Di Amerika, kebijakan travel ban dan larangan masuk untuk 7 negara yang mayoritas muslim dari Presiden Trump masih panas situasinya. Demo-demo terus dilakukan, hingga bos-bos perusahaan besar mulai rapatkan barisan. Kita semua penasaran apakah Trump akan tetap kekeuh dengan kebijakannya.

Tapi berbelok sedikit ke benua sebelahnya, ada kabar dari UK yang menyejukan suasana. Komunitas muslim di London akan menggelar program tahunan yang bertema toleransi beragama dan anti-diskriminasi terhadap islam, Visit My Mosque. Seperti apa acaranya? Yuk simak ke bawah!

Visit My Mosque Day adalah acara khusus dimana puluhan masjid di London akan mengadakan open house untuk siapapun yang penasaran terhadap agama islam

Pengunjung yang datang lintas keyakinan

Acara ini semakin penting tiap tahunnya  via www.visitmymosque.org

Advertisement

Visit My Mosque adalah acara tahunan yang sudah digelar sejak 2015 lalu di sekitar bulan Februari. Untuk tahun ini, hashtag sudah bertebaran. Visit My Mosque akan digelar tanggal 5 Februari mendatang. Mungkin situasinya yang pas. Program ini diharapkan bisa meredakan panasnya situasi dunia dengan makin maraknya ‘islamophobia’. Puluhan masjid akan membuka pintu lebar-lebar untuk didatangi oleh tamu dari negara Britania Raya, yaitu: Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Pertemuan besar-besaran antar umat beragama digelar. Di momen ini kamu bebas bertanya dan mencari tahu bagaimana muslim yang sebenarnya

Melihat bagaimana muslim beribadah

Melihat bagaimana muslim beribadah via lockerdome.com

Dalam acara ini, pengunjung yang datang akan disambut dengan aneka cake, teh, dan keramah-tamahan. Uniknya, event ini nggak hanya didatangi oleh sesama muslim, tapi juga umat beda agama ataupun yang tak punya agama. Ateis, agnostic, atau penganut aliran apapun, boleh datang dan melihat kehidupan muslim yang tak pernah terekam di televisi Eropa. Pengunjung diberi kesempatan untuk bertemu langsung satu sama lain dan bertanya tentang sesuatu untuk menepis konsepsi yang salah selama ini.

Berbagai serangan teror yang diklaim oleh teroris yang mengatasnamakan islam membuat muslim terancam. Di Inggris, kejahatan kepada muslim meningkat sejak tahun 2014

Di eropa, islamophobia tinggi

Di Eropa, islamophobia makin tinggi via www.opensocietyfoundations.org

Selama tahun 2015, tercatat ada kejahatan dan provokasi yang korbannya merupakan muslim. Jumlah ini jelas jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya yang mencatat ada 50 kejahatan berbau islamophobia. Maraknya aksi teror yang diklaim oleh ekstrimis islam, agaknya membahayakan muslim lain yang tidak mengganggu siapa-siapa. Seperti yang dilansir dari Aljazeera, beberapa muslim di London menuturkan bahwa mereka sering dimaki dan disumpahi tanpa sebab hanya karena mereka muslim. Karena ini juga, banyak keluarga muslim yang merasa tak aman keluar rumah.

Program ini sudah berjalan sejak lama. Tujuannya untuk membenarkan konsepsi yang salah dan menurunkan sentimen negatif yang berujung pada islamophobia

Say No to Islamophobia

Say No to Islamophobia via www.eramuslim.com

Advertisement

Beberapa dekade terakhir ini, nama muslim di dunia memang diciderai oleh berbagai aksi tetorisme. Visit My Mosque yang pertama kali diinisiasi oleh Muslim Council of Britain (MCB) pada tahun 2015, adalah kegiatan yang bertujuan untuk menepis stigma negatif yang melekat pada islam dan muslim pada umumnya. Bahwa umat muslim tidaklah identik dengan teroris seperti yang sering diperbincangkan selama ini.

“Kami berharap bahwa orang-orang dari keyakinan yang berbeda juga mereka yang tidak berkeyakinan agama, bisa lebih memahami kami. Sehingga kami akan lebih membaur dengan semua orang.” ujar Abdul Majid, ketua dari Masjid Camberley.

Cara yang sama ditempuh komunitas muslim di Perancis dan Australia yang merasakan situasi serupa. Dengan jalan perdamaian dan wisata, konsepsi tentang islam bisa diluruskan

Suasana Visit My Mosque di Perancis

Suasana open house di salah satu masjid di Perancis via www.aljazeera.com

Setelah serangan bulan November 2015 di Paris yang menewaskan 130 orang, benih-benih islamophobia muncul juga di negara Perancis. Karena itulah, sekaligus sebagai peringatan satu tahun serangan sebelumnya yang menewaskan 17 orang, French Council of the Muslim Faith yang didukung oleh pemerintah menggelar program Open-house pada bulan Januari 2016. Sementara itu, Australia pada akhir tahun 2015 juga menggelar Mosque Open Day. Konsep dan tujuan komunitas Muslim di ketiga negara itu kurang lebih sama, yaitu untuk mengintegrasikan muslim dengan warga lainnya, dan meluruskan stigma buruk melalui percakapan yang hangat dan pariwisata.

Di Indonesia juga sebenarnya banyak forum yang menjembatani antar umat beragama. Tapi mungkin hasilnya masih bisa ditingkatkan lagi

toleransi beragama

Toleransi beragama harus digalakkan  via beritabali.com

Membicarakan soal toleransi beragama, Indonesia jelas nggak bisa dilupakan. Di Indonesia ada berbagai macam aliran kepercayaan meski yang diakui secara resmi sebagai agama hanya 6 saja. Untuk mewadahi keberagaman ini, kita punya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang dibentuk sejak tahun 2006. Fungsi utama dari FKUB adalah menjadi jembatan atas umat beragama dan mencegah konflik berdasarkan agama. Sementara untuk toleransi dan integrasi antar umat beragama, boleh lah kita meneladani pondok pesantren Bina Insani di Tabanan, Bali. Meskipun seluruh muridnya muslim dan merupakan sekolah berbasis agama, hampir separuh guru mata pelajaran umumnya beragam Hindu.

Langkah yang diambil oleh komunitas muslim di UK, Perancis, dan Australia ini layak untuk diikuti oleh komunitas muslim lainnya. Agaknya, untuk tanggal 5 Februari nanti Donald Trump perlu juga diundang secara khusus untuk datang dan berbincang. Agar Presiden Amerika ke-45 itu tidak mudah termakan stigma tentang muslim yang tidak benar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya