Sejak munculnya aplikasi ojek online, berbagai drama di dalamnya memang selalu menyita perhatian masyarakat. Ditambah lagi, dengan banyaknya orang yang semakin refleks buat mengabadikan semua peristiwa, semakin memungkinkan kejadian yang sebenarnya bukan konsumsi umum, dinikmati seluruh masyarakat karena adanya mata kamera.

Seorang perempuan pelanggan ojol seketika jadi bulan-bulanan warganet setelah adegannya yang tampak menampar seorang driver yang sebelumnya berniat melontarkan bercandaan. Kali ini tim Hipwee Hiburan nggak akan mencari penghakiman tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun, berdasarkan nilai dan moral, tentu tindakan keduanya nggak dibenarkan. Simak uraian berikut, ya!

Adegan cekcok dan penamparan seorang perempuan terhadap driver ojol beredar di berbagai akun media sosial. Warganet pun geram dan memberikan banyak penilaian

View this post on Instagram

ada yg tau kronologinya?

A post shared by NEWDRAMAOJOL.ID (@newdramaojol.id) on

Advertisement

Video yang beredar di media sosial menunjukkan seorang perempuan berbaju putih tampak marah-marah terhadap salah satu driver ojol. Meski begitu, driver tampak hanya terdiam dan nggak membalas kemarahan pelanggannya. Namun nggak lama kemudian, perempuan berbaju putih tersebut menampar sang driver. Menurut kronologi yang beredar di kolom komentar, awalnya driver menunggu pelanggan di titik jemput. Lalu pelanggan mengatakan pada driver untuk menunggunya sebentar karena ada barang yang harus dia bawa. Namun kemudian driver justru membuat bercandaan yang seolah bernada menyindir, “Masih lama nggak, Bu, kalau lama, tolong saya bikinkan kopi sekalian.”

Mungkin niatnya hanya bercanda, namun kalau dilontarkan di waktu yang salah ke orang yang nggak tepat, bisa bikin tersinggung

Bercandaan ojol (gambar hanya ilustrasi). via www.digination.id

Bercanda atau guyonan memang sebuah hal yang tampak sangat ringan dan ditujukan buat hiburan semata. Namun sayangnya, ketika ada seseorang yang nggak bisa menerima jokes tersebut, akibatnya bisa fatal. Mulai dari tersinggung hingga menganggap bercandaannya sebagai sindiran atau pelecehan.

Advertisement

Bisa jadi, pelanggan memang sedang mengalami hari yang cukup berat dan melelahkan, sehingga dia menganggap bahwa sindiran tersebut mengarah pada pelecehan. Lawakan memang kerap kali menampilkan dua ujung tombak antara hiburan atau pelecehan. Nah, jika ini dikaitkan dengan profesi layaknya driver ojol dan pelanggan, alangkah baiknya kalau bercandaan bernada seperti yang ada di kasus ini sangat hati-hati dilontarkan.

Namun nggak bijak juga marah-marah sampai menampar driver ojol. Meski pelanggan adalah raja, namun hal ini tetap bisa dibicarakan baik-baik

Pelanggan dan ojol (ilustrasi). via telset.id

Adegan marah-marah belakangan ini memang selalu berhasil menyulut kemarahan warganet. Seseorang yang berbicara dengan nada tinggi dan kasar seolah memang nggak dibenarkan lagi menurut nilai dan norma di masyarakat. Apalagi yang terjadi, cekcok tersebut berujung dengan adegan kekerasan fisik yaitu penamparan. Kalau penamparan tersebut nggak menimbulkan kerugian fisik pun, tetap saja kekerasan bukanlah sebuah tindakan yang pas dalam menyalurkan amarah. Bahkan kekerasan bisa mengarah pada tindak pidana dan hukum nggak akan memandang gender juga lo.

Sayangnya kedua pihak tampaknya belum bisa berdamai karena pelanggan merasa dia nggak perlu meminta maaf. Klarifikasinya pun malah mengundang tanya bagi warganet

Klarifikasi dari pelanggan ojol. via www.instagram.com

Melalui sebuah Instastory, pelanggan yang ada dalam video tersebut memberikan klarifikasi dan kronologi bagaimana kejadian tersebut bisa terjadi dan berujung viral. Dia merasa marah karena memang nggak bisa menerima bercandaan yang cukup kelewatan, dia juga kemudian mengatakan kalau driver ojol menyampaikan hal tersebut menggunakan bahasa Jawa kasar, sehingga langsung menyulut emosinya. Namun secara gamblang, pelanggan itu menyatakan bahwa dia nggak mau minta maaf karena merasa nggak bersalah.

Penilaian yang beragam muncul di kolom komentar warganet, banyak yang menilai bahwa dia harus tetap minta maaf atas tindakan kekerasan yang dia perbuat. Di sisi lain, ada yang menyangka bahwa kemarahannya bersifat wajar, namun nggak seharusnya marah dan emosi berlebihan karena bisa memberikan sangsi yang lebih bijak, seperti menegur hingga memberikan bintang satu di kolom penilaian ojol.

Sebenarnya suatu masalah memang nggak bisa serta merta ditentukan siapa yang sepenuhnya bersalah dan siapa yang sepenuhnya benar. Lapang dada dari dua belah pihak sangat dibutuhkan untuk mencapai kesepakatan damai. Karena kita juga tetap manusia yang nggak luput dari kesalahan dan ketidaksengajaan. Dan sebagai pembelajaran, lain kali kalau mau bercanda, coba lihat situasi, kondisi, dan lawan bicara, ya! 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya