Sempat viral karena identitas aslinya nggak diketahui, nama Lucinta Luna mungkin kini sudah dianggap sebagai “angin lalu” bagi masyarakat. Dirinya yang mengaku sebagai perempuan tulen—tapi beberapa bukti menunjukkan kalau dia dulunya adalah laki-laki dan kini menjadi transgender—menjadi perhatian publik selama beberapa waktu. Mereka penasaran dengan identitas asli dari seorang Lucinta Luna. Namun pada akhirnya, masyarakat merasa “bodo amat” dan menganggap itu hanya sensasi belaka demi menaikkan nama Lucinta Luna.

Tapi sepertinya, Lucinta tetap berusaha untuk tetap terkenal dan mendulang popularitas. Sadar kalau di Indonesia namanya nggak lagi populer (alias nggak ada yang peduli), Lucinta pun mencoba mencari “khalayak” baru di negeri tetangga, Malaysia. Dia mengeluarkan sebuah single dan langsung menjadi pembicaraan hangat di sana.

Seminggu lalu, Lucinta Luna bersama artis asal Malaysia, Dato Aliff Syukri dan Nur Sajat, mengeluarkan single terbaru yang berjudul “Bobo Dimana”

trending nomor 1 via www.instagram.com

Advertisement

Sekitar satu minggu lalu, sebuah video klip lagu berjudul “Bobo Dimana” (baku: bobok di mana) dirilis oleh channel YouTube “TV Terlajak Laris”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh artis asal Malaysia, Dato Aliff Syukri dan Nur Sajat, serta Lucinta Luna. Hanya butuh waktu tiga hari, video ini mendapat lebih dari 3 juta viewers. Bahkan dalam waktu seminggu, video klip ini ditonton lebih dari 5 juta kali. Tapi sayang, bukannya mendapat like yang sebanding, video ini justru mendulang dislike lebih dari 300 ribu orang.

Meski mendulang viewers, jutaan hanya dalam waktu singkat, tapi ternyata video ini mendapatkan penolakan dan protes dari sebagian masyarakat Malaysia

diprotes di Malaysia via twitter.com

Ternyata, lagu satu ini mendapatkan penolakan di masyarakat Malaysia, terutama di media sosial. Beberapa figur publik Malaysia bahkan terang-terangan untuk mengkritik video ini. Hal ini bukan lain lantaran kehadiran Lucinta Luna dan Nur Sajat yang dianggap mempromosikan LGBT. Ternyata nggak cuma di Indonesia, masyarakat Malaysia juga percaya bahwa Lucinta Luna dan Nur Sajat merupakan transgender. Apalagi goyangan dalam video ini dianggap sebagai pornoaksi karena menggoyangkan bagian dada. Oleh karena itulah, ribuan orang me-report video klip lagu ini sebagai sexsual content dan berharap pihak YouTube menghapus video ini dari platform tersebut.

Bukan hanya di media sosial lain, di kolom komentar video klip lagu ini juga terdapat banyak omongan yang membahas masalah identitas dua wanita di dalam vidoe ini

komentar di video klip via www.youtube.com

Nggak cuma di Twitter, Facebook, atau pun Instagram, video klip tersebut juga dibanjiri komentar (namun kini sepertinya banyak dihapus/dibatasi). Komentar-komentar tersebut berisikan tentang identitas dua cewek yang ada dalam video tersebut. Masyarakat percaya bahwa keduanya merupakan laki-laki tulen. Oleh sebab itulah, ketiga orang ini dianggap sebagai ‘boyband’ terbaru Malaysia.

Tapi bagi Lucinta, kritikan atau penolakan tersebut justru adalah “batu loncatan” sehingga dia makin terkenal

Advertisement

Bagaiman pun kritikan tentang lagu “Bobo Dimana” ini, hal tersebut justru dimanfaatkan oleh Lucinta Luna sebagai “batu loncatan”. Dia sudah pasti terkenal dengan kritikan di mana-mana. Meskipun kritikan yang dia terima bersifat negatif, tapi sepertinya dia nggak peduli. Karena yang terpenting adalah namanya menjadi bahan perbincangan orang banyak.

Lucunya, ada sebuah kritikan yang dilontarkan oleh salah satu figur publik Malaysia dengan akun @capriceofficial, yang menyatakan dia nggak ingin menonton video klip tersebut karena hanya menambah views dan menguntungkan mereka, bahkan dia heran kenapa masih banyak yang menonton padahal itu adalah “sh*t“. Tapi bagi Lucinta itu justru pujian baginya dan membuat lagunya semakin terkenal. Sampai-sampai banyak warganet yang emosi karena Lucinta dianggap nggak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Caprice ini.

Ya, namanya juga mencari popularitas, salah satu cara paling cepat, ya, dengan cara ini. Tapi hal ini tentu juga hanya bertahan sebentar. Karena sesuatu yang dibutuhkan masyarakat bukanlah sensasi, melainkan prestasi. Padahal kalau dari segi musiknya, bisa dibilang easy listening dan gampang terngiang-ngiang di pikiran. Tapi, ya, kembali lagi ke hal tadi. Bumbu-bumbu sensasi akan menghilangkan itu semua.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya