Menurut studi audiens yang dilakoni oleh Elihu Katz dan Tamar Liebes, kecenderungan orang Indonesia dalam menonton film adalah menjadikannya referensi langsung dalam kehidupan nyata. Apapun yang ada dalam film berarti harus sama dengan kehidupan nyata, perihal perjuangan hidup, hubungan romantika, hingga seks. Yang disebut terakhir ini agak krusial. Pasalnya, di negara yang masih menabukan perbincangan soal seks di usia dini, satu-satunya gambaran imajinasi kita tentang hubungan seksual ya hanya dari film (kecuali Kamu suka mengintip proses ‘ibadah’ orangtuamu).

Makanya, jika Kamu merasa ada yang berbeda antara kehidupan seksmu dengan yang Kamu saksikan di layar lebar, jangan panik. Kesalahan ada di filmnya. Apalagi kalau yang kamu tonton adalah film Hollywood, termasuk American Pie, Fifty Shades of Grey hingga Twilight.

Ingat, bahwa salah satu fungsi utama film adalah menghibur. Ada unsur dramatisasi yang kadang membuatnya menyimpang dari realitas. Tidak bisa dituduhkan sepenuhnya sih jika tujuan para filmmaker tersebut adalah manipulatif, karena kadang bisa saja itu didasari keterbatasan durasi atau sebagainya. Yang penting kita sudah punya bekal untuk bisa mencerna realitas-realitas film itu dengan bijak. Berikut adalah dusta-dusta sinema dalam membangun adegan-adegan seks dalam layar kaca:

1. Pengalaman perdana selalu berkesan. Pilihannya cuma dua: sukses besar atau gagal total

Fault in Our Stars via www.dailymotion.com

Yang pertama mungkin memang selalu berkesan dan terkenang. Entah pertama kali berhubungan seksual, pertama kali berhubungan seks dengan orang tertentu, atau pertama kehilangan keperawanan. Akan tetapi, kesan pengalaman itu bisa jadi hanya karena melibatkan hubungan emosional yang kuat. Untuk praktik seksnya sendiri kebanyakan hanya akan berjalan awkward, kikuk, canggung, atau biasa-biasa saja. Ya namanya juga masih malu-malu. Sementara dalam film, unsur dramatisasi selalu menyulap tiap kisah pengalaman pertama menjadi ekstrem: “malam terindah” atau “malam terburuk”.

2. Kondom tidak wajib hukumnya

No condom? via whisper.sh

Ini salah satu kebohongan yang berbahaya. Jika apa yang disajikan di film selalu benar, entah sudah seperti apa ledakan jumlah populasi kita. Cermati deh, adegan seks di film alurnya terlalu praktis: bertemu, bertatapan, berciuman, lepas baju, hantam, lalu tiba-tiba selesai begitu saja. Hampir tidak ada adegan berhenti sejenak, berbasa-basi kaku sembari mengenakan kondom.

3. Kalau kondom aja terlupakan, apalagi pelumas

Selain kondom, piranti seks yang sebenarnya umum dipakai namun jarang ditampilkan di film adalah pelumas atau pelicin. Termasuk juga dalam praktik seksual gay (pria dan pria) atau (maaf) anal seks yang faktanya membutuhkan pelumas. Kalaupun eksis di film, fungsinya lebih untuk menunjukan bahwa subjek tokoh adalah seorang maniak seks yang punya fantasi berlebih. Seakan-akan pelumas adalah barang mesum. Padahal Kamu bisa menemukan pelumas banyak dijual di tempat-tempat umum seperti minimarket dan apotik. Kalau nggak canggung sih, coba tanya saja orangtua kita, mereka mungkin juga pernah memakainya… dan biasa saja.

4. Wanita mengalami orgasme secara singkat dan instan

Nobody said it was easy via id.pinterest.com

Menurut sejumlah survei, hanya sebagian persen dari wanita di dunia yang beruntung pernah mengalami klimaks orgasme dalam aktivitas seksualnya. Itu pun perlu melewati stimulan atau metode perangsang lain dalam waktu yang tidak sebentar. Sementara itu, di industri film, sangat lazim adanya adegan penetrasi seks yang hanya dalam beberapa detik langsung menghasilkan orgasme disertai respons raut wajah sang wanita yang ekspresif. Penting untuk diketahui bahwasanya tidak ada yang salah jikalau faktanya lain di kehidupan seksualmu.

5. Laki-laki lebih berhasrat dan mudah terbuai nafsu

Memang iya? via www.sheknows.com

Sebenarnya, film-film masa kini mulai lebih terbuka dengan asumsi kolot ini. Di sinema Hollywood, mulai banyak karakter wanita yang digambarkan menjual sensualitas lebih aktif dibanding pasangannya. Misalkan sosok istri yang lebih genit dan nakal dibanding suaminya. Namun, nggak sedikit juga yang masih menegaskan citra laki-laki sebagai pihak aktif atau “pelaku” dalam tiap hubungan seksual, entah itu pra-nikah atau pasca nikah. Terutama untuk film-film yang sengaja hendak menawarkan unsur komedi atau sisi parodi laki-laki yang berandal dan mesum.

Silahkan klik Halaman Selanjutnya yaa