A Trip Down Memory Lane – Chapter 3: Back to the Place Where We First Met

a trip down memory lane chapter 3

What do you do with a broken heart?
Once the light fades, everything is dark
Way too much whiskey in my blood
I feel my body giving up
Can I hold on for another night?
What do I do with all this time?

(Malibu Night – LANY)

***

[Sabang 16]

Aku terpaku di depan kedai kopi di jalan Sabang itu.

“I just want to go back to the place where we first met,” bisik Thomas. Dia menggandengku dan membawaku menuju pintu masuk.

Langkahku terasa berat ketika aku terpaksa mengikuti Thomas. So, Mas, game on?

Aku mendengkus ketika Thomas mengambil tempat di sudut. Itu adalah meja yang sama dengan yang kutempati, lima tahun lalu, di pagi hari seperti ini juga.

“Seperti biasa?”

Thomas sudah mengangkat tangan untuk memanggil pelayan ketika aku menghentikannya.

“Kenapa? Jangan bilang kamu juga enggak suka srikaya,” tebaknya. Ada nada sinis di balik sindiran itu.

Aceh Gayo dan roti panggang srikaya. Itu menu sarapan favorit Thomas. Dia enggak pernah memesan yang lain setiap kali kami mencuri waktu untuk sarapan di sini, sebelum Thomas harus mengejar meeting di kantor, dan aku berkutat dengan terjemahan yang makin diburu deadline.

Sama sepertinya, aku juga punya pesanan yang selalu sama. Hot cappuccino dan roti panggang srikaya.

“Andalan Sabang 16 tuh ya srikaya. Kalau ke sini enggak makan srikaya, sama kayak ke Palembang enggak makan pempek, atau ke Bandung enggak makan batagor Riri,” ujar Thomas, ketika kami mengunjungi tempat ini, lima tahun lalu. Tepatnya, di kencan ketiga. Kencan terakhir sebelum akhirnya Thomas menyatakan perasaan dan kami resmi menjadi pasangan.

“Aku suka srikaya, tapi pagi ini aku lagi enggak mau makan apa pun. English Breakfast cukup,” sahutku.

Thomas menatapku dengan mata menyipit, sebelum berpaling kepada pelayan yang menunggu di dekat meja.

“Aceh Gayo, English Breakfast, dan roti panggang srikaya dua.” Thomas menyebutkan pesanan.

Sekali lagi, aku mendengkus ketika Thomas mengabaikan kata-kataku.

“Aku lapar, Sha. Makanya pesan dua,” ujarnya, ketika pelayan meninggalkan kami. “Kalau kamu mau, nanti pesan lagi aja buatmu.”

Aku tahu itu cuma alasan.

Berada di kedai kopi ini, selalu memesan menu yang sama, sudah menjadi kebiasaan. Rasanya ada yang hilang ketika kebiasaan itu dihentikan begitu saja. Itu yang kurasakan ketika di hadapanku cuma ada secangkir teh dengan asap mengepul.

Sarapan di Sabang 16 | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Aku melirik ke arah Thomas. Secangkir kopi dan roti panggang srikaya. Dia masih mempertahankan kebiasaan itu, sementara aku berupaya untuk lepas dari kebiasaan yang hanya membelenggu untuk tetap diam di tempat.

Inilah hubunganku dan Thomas. Hubungan yang terjalin selama lima tahun, membuat kehadirannya menjadi sebuah hal yang biasa dalam hidupku.

Thomas dan Sasha.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Eks jurnalis dan sekarang menjadi content development di salah satu aplikasi. Mulai menulis di Wattpad sejak 2017 dan beberapa karya bisa dibaca di platform menulis online atau buku. Hubungi di @revelrebel_ (instagram) dan www.revelrebel.id

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi