Gudang Warisan Bapak: Chapter 4

gudang warisan bapak chapter 4

Sore ini aku berencana memandikan bapak. Sudah kusiapkan air hangat dan lap bersih, tapi berkali-kali kuketuk pintu kamarnya, bapak tetap tidak mau keluar. Sempat juga ku dengar suara yang sangat ribut di dalam kamar bapak. Suara yang sama seperti saat pertama kuketuk pintu itu kemarin. Aku yang khawatir mencoba mendobrak, tapi usahaku sia-sia. Pintu itu tak mau terbuka. Malah kudengar bapak menggedornya dengan keras dari dalam, seolah memintaku untuk tidak menganggunya lagi. Air hangat terlanjur dingin dan niatku pun terlanjur luruh. 

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah menyiapkan makan malam bapak. Kusajikan di atas nampan, lalu kuletakkan di atas meja kecil, di depan pintu kamar. Dengan begitu, aku tidak perlu lagi mengganggu bapak dan bapak tidak perlu menggangguku nanti malam.

Aku lelah. Belum seminggu tinggal di sini rasanya sudah ingin menyerah. Entah lelah ini murni perasaanku atau aku sedikit terpengaruh cerita Kak Rohim dan Kak Sabit tadi siang. Yang jelas, sekarang aku jadi semakin mengerti apa yang dirasakan kakak-kakakku selama merawat bapak. Letih badan, letih pikiran.

***

Malam pun datang. Di tempat ini satu hari rasanya lama sekali. Tak ada kegiatan yang bisa kukerjakan, tak ada hiburan untuk membunuh kebosanan. Rumah ini terlanjur kotor dan tidak mungkin kubersihkan menyeluruh dalam satu atau dua hari. Lagipula itu bukan tugasku. Sejak sore sampai sekarang, aku hanya rebahan di kamar, duduk di ruang tamu, terus bergantian sampai aku benar-benar bosan.

Membayangkan masa kecil/ Illustration by Hipwee

Terpikir untuk pergi mengunjungi sahabat lama, teman-teman bermainku ketika kecil dulu. Sayangnya sudah lama kami hilang kontak. Kalau pun ketemu, mungkin sekarang mereka sudah berkeluarga. Tak akan sempat main dan mengobrol. Mengobrol pun, aku berani bertaruh, mereka tidak akan seasyik dulu. Bukan bermaksud menghakimi. Aku juga bukan Zara yang dulu. Kami hidup di jalan yang berbeda, bertemu dengan orang-orang yang berbeda, ditempa oleh lingkungan yang juga berbeda. Itulah sebabnya acara reuni sekolah sering kali berakhir canggung dan tidak menyenangkan. 

Terbuai oleh lamunan yang semakin larut malah semakin ke mana-mana, akhirnya aku pun mengantuk. Kubawa selimut dan bantalku ke dalam kamar. Tak lupa kukunci pintu rumah dan juga pintu kamar. Malam ini aku ingin tidur dengan tenang. Segala masalah yang terjadi di sini harus kutinggalkan di sini pula. Pulang ke kota nanti aku tak ingin membawa beban pikiran karena hampir semua ruang di kepalaku telah terisi oleh skripsi dan revisi.

***

“ZARA!”

Aku terkesiap, terjaga karena mimpi yang benar-benar buruk. Aku tahu kamarku minim ventilasi, tapi itu bukan alasan tubuhku penuh keringat seperti ini. Aku bermimpi sesuatu yang buruk telah terjadi pada bapak. Sekarang, tanganku rasanya masih lemas dan sedikit gemetar. Kuusap wajah dengan kedua tangan, lalu menarik napas dalam-dalam. Yang pertama muncul di pikiranku saat ini adalah bapak. Cepat aku turun dari tempat tidur, membuka pintu, lalu bergegas pergi ke dapur.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis novel Midnight Restaurant, Midnight Hospital, Post Meridiem dan Timur Trilogi.

CLOSE