Derita Zaman SD, Inilah Hal-Hal yang Dulu Bikin Kita Dianggap sebagai Anak Cupu oleh Teman Lainnya

Derita anak cupu

Pertemanan usia bocah ala anak-anak SD memang selalu penuh dengan lika-liku kekonyolan. Kamu pun pasti juga pernah mengalami masa-masa lucu itu. Uniknya, hal tersebut begitu membekas di dalam ingatan sampai kita berumur dewasa dan bahkan beranjak tua. Salah satunya yang begitu konyol adalah anggapan bahwa kita adalah anak manja, anak cupu, dan anak mama, yang dilontarkan oleh teman lainnya cuma karena beberapa hal sepele.

Advertisement

Iya, saking sepelenya terkadang pas kita dewasa jadi mikir-mikir lagi. Kenapa sih, ya, kok hal kayak gitu aja dijadikan patokan buat ngatain kita seperti anggapan-anggapan di atas tadi. Padahal, kan, aslinya juga nggak masalah dan biasa aja. Coba diingat lagi, kamu pasti pernah merasakan derita lucu bin kocak seperti ulasan di bawah ini~

1. Berangkat ke sekolah sisiran rambutnya rapi banget, pokoknya klimis maksimal. Ini pasti anak mama!

Gaya rambut kalau nggak pendek, ya, rapi~ via lokadata.id

Parameter pertama yang biasanya digunakan anak-anak lain untuk ngatain temennya sebagai anak mama biasanya adalah masalah yang satu ini. Sering banget, kan, dari rumah kita disisirin rapi banget sama emak sampai bener-bener klimis. Lengkap sama minyak rambut dan wewangian pokoknya. Ternyata, bagi anak-anak seusia itu, hal jadi perkara yang hina, Guys! Apalagi kalau rambutmu punya model belah pinggir. Aduh, jangan harap deh bisa satu geng sama para pengacau sekolahan. ๐Ÿ™

2. Selalu bawa bekal tiap hari juga dianggap sebagai anak cupu. Padahal, kan, ini demi menghemat duit jajan ๐Ÿ™

Mau ngirit malah dicap anak cupu. via www.tribunnews.com

Namanya orang tua, kan, pasti ingin punya perhatian lebih ke anak-anaknya. Makanya nggak heran kalau setiap berangkat sekolah kita selalu dibawakan bekal dari rumah. Isinya lengkap banget, mulai dari nasi, sayur-sayuran, ayam goreng, dan juga nugget dengan bentuk yang lucu-lucu. Saking dulu nggak mau dianggap cupu gara-gara bawa bekal, kita pasti makannya sembunyi-sembunyi. Giliran udah besar malah baru tahu nikmatnya bawa bekal dari rumah. Hmmm~

Advertisement

3. Nggak pernah mau diajakin main blusukan ala bolang. Ya, gimana orang emang nggak suka!

Sahabat cari ikan di sungai, via kampoengilmoe.wordpress.com

Kalau permasalahan yang satu ini memang agak berat sih. Soalnya, anggota geng anak-anak yang hobinya main blusukan ke kebun, sungai, dan semacamnya itu lebih banyak daripada bocah-bocah yang kerjaannya cuma anteng di rumah. Tapi mau gimana lagi, namanya kesukaan orang, kan, beda-beda, kalau memang nggak suka, masa dipaksakan?! Siapa tahu mau anteng di rumah karena harus bantuin emaknya bekerja kecil-kecilan. Iya, kan? Bocil-bocil harus dikasih pemahaman nih kalau kayak begini. ๐Ÿ™

4. Pulang sekolah ditungguin dan dijemput sama emak di depan gerbang sekolah

Ilustrasi nungguin jemputan pulang sekolah. via tribratatangkab.com

Hayo, siapa nih yang dulu sering banget merasakan momen-momen ini, ngaku!? Nggak perlu didebat lagi, diantar ke sekolah dan dijemput saat jam pulang sama orang tua di zaman SD itu merupakan kebahagiaan tersendiri. Tapi bagi anak-anak โ€˜pemberaniโ€™, lagi-lagi hal ini dianggap sebagai tanda seberapa cupunya kamu. Apalagi kalau pas momen dicium keningnya dilihatin sama anak-anak lain, langsung deh dipastikan bakal menyebar kalau kamu anak mama banget. Namanya juga masih SD, masa kalau jarak dari rumahnya sampai ke sekolah jauh harus jalan sendirian. Kalau diculik om-om naik Jeep gimana coba?

5. Ngancem bakal ngomongin ke emak kalau dinakalin temen lainnya. Makanya jangan pada suka usil dong!

Advertisement

Cie marah-marahan~ via video.sportnk.ru

Nah, kalau yang satu ini sih kayaknya memang sedikit pantas jika dimasukkan ke dalam kategori anak cupu. Apalagi kalau dia yang memulai keributan, giliran diladenin langsung teriak dan bilang bakal diaduin ke ayah atau emaknya. Yeee, kocak! Situ yang bikin ribut, tapi situ juga yang mau ngadu. Bocil-bocil modelan begini nih pasti gedenya jadi tukang cepu. ๐Ÿ™

Mau gimanapun juga, namanya ya pikiran anak-anak kecil. Terkadang setelah dewasa kita malah rindu dengan hal-hal yang dulu saat kecil jadi indikator kecupuan tersebut. Iya nggak sih?

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE