Jejak yang Tertinggal – [1] Apa Kabar Kamu?

Jejak Yang Tertinggal Kinanti WP

Selama ini Sonya hidup bahagia bersama anak laki-lakinya, Langit. Namun, pertemuannya tak sengajanya dengan sahabat lamanya, Gladys, membuat Sonya harus membuka kembali kenangan pahitnya di masa lalu, serta alasannya kabur dari Jakarta dua tahun lalu.
***

“Sonya?”

Gladys memasang kembali kacamatanya lalu menatap perempuan yang sedang duduk di salah satu sudut kafe. Matanya mengerjap beberapa kali, tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya.

“Kakak, mau pesan apa?” tanya barista yang melayaninya.

“Sebentar. Sepertinya itu teman saya,” ujar Gladys masih sambil menatap ke arah sudut kafe.

Sang barista ikut menilik arah pandang Gladys. Perempuan berambut panjang hitam berombak itu sedang bercengkrama dengan anaknya yang duduk di dalam stroller. Barista itu mengenali Sonya dengan cukup baik. Sebagai orang yang selalu datang ke kafe secara reguler, sudah tentu semua karyawan di tempat itu mengenal Sonya.  

“Kakak temannya Kak Sonya?” tanya barista itu lagi.

“Jadi benar itu Sonya?”

Kali ini Gladys memalingkan wajahnya pada sang barista. Pria muda itu mengangguk.

“Kak Sonya setiap akhir pekan memang selalu ke sini, Kak. Dia supplier cookies untuk kafe ini.”

Keinginan Gladys untuk minum kopi sebelum kembali ke kantor klien mendadak hilang. Perempuan itu meninggalkan sang barista sebelum memesan apa pun, dan berjalan mendekati meja yang berada di sudut.

“Sonya? Kamu benar-benar Sonya?”

Perempuan yang sedari tadi sibuk bercanda dengan bayi yang duduk di stroller kini mengangkat wajahnya dan menatap Gladys. Seperti melihat hantu, mata Sonya membeliak saat menyadari siapa yang ada di hadapannya.

“Sonya!”

Gladys menghambur memeluk Sonya tanpa memedulikan keterkejutan yang nyata di wajahnya.

“Hai, Dys,” ujar Sonya lirih.

“Ya, ampun. Apa kabar kamu? Ya, ampun, aku benar-benar nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi.”

Jejak yang Tertinggal - [1] Apa Kabar Kamu?

Sonya bertemu Gladys | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Sonya tersenyum saat Gladys melepas pelukannya. 

“Kamu apa kabar, Dys? Dalam rangka apa di Batam?”

“Aku baik. Aku ke sini buat visit ke salah satu proyek kantorku.”

Gladys beranjak duduk di hadapan Sonya tanpa melepas genggaman pada tangan sahabatnya yang sudah dua tahun menghilang tanpa kabar. Ada kerinduan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, juga rasa lega yang begitu sulit digambarkan. Sonya yang menghilang bagai ditelan bumi, kini duduk di hadapannya dalam keadaan sehat, dan tak berubah sedikit pun. 

“Itu anakmu?” tanya Gladys sambil menatap pria mungil di dalam stroller.

“I-iya,” jawab Sonya ragu.

“Siapa namanya?”

“Langit,” ujar Sonya.

“Halo, Langit. Kenalin, aku Tante Gladys,” ujar Gladys pada bayi kecil Sonya. “He looks just like you.”

Ada kelegaan di dada Sonya setiap kali orang bilang putranya terlihat seperti dirinya. Mungkin itu memang salah satu keberuntungan yang tersisa dalam hidupnya.

Gladys yang sempat mengusap-usap tangan dan pipi Langit kembali memandangi Sonya. Rasanya sudah terlalu lama mereka tidak duduk di kafe untuk berbagi cerita. Ya, memang sudah terlalu lama.

“Aku kangen banget sama kamu, Nya. Ya, ampun, aku benar-benar masih nggak nyangka.”

Sonya kembali tersenyum.

“Aku juga nggak menyangka akan bisa ketemu kamu lagi,” aku Sonya. 

“Aku dan Angga tuh nyariin kamu berbulan-bulan, sampai nyamperin semua teman-temanmu, juga keluarga kamu, Nya. Angga benar-benar seperti orang yang kehilangan arah saat kamu tiba-tiba menghilang.”

Kali ini Sonya menunduk mendengar cerita Gladys. Ada rasa bersalah yang kembali menghantuinya karena sudah membuat susah semua orang. 

“Nya, kamu nggak pergi karena Angga ngelakuin sesuatu yang buruk ke kamu, kan?”

“Hah?” Sonya terkejut. “Enggak. Aku pergi bukan karena Angga ngelakuin sesuatu. Tapi … aku dan Angga memang nggak mungkin bisa bersatu.”

“Terus, kamu ke mana aja dua tahun ini?”

Sonya tidak langsung menjawab. Dia memalingkan wajah untuk menatap putranya, lalu memperbaiki posisi mainan gantung di stroller agar Langit cukup sibuk dan tidak merasa diabaikan. Namun, dia sadar tak bisa mengelak. Gladys adalah sahabatnya. Mereka kenal cukup lama, sejak masih kuliah dan tinggal di indekos yang sama. Kepergiannya secara mendadak dua tahun lalu, tentu juga berimbas pada Gladys. Tak adil rasanya jika Sonya memilih berbohong.

Gladys ikut menatap Langit yang masih sibuk bermain sendiri di stroller-nya. Sulit bagi Gladys menjadi saksi kegalauan Angga selama berbulan-bulan. Namun, dia mungkin seharusnya bisa sedikit lega karena sahabatnya itu sudah menemukan orang yang menjadi jodohnya, seorang pria yang mungkin lebih baik dari Angga.

“Aku sempat tinggal di Lampung beberapa bulan, lalu pindah ke Bangka, tapi kemudian memilih stay di sini,” ujar Sonya setelah memalingkan kembali wajahnya.

“Kenapa kamu pergi tiba-tiba?” tanya Gladys.

Sonya kembali tersenyum. Ya, dia belum punya cukup keberanian untuk menjawab pertanyaan itu. Di dalam hati dia berharap Gladys tidak akan memaksa.

Ponsel Gladys mendadak berbunyi. perempuan itu segera merogoh saku blazernya. 

Shit! Aku harus balik ke kantor klien,” ujarnya kesal. “Tapi bisa nggak kita ketemu lagi?”

“Iya, boleh. Kamu di sini sampai kapan?”

“Aku pulang Senin. Tapi besok aku nggak ada jadwal. Kamu libur juga kan hari Minggu?”

“Iya,” jawab Sonya singkat.

“Aku minta nomor telepon kamu, Nya.”

Sonya melafalkan sederet angka yang langsung diketik oleh Gladys di ponselnya. Sekejap kemudian giliran ponsel Sonya yang berbunyi.

“Aku nginep di Hotel Front Plaza nggak jauh dari sini,” ujar Galdys. “Kamu bisa ke hotelku besok, kan?”

Sonya memang tidak memiliki pekerjaan apa pun besok, dia hanya berencana menghabiskan waktu liburnya bersama Langit, seperti biasa. Mungkin mengunjungi Gladys ke hotel bukan ide yang buruk. Langit juga belum pernah masuk ke hotel sepanjang hidupnya.

“Kamu ikut ketemu tante Gladys besok, ya,” ujar Gladys yang kini sudah berdiri dan menggelitik perut Langit. “Kita belum sempat kenalan dan main, loh.”

Pria kecil itu tergelak.

“Anak kamu lucu banget!” imbuh Gladys. “Besok kamu ke hotelku, ya?”

“Oke,” ujar Sonya akhirnya setuju.

“Janji, loh! Aku kangen banget sama kamu, Nya!”

“Iya, aku pasti datang.”

“Nanti aku kirim ke WhatsApp nomor kamarku. Sampai ketemu besok.”

See you.”

Gladys mencium pipi kanan dan kiri Sonya sebelum berlalu pergi. Gladys memang perempuan periang yang selalu hangat. Meski sudah begitu lama mereka tidak bertemu, rasanya tetap sama seperti dulu. Tak berjarak. Tak berbeda. Mau tak mau Sonya sedikit merasa lega. Ternyata jarak dan waktu yang telah memisahkan mereka, tak benar-benar memutus persahabatan di antara keduanya. Namun, Sonya mendadak merasa bersalah.

“Mungkin dulu seharusnya aku bercerita padanya,” ujar Sonya lirih.

Sonya menggelengkan kepala, mengusir jauh-jauh pikiran buruk yang hampir saja membawa mendung. Sudah dua tahun kejadian yang memaksa Sonya pergi dari Jakarta berlalu. Mungkin memang sudah saatnya Sonya bercerita. Mungkin memang pada Gladys seharusnya Sonya menceritakan apa yang terjadi waktu itu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kinanti WP adalah seorang pecinta buku yang menyukai hujan, tapi selalu takut petir. The Lady Escort, novelisasi Si Doel the Movie, Tanya Tania, dan Truth or Date adalah sebagian dari karyanya yang telah terbit. Kinanti dan informasi tentang karya-karyanya bisa ditemukan di IG @kinantiwp.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi