Gudang Warisan Bapak: Chapter 5

gudang warisan bapak chapter 5

Tamu datang silih berganti. Para saudara, kerabat jauh, tetangga, semua memberikan belasungkawa atas meninggalnya bapak. Entah hanya perasaanku saja, tapi ada beberapa yang tampak tak ikhlas mengucapkannya. Sebagian orang itu adalah tetangga dekat. Bisa kuasumsikan, merekalah yang sempat diganggu bapak selama sakit. Kalau memang begitu, maka aku maklum.

Kak Sabit sempat menyinggung masalah utang dan piutang bapak. Bila ada yang belum terbayar, silakan ditagih, bila ada yang belum membayar, mohon kesadarannya. Begitu kira-kira inti perkataan Kak Sabit pada para pelayat, dan seperti dugaanku, yang datang menagih jauh lebih banyak dari yang membayar. Sayangnya kami tidak  punya catatan yang jelas tentang siapa saja orang yang pernah meminjam uang pada bapak. Walau berat, tapi kami mencoba ikhlas. Sebagian orang lebih suka membawa utangnya ke dalam kubur dan membayarnya di akhirat.

Aku pergi menyuguhkan kopi untuk bapak-bapak yang sedang mengobrol di luar. Saat hendak kembali ke dalam, seseorang menghampiriku.

“Zara.”

Orang itu adalah Pak Sukril. Beliau yang membantu membawa jenazah bapak ke pemakaman dan juga mengumumkan kabar meninggalnya bapak di masjid. 

  “Zara kapan balik ke kota?” tanya Pak Sukril.

“Nanti malam, Pak.”

“Lo, nggak besok aja? Atau nunggu tujuh harinya bapakmu saja?”

Aku menggeleng. Mungkin saat ini Pak Sukril berpikir buruk tentangku. Mungkin aku dianggap anak yang kurang ajar karena pergi di saat keluarganya sedang tertimpa musibah. Namun, aku tidak peduli. Setelah kejadian tadi malam, aku tak ada niat lagi bermalam di rumah ini.

“Ada rencana kembali ke sini habis lulus nanti?”

“Nggak ada, Pak. Saya mau kerja di sana, kebetulan sudah ada tempat yang cocok.”

Alhamdulillah,” ucap Pak Sukril.

Ia melihat sekeliling teras rumah, seolah memastikan percakapan kami tidak didengar orang lain. 

Ternyata…/ Illustration by Hipwee

“Zara yang tabah, ya,” sambung Pak Sukril. “Kamu tahu, kan, saya kenal dekat dengan almarhum bapakmu. Kami sering nongkrong bareng sebelum beliau sakit. Almarhum orang yang baik. Jadi, apapun yang kamu dengar tentang beliau, terutama keburukannya, tolong jangan terlalu dipikirkan.”

Nasihat Pak Sukril ini seolah menjadi lampu hijau. Aku merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya. Aku tidak peduli apakah Pak Sukril adalah orang yang tepat, tapi karena ini adalah hari terakhirku, aku merasa harus tahu semuanya.

“Apa benar bapak saya adalah korban santet, Pak? Kalau iya, dosa apa yang bapak saya lakukan sampai ada orang yang membencinya?”

Dahi Pak Sukril mengerut.

“Siapa yang bilang gitu?” tanyanya.

“Kakakku,” jawabku.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis novel Midnight Restaurant, Midnight Hospital, Post Meridiem dan Timur Trilogi.

CLOSE