman. Hanya jadi masukan aja dalam bersikap ke orang lain.

Sementara itu, zodiak yang paling cocok berteman dengan Titah adalah Aquarius, tetapi Aquarius membuatnya agak ngeri, karena kalau udah jahat, mereka bakal jahat banget. Titah juga berkata kalau paling enak berteman dengan Sagittarius. Sementara Scorpio adalah orang-orang yang sangat baik, mereka bakal memperjuangkan teman kalau udah merasa suka dan cocok.

Menanggapi penjelasan Titah, saya jadi ingat kalau sebagai Aries, konon saya cocok berteman dengan Libra. Semasa kuliah memang ada dua sahabat berzodiak Libra yang dekat dengan saya. Satu orang masih bertahan sampai sekarang, satunya lagi udah menghilang karena kami berkonflik. Jadi cocok-cocokan dalam zodiak nggak sepenuhnya benar. Dalam pertemanan maupun percintaan, menurut saya yang bikin berhasil adalah kompromi antara kedua pihak.

Obrolan dengan Titah hari itu memberi berbagai informasi baru. Sama menariknya seperti obrolan dengan Bima. Selanjutnya, saya akan memberi kesimpulan tentang mereka berdua.

Kesimpulan kisah Bima dan Titah. Bagaimana zodiak menurut saya?

Apa zodiak bisa menggambarkan diri kita dengan tepat? via guff.com

Setelah mewawancarai mereka berdua, saya menemukan beberapa persamaan. Pertama, Bima dan Titah sama-sama percaya zodiak, sekalipun zodiak nggak bisa dibuktikan sepenuhnya dengan logika. Tentu ini bikin gemas buat orang-orang semacam saya yang berusaha melogiskan segala sesuatu.

Zodiak memang punya berbagai diagram dan hitungan, tetapi sebagai orang awam yang mempelajarinya, saya nggak kunjung dapat pencerahan. Di zaman modern ini memang lebih banyak orang bersikap pragmatis. Kalau sesuatu nggak bisa dibuktikan semudah hitam di atas putih, lebih gampang buat nggak percaya. Lantas kenapa Bima dan Titah bisa percaya zodiak?

Ternyata bagi mereka berdua, kelogisan adalah suatu kemewahan. Bukan sesuatu yang wajib. Nggak semua hal harus logis atau dipaksa untuk logis. Begitu juga zodiak, terkadang cukup dinikmati tanpa dipikir terlalu rumit. Zodiak adalah ilmu warisan nenek moyang ratusan tahun lalu. Bima dan Titah percaya kalau orang-orang zaman dulu lebih peka dalam membaca pertanda alam, karena itu zodiak nggak bisa diremehkan.

Kesimpulan kedua, ada berbagai hal yang memengaruhi sifat dan kepribadian seseorang, nggak hanya zodiak. Itulah kenapa dua orang dengan zodiak yang sama bisa kelihatan berbeda. Keluarga, lingkungan, agama, ras, dan berbagai hal lainnya turut membentuk diri kita. Wajar kalau penilaian berdasarkan zodiak aja bisa meleset.

Karena itulah, pada kesimpulan ketiga, saya merasa kalau sebaiknya kita nggak menggunakan zodiak secara berlebihan. Memang asyik menebak-nebak karakter orang lain berdasarkan zodiak. Tetapi, jangan sampai hal itu membuat kita menciptakan sosok lain yang bukan dirinya. Seakurat apa pun zodiak, manusia tetaplah makhluk yang dinamis dan selalu berubah.

“Sekarang orang-orang baca zodiak karena ingin saling memahami. Tapi sayangnya, kadang mereka ngelupain orang di balik zodiak itu. Malah jadi degrading (merendahkan) orang berdasarkan zodiaknya. Boleh aja sih menduga-duga orang berdasarkan zodiak, tapi jangan berlebihan,” pungkas Bima.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Ecrasez I'infame

CLOSE