The Power of Kepepet; Rasanya Ngisi KRS Online di Balai Desa sambil Ditemani Kuntilanak

Ditemani hantu kuntilanak

*Kamis Mistis kembali menyapamu kali ini dengan cerita mistis, tapi sedikit berbalut komedi.  Alih-alih lari karena melihat tak kasat, sosok ini malah tetap diam di tempat demi mengejar deadline. Wah, nyalinya besar juga, ya~

Dalam hidup, kita punya jatah untuk melakukan hal gila yang sebelumnya mungkin nggak pernah mampir di otak sama sekali. Terkadang, ada situasi-situasi unik yang bisa jadi membuat kita bertindak nekat. Mengabaikan kehadiran makhluk gaib karena ada hal lain yang lebih mendesak, misalnya. Kegilaan ini, bahkan bikin orang yang melakukannya pun ikut bertanya-tanya, “Kok berani banget aku begitu?”

Jadi, cerita nyata ini dialami oleh Arga, panggilannya sehari-hari. Jauh sebelum pandemi, Arga masih disibukkan kuliah tatap muka. Setelah menjalani kegiatan perkuliahan tiap semester, ia akan pulang ke kampung halaman yang cukup terpencil. Setidaknya, butuh waktu 8 jam perjalanan dengan naik bis dari Kota Malang.

Nah, letak rumahnya yang jauh dari keramaian membuatnya harus tinggal dengan minim sinyal. Demi mendapatkan jaringan internet, tak jarang ia mengunjungi balai desa yang menyediakan akses internet gratis. Saat musim pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) online tiba, ia selalu melipir ke sana. Tak seperti biasa, hari itu Arga benar-benar lupa jadwal pengisian KRS. Jika saja teman kuliahnya nggak bertanya “Kon milih kelas opo ae?” (Kamu milih kelas apa aja?), Arga akan lupa sampai keesokan harinya.

Sudah melewatkan jadwal pengisian KRS online, Arga langsung bergegas ke balai desa membawa laptop

Pengisian KRS sudah dibuka sejak siang pukul 12.00 WIB. Namun, apesnya, Arga baru ingat sekitar pukul 17.00 WIB ketika menjelang malam. Sehabis mandi, ia langsung menyiapkan laptop dan memacu motor. Kalau semakin lama, ia tidak akan mendapatkan kelas. Maklum, jadwal kelas di jurusan kuliahnya memang dipilih sendiri oleh mahasiswa. Siapa paling cepat mengisi KRS dan memilih kelas, otomatis akan dapat dapat jadwal kuliah yang sesuai harapan; bukan kelas pagi atau nggak dapat kelas dosen killer.

“Kalau begini percuma udah milih jadwal kelas mana aja dari seminggu lalu. Huh….” Arga menggerutu sepanjang jalan dari rumah ke balai desa.

Sesampaianya di balai desa, Arga memarkirkan motor. Ia menuju aula terbuka dan duduk di salah satu kursi plastik yang ada. Tepat saat ia membuka laptop, suara azan berkumandang. Tanpa pikir panjang, Arga mengisi KRS online. Merasa tegang lantaran diburu waktu, ia memilih untuk fokus dengan layar laptopnya.

Sebelum-sebelumnya ia sudah biasa sendirian mencari jaringan internet gratis di balai desa, bahkan sampai larut malam. Hari itu, ia pun merencanakan hal yang sama.

Sepertinya, ada orang yang mengamatiku dari jauh | Photo by Humpelfinkel on Pixabay

Bau melati yang wangi mengusik Arga yang tengah sibuk memilih jadwal kuliah

Semula, semuanya masih berjalan normal. Arga masih terus memilih jadwal yang cocok. Terlambat mengisi KRS artinya ia harus mengotak-atik pilihan kelasnya agar dapat jadwal kuliah yang enak. Di saat matanya fokus menghadap laptop, terdengar suara angin berhembus pelan.

Wussss…

Arga terdiam. Suasana hening. Suara ketukan jarinya di keyboard berhenti.

Bersamaan dengan angin yang berhembus sekali itu, ia mencium aroma melati yang sangat kuat. Ia menoleh ke arah datangnya angin, dari halaman kiri balai desa yang bersebalahan dengan parkiran dan gudang. Tidak ada bunga melati, gumamnya. Setelah mengedarkan pandangan, ia tak menemukan tanaman melati yang mungkin menguarkan bau yang wangi tadi. Ia ingat-ingat lagi, memang tidak ada tanaman itu di balai desa.

Wussss…

Angin berhembus lagi. Sama seperti sebelumnya, hanya sekali dan beraroma melati. Mulai merasakan tanda-tanda keanehan, Arga mulai ketakutan. Namun, ia tetap duduk di kursinya, tak berkutik sekali pun.

Semakin lama, aroma melati semakin ‘menusuk’ hidung. Arga merasakan seseorang mengamatinya dari sebuah pohon

Selama hampir 10 menit, Arga terdiam. Tubuhnya kaku dan pikirannya kalut. Berkali-kali ia menelan ludah. Sementara itu, aroma melati justru semakin menjadi-jadi. Saat tak ada hembusan angin pun, aromanya sangat menusuk hidung.

Arga yang sedari awal ingin menoleh ke satu pohon di dekat parkiran pun memberanikan diri. Tanpa beranjak sejengkal dari tempatnya, Arga menoleh dan memperhatikan pohon asam yang cukup tinggi dan rimbun. “Ngapain sih menanam pohon asam di sini?” pikir Arga kesal sekaligus takut. Seperti cerita yang beredar, pohon asam jadi salah satu ‘rumah’ yang disukai makhluk halus.

“Nggak ada apa-apa,” kata Arga, nyaris seperti bisikan.

Setelah memastikan tidak ada apa-apa di pohon itu, Arga merasa tenang. Meski aroma melati masih menyengat, ia terus kembali menatap layar laptop untuk menyelesaikan KRS. Arga pikir bisa bertahan sedikit lagi karena tinggal jadwal tiga mata kuliah yang perlu dipilih.

Akan tetapi, belum ada semenit fokus memilih jadwal kuliah, Arga merasa nggak tenang. Seakan ada orang yang sedang melihatnya dari kejauhan. Dengan rasa takut bercampur penasaran, Arga kembali menoleh ke pohon asam dan….

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini