Pembahasan tentang siapa orang pertama di Asia Tenggara yang berhasil menaklukkan Everest, tiba-tiba meramaikan jagat Indonesia raya. Pertanyaan yang sebenarnya cukup mudah dicek kebenarannya itu jadi kontroversial setelah politisi PKS, Mardani Ali Sera, berceletuk bahwa Prabowo adalah orang Asia Tenggara yang pertamakali mencapai puncak Everest. Padahal menurut situs resmi Everest Summiteers Association (ESA), sosok itu adalah srikandi asal Yogyakarta bernama Clara Sumarwati. Nah mungkin yang dimaksud oleh Mardani adalah keberhasilan tim pendakian Kopassus yang saat itu di bawah komando Prabowo pada tahun 1997 — itupun setahun setelah rekor Clara.

Tapi terlepas dari siapa yang sampai puncak duluan, sejak dulu orang memang biasanya cuma fokus terhadap pendaki yang berhasil menaklukkan Everest. Padahal keberhasilan pendakian puncak tertinggi dunia ini butuh kerjasama tim — dan tentunya harus dibantu oleh sherpa. Setiap pendaki itu punya pemandu sekaligus porter yang selalu mendampingi mereka sampai puncak. Nama-nama penakluk gunung tertinggi itu pasti tercantum dalam berbagai catatan sejarah, tapi tidak begitu halnya dengan sherpa. Bagi para sherpa, mendaki puncak tertinggi di dunia itu adalah realita sehari-hari dan cara menyambung hidup. Kali ini Hipwee News & Feature ingin mengajak kalian semua mengenal sherpa, orang-orang yang kehebatannya justru mengungguli para penakluk Everest. Simak yuk!

1. Jadi, siapa itu sherpa? Sherpa sebenarnya adalah nama suku di Nepal dan Tibet yang tinggal di lereng-lereng pegunungan Himalaya

Suku Sherpa via www.caingram.info

2. Lalu industri pariwisata Everest sedikit membedakan Sherpa yang berarti nama suku, dengan menyebut sherpa (yang ditulis dengan ‘s’ kecil) yang berarti porter

Pergeseran makna ini terjadi terutama ketika Everest mulai banyak dikunjungi pendaki. Orang-orang Sherpa itu tidak punya pilihan selain ikut mendaki, demi sesuap nasi via edition.cnn.com

3. Sherpa sendiri tidak cuma bertugas sebagai porter atau guide aja lho, lebih dari itu, mereka juga mendirikan kemah, memastikan rute pendakian aman, sampai memastikan minuman di pos pemberhentian cukup hangat untuk diminum pendaki

Lebih dari sekedar porter via www.cnnindonesia.com

4. Harus diakui bahwa kekuatan fisik sherpa ini begitu kuat. Bertahun-tahun hidup di lereng Himalaya membuat fisik mereka beradaptasi dengan suhu dingin minim oksigen

Terbiasa hidup di daerah dingin minim oksigen via edition.cnn.com

5. Saat manusia biasa harus menghabiskan setengah hari lebih untuk turun dari puncak ke ketinggian 2.000 meter, para sherpa cuma butuh 2 jam! Itupun mereka masih sempat istirahat

Kemampuan naik turun gunungnya tidak perlu diragukan lagi via www.sbs.com.au

6. Sebuah penelitian tentang ketahanan manusia di ketinggian pernah dilakukan dengan melibatkan sherpa, hasilnya struktur sel tubuh mereka emang beda dari kebanyakan orang!

Seorang sherpa saat diteliti kondisi fisiknya via edition.cnn.com

Advertisement

Mitokondria, atau sel yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya sistem pernafasan dan tempat sumber energi, milik sherpa ternyata jauh lebih efisien dalam menggunakan oksigen ketimbang milik orang dewasa biasa. Sherpa jadi bisa menjaga aliran darah tetap lancar meski berada di lokasi dengan oksigen minim.

7. Meski begitu, ternyata tidak semua sherpa bisa mendaki sampai puncak lho. Karena makin tinggi, tantangannya makin berat

Itulah kenapa para pendaki bisa memilih mau sherpa yang ‘biasa’ atau yang emang udah berpengalaman banget. Semakin tinggi jam terbangnya, tentu aja semakin mahal via www.npr.org

8. Walaupun mendaki Everest udah jadi makanan sehari-hari sherpa, tapi risiko kematian tetap tinggi. Sebanyak sepertiga kematian yang terjadi di Everest itu dialami oleh para sherpa

Proses pemidahan jenazah seorang sherpa yang meninggal saat bertugas via www.npr.org

9. Terlalu berisikonya pekerjaan membuat sherpa bertekad untuk tidak mewariskan “bisnis” ini ke anak cucunya. Mereka ingin keturunannya memiliki pekerjaan yang lebih layak

Para sherpa banting tulang agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi dan di masa depan tidak harus bekerja dengan mempertaruhkan nyawa seperti mereka via edition.cnn.com

10. Karena ketiadaan penerus ini, banyak yang bilang jumlah sherpa sekarang kian menipis, tidak sebanding sama jumlah pendaki yang terus bertambah tiap tahun

11. Ada juga yang bilang, kurangnya sherpa ini dikarenakan operator pendakian tidak lagi melatih sherpa-sherpa muda dan cuma mempekerjakan sherpa senior

Tenzing Norgay (kanan), sherpa yang menemani Edmund Hillary, orang pertama penakluk Everest dari Selandia Baru via www.sbs.com.au

12. Krisis sherpa ini mendorong munculnya sherpa-sherpa karbitan, yaitu mereka yang belum punya pengalaman cukup tapi ‘ngotot’ jadi sherpa. Akibatnya banyak yang malah pingsan dan tidak bisa sampai puncak

Besarnya bayaran jadi sherpa lah yang mendorong mereka nekat melakukan pekerjaan berbahaya itu. Katanya selama musim pendakian, sherpa senior bisa mengumpulkan hingga Rp141 juta! via variety.com

Industri pendakian Everest ini memang jadi lahan menjanjikan banget buat warga yang hidup di sekitaran Himalaya. Tapi ya itu tadi, pekerjaan ini taruhannya nyawa lho. Tahun 2014 kemarin sih kabarnya pemerintah setempat udah mulai meminta lembaga pemandu buat mengurus polis asuransi jiwa bagi sherpa. Jadi kalau amit-amitnya mereka tidak selamat, keluarga yang ditinggalkan bisa dapat santunan. Atau kalau misal terluka, bisa diklaim buat biaya pengobatan.

Terlepas dari itu semua, sebelum memuji-muji para pendaki yang pernah menaklukkan Everest, kayaknya kita perlu beri penghormatan tertinggi buat para sherpa yang menemani mereka deh. Biar gimanapun jelas tidak mudah lho membawa barang-barang berat sambil mendaki gunung setinggi 8.848 meter!

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya