Siapa sih yang nggak kenal dengan Pokemon GO? Game besutan Niantic yang sukses meraup keuntungan besar ini sukses jadi idola baru bagi pecinta game android di dunia. Di Indonesia sendiri, meski belum secara resmi dirilis oleh pihak Niantic, namun sudah banyak Pokemon trainers yang dengan semangat menggenggam androidnya sambil berjalan keliling kota bermain Pokemon GO.

Popularitas Pokemon GO memang tak lagi membuatnya sekedar sebagai video game, melainkan fenomena sosial. Banyak peristiwa, tragedi, perubahan perilaku, hingga isu politik yang muncul karenanya. Tak sedikit pula yang berujung negatif. Jika diamati lebih lanjut, memang pada dasarnya banyak kerugian yang Kamu dapat dengan turut terlibat dalam tren memainkan game ini. Baik kerugian secara sosial maupun kerugian untuk diri Kamu sendiri.

Namun, Hipwee tidak bermaksud melarang atau mengharamkan, apalagi dengan tafsir konyol ala tuduhan bahwasanya Pokemon artinya “Saya yahudi” dan sebagainya. Hipwee cuma ingin sedikit mengajak berpikir jernih untuk melihat dan merenungkan kembali apakah aktivitas yang selama ini kita lakukan cukup berharga. Termasuk apakah Pokemon GO sebenarnya seseru itu?

Dimulai dari alasan yang paling kerap dilontarkan, Pokemon GO dianggap membahayakan keselamatan

Seiring dengan melonjaknya popuularitas Pokemon GO, hampir tiap hari kita mendengar ada berita kecelakaan atau tragedi yang diakibatkan olehnya. Tentu ini sebenarnya juga permainan media massa sih. Mendompleng ketenaran Pokemon GO, berita-berita buruk terkaitnya selalu digembar-gemborkan. Ini upaya dalam menjual kontroversi. Yah, tapi tak bisa dipungkiri kalau aktivitas game ini memang menuntun pemainnya untuk melakukan perilaku yang membahayakan. Apalagi jika dimainkan secara tidak bertanggungjawab. Mulai dari kecelakaan lalu lintas karena membagi fokus antara berkendara dan mencari Pokemon, hingga memberi celah modus melakukan sejumlah aksi kriminal seperti pencurian dan penipuan.

Pokemon GO bukan jenis game untuk mengisi waktu luang

Banyak orang mengfungsikan game di gadget sebagai aplikasi untuk membunuh rasa kebosanan atau mengatasi situasi semacam menanti antrian, terjebak macet di transportasi umum, rekreasi waktu istirahat kantoran, dan lain sebagainya. Itulah kenapa rata-rata game untuk gadget didesain sederhana dan praktis. Namun, tidak begitu untuk Pokemon GO. Alih-alih mengisi waktu luang, ini adalah jenis game yang menuntutmu untuk menciptakan waktu luang. Karena itu Pokemon GO bakal bersaing dengan aktivitasmu yang lain. Jika Kamu nggak bisa membagi waktu dengan baik, pilihannya cuma dua: Pokemon GO akan kamu tinggalkan, atau hidupmu berantakan.

Alih-alih terlihat keren sebagai Pokemon trainers, yang ada kamu malah terlihat seperti orang aneh saat keliling komplek sambil pegang handphone

Advertisement

Kan gak enak dipandang orang via www.autoevolution.com

Setelah Pokemon GO jadi primadona di Indonesia, kamu tentu sering menemukan banyak orang yang jadi fokus dengan ponselnya. Mereka berjalan mengelilingi kompleks perumahan hingga jalan besar sambil memegangi ponselnya. Bagi pemain Pokemon, kamu pasti paham mereka sedang ngapain. Tapi bagi orang awam, Kamu justru terlihat bak zombie yang aneh! Alih-alih pingin keren layaknya Ash dan Pikachu, orang-orang malah bakal ngetawain kamu. Masih beruntung juga jika nggak dikira maling atau orang yang hendak berbuat jahat.

Banyak yang bilang Pokemon GO membuat para gamer jadi lebih sering keluar rumah dan bersosialisasi. Apa benar?

Membuat lebih sering keluar rumah sih pasti, karena itu tuntutan permainannya. Tapi kalau bersosialisasi? Belum tentu sih. Kalau Kamu mengamati, terasa janggal juga ketika banyak orang berkumpul di suatu tempat, namun mata dan jari mereka tetap terfokus di ponsel masing-masing. Bahkan, isi dialog antara para pemain kebanyakan juga hanya seputar pokeball, pokemon, pokestop, gym dan semacamnya. Walau secara fisik mereka ada di satu lokasi, namun komunikasi dan interaksi yang mereka lakukan sejatinya tetap terjebak dalam dunia digital.

Beralih ke game-nya sendiri, Pokemon GO belum siap untuk diluncurkan secara masif. Hasilnya, aplikasi sering nge-bug dan server sering nggak kuat

Servernya down~ via www.telegraph.co.uk

Kamu tentu sering melihat pemain Pokemon GO marah-marah. Alasannya sederhana. Karena memang Pokemon GO sebenarnya masih banyak bug-nya. Hasilnya masih sering terjadi crash pada saat game dijalankan. Entah waktu log-in, saat kamu menangkap Pokemon hingga crash saat kamu tak bisa memutar PokeStop! Disamping itu, server yang belum siap menerima banyak pemain jadi kendala tersendiri. Server sering down dan para pemain jadi emosi sendiri karena nggak bisa main game favoritnya ini.

Meski punya fitur “battery saver”, namun tetap saja aplikasi ini menguras baterai. Dalam jangka waktu lama, ini akan merusak baterai handphone-mu

Boros baterei! via cheatsheet.com

Aplikasi yang satu ini benar-benar menguras baterai dan berpotensi merusaknya jika digunakan dalam waktu lama. Ini ancaman nyata. Memang sih dalam aplikasi Pokemon GO ada fitur “battery saver” yang diharapkan bisa mengurangi pemakaian baterai selama aplikasi berjalan, namun sejujurnya fitur ini belum banyak membantu. Yang sering terjadi malah aplikasinya crash jadi tak stabil saat fitur tersebut diaktifkan. Ini mah malah bikin smartphone-mu cepat rusak.

Masih ada lagi! Klik Halaman Selanjutnya yaah