Kalau di Cina ada daerah yang dipenuhi oleh cewek dan cowok hidup bahagia di desa itu, maka ada pula desa yang dipenuhi cewek, tapi cowok diharamkan untuk masuk ke desa tersebut. Waduh! Desa yang melarang cowok untuk tinggal di sana adalah desa Umoja, daerah kecil yang terletak di Kenya, Afrika. Mungkin desa di Cina itu bakal jadi desa impian hampir semua cowok. Tapi, bagaimana dengan desa Umoja?

Ternyata, desa Umoja ini memiliki sejarah panjang nan kelam yang belum banyak orang tahu. Orang cuma tahu bahwa desa ini melarang cowok untuk tinggal di sini. Diskriminasi kaum Adam? Bukan! Sebelum berkomentar miring, cobalah untuk memahami sejarah desa tanpa cowok ini.

Sebelumnya, desa yang mayoritas berasal dari suku Samburu ini punya masalah. Tradisi pemerkosaan yang jadi momok bagi setiap gadis

Suku Samburu masa lalu. via www.beforethey.com

Jauh sebelum desa Umoja terbentuk, suku Samburu memiliki tradisi aneh yang sebenarnya sangat membahayakan. Terlebih bagi anak gadis di bawah umur yang udah mengalami pubertas. Suku ini menghalalkan tindakan pemerkosaan oleh cowok sebagai jalan untuk menikahi seorang cewek. Lebih parahnya lagi, mereka nggak peduli dengan hubungan antar keluarga.

Dalam tradisi ini, cowok harus mendekati orangtua si cewek untuk memberikan kalung sebagai tanda ‘pengesahan’. Artinya, ketika cewek telah memakai kalung Merah Samburu di lehernya, dia berhak untuk diperkosa oleh cowok yang memberikan kalung pada orangtuanya. Akibatnya, kalung Merah ini selalu menjadi momok bagi setiap gadis. Nah, dari sinilah para kaum Hawa mulai khawatir dengan kondisi seperti ini. Kehamilan di bawah umur pun menjadi lumrah bagi anak-anak gadis mereka.

Tragedi pemerkosaan dan kekerasan oleh tentara Inggris membuat Rebecca Lolosoli mendirikan desa Umoja.

Advertisement

Rebecca Lolosoli. via ilakkiyainfo.com

Ternyata, tradisi pemerkosaan suku Samburu ini berujung pada tindak kekerasan seksual yang lainnya, seperti kawin paksa dan sunat bagi cewek. Sebagai seorang yang telah akrab dengan tindak kekerasan seperti ini, Rebecca Lolosoli telah memikirkan bagaimana caranya keluar dari belenggu yang udah dia saksikan sejak kecil.

Belum lagi, masuknya tentara Inggris yang menyerang fisik dan psikologi kaum Hawa di suku Samburu. Mereka memerkosa seluruh wanita dan gadis-gadis di desanya, bahkan nggak jarang mereka pun dipukuli secara beringas.

Umoja berarti ‘persatuan’. Persatuan wanita yang telah mengalami tragedi, melanjutkan hidup dengan menentang para pria!

Bersatulah, wanita-wanita Samburu! via blackgirllonghair.com

Pada tahun 1990, Rebecca bersama 16 orang wanita lainnya yang senasib, membangun sebuah desa yang terletak nggak jauh dari padang rumput Samburu. Umoja yang berasal dari bahasa Swahili berarti ‘persatuan’, merupakan bentuk nyata perlindungan dan bentuk penolakan atas semua jenis cowok yang ada di muka bumi. Di padang rumput yang gersang dan sunyi ini, wanita-wanita tangguh inilah yang merintis kehidupan baru, tanpa perlu ada lelaki manapun yang bisa merusak masa depan mereka.

Perjuangan Rebecca dan wanita lainnya akhirnya membuat Kenyan Wildlife Services pun mengakui keberadaan desa Umoja

Perjuangan belum selesai! via www.carbonated.tv

Ternyata, membangun sebuah desa yang mandiri nggak semudah yang dibayangkan. Banyak pihak yang iri dan kesal dengan prestasi para wanita di desa ini. Dari tahun 1990 hingga sampai saat ini, para wanita di desa Umoja berusaha menghidupi diri mereka dengan berbagai cara. Dari membuka counter HP, hingga membuat berbagai kerajinan yang dijajakan untuk para turis yang berkunjung. Sebagai catatan, banyak turis yang berkunjung ke desa ini karena tertarik dengan ideologi yang Rebecca tanamkan sejak tahun 1990 itu.

Setalah banyak turis yang berkunjung, nggak sedikit warga kampung sebelah yang iri dan kesal dengan kesuksesan masyarakat Umoja dalam berjuang. Para penentang ini kebanyakan dari kaum Adam, memblokir jalanan menuju ke desa Umoja.

Beberapa orang dari desa terdekat memblokir jalan masuk ke desa kami agar tak ada wisatawan yang dapat mengunjungi kamiBahkan setelah itu sekitar 30 prajurit ikut mengusir wisatawan yang bermaksud mendatangi desa kami dan membuat seolah desa kami merupakan desa yang tak layak dikunjungi. – Rebecca Lolosoli.

Perjuangan belum selesai. Mereka akhirnya menabung untuk membeli beberapa meter tanah untuk membuka jalan untuk akses para turis menuju ke desa Umoja. Perjuangan ini diapresiasi oleh pemerintah Kenya dengan memberikan penghargaan Kenyan Wildlife Services. Selain itu, Rebecca mendapatkan penghargaan individu berupa Global Leadership Award dari Vital Voices, sebuah organisasi nirlaba lainnya yang berfokus pada kaum wanita dan hak asasi manusia.

Wanita di desa Umoja ini masih menyukai pria. Tapi bukan dalam sebuah ikatan pernikahan atau sebagainya

Anak-anak adalah segalanya! via www.grandamericanfishrodeo.com

Satu hal yang unik dari desa Umoja ini adalah, ternyata mereka masih menyukai cowok! Dikutip dari Guardian, masyarakat Umoja ini masih menyukai cowok tapi nggak mengizinkan cowok untuk masuk dan tinggal ke desa mereka.

Kami masih menyukai pria. Mereka memang tak diijinkan tinggal disini. Namun kami ingin bayi dan wanita boleh memiliki anak meski tak menikah.

Menurut mereka, semua wanita di desa ini bisa hidup tanpa lelaki, tapi nggak bisa hidup tanpa anak-anak. Anak-anak inilah yang nantinya dididik sedemikian rupa, sehingga bisa menjadi generasi penerus yang mengerti berbagai hal, termasuk edukasi seputar seks.

Itulah desa Umoja, desa di bagian Kenya yang kini menjadi contoh kawasan bagi desa lain untuk bisa mandiri dengan caranya sendiri. Nggak ada cowok, nggak masalah!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!