Namanya anak-anak, tentu hidupnya dihabiskan untuk makan, tidur, dan membandel. Orangtua serta guru di sekolah punya cara mereka sendiri untuk menyikapi kenakalan anak-anak ini. Termasuk dengan memberlakukan berbagai macam hukuman!

Kalau kamu pernah jadi anak-anak dulu, hukuman-hukuman di bawah ini pasti familiar di pikiranmu. Inilah hukuman semasa anak-anak yang biasanya orangtua kita terapkan untuk mengatasi kenakalan anak-anaknya. Hukuman yang dulu terasa begitu menakutkan, kini justru membuatmu tertawa bahagia. Lucu ya?

1. Telat masuk sekolah? Lari keliling lapangan 10 kali!

Telat masuk sekolah via www.google.com

Hukuman yang paling sering berlaku di sekolah adalah ketika kamu terlambat datang ke kelas pertama. Sebenarnya sih karena terlambat bangun, tapi daripada tambah diomelin, pakai saja alasan klasik: macet. Tapi mau apapun alasannya, hukumannya tetap sama, lari keliling lapangan sebanyak 10 kali. Duh, sudah telat karena bangun kesiangan dan masih ngantuk, eh disuruh lari keliling lapangan. Panas banget lagi!

2. Bersih-bersih kelas atau halaman sekolah.

Bersih-bersih sekolah via www.google.com

Advertisement

Selain olah raga di pagi hari saat terlambat sekolah, ada juga kamu yang dihukum dengan bersih-bersih kelas atau halaman sekolah. Walaupun di sekolahmu sebenarnya sudah ada petugas dan semua sudut sekolah sudah dikinclongkan oleh mereka, kamu tetap mendapat hukuman bersih-bersih. Setelah kamu “bersihkan”, gak jarang halaman dan lantai yang sebenarnya sudah bersih itu malah jadi sedikit jorok karena kamu salah pakai sapu. Habisnya kamu gak tahu, sapu mana yang untuk lantai dan mana yang untuk halaman.

3. Lupa ngerjain PR, kamu harus menulis kalimat yang sama sebanyak ratusan kali (atau satu buku penuh)

Tulis yang banyak via twitter.com

“Saya berjanji tidak akan lupa mengerjakan PR Matematika.”

“Saya berjanji tidak akan lupa mengerjakan PR Matematika.”

“Saya berjanji tidak akan lupa mengerjakan PR Matematika.”

“Saya berjanji tidak akan lupa mengerjakan PR Matematika.”

*sampai 100 kali*

Kalau contoh di atas sih enak, mau bikin kalimat tinggal copy paste. Tapi yang kamu alami dulu sangatlah pahit! Kamu sampai punya buku khusus hukuman yang berisi tulisan seperti di atas berlembar-lembar. Ketika menuliskannya tanganmu sampai kelu, pikiranmu bosan. Sambil menuliskannya kamu berucap dalam-dalam, “Iya-iya enggak akan lupa lagi! Udah dong!”

4. Berisik di dalam kelas, bisa-bisa seharian kamu berdiri di depan kelas sambil pegang telinga.

Berdiri di sudut kelas via www.google.com

Kamu yang suka ribut di kelas selalu jadi target dari guru-guru killer. Sekali saja mulutmu mengucap gurauan dengan teman sebangku, namamu akan dipanggil dengan lantang. Kamu pun akan menghabiskan satu jam pelajaran di ujung depan kelas dengan berdiri. Teman-teman yang duduk hanya memandangimu dengan sedikit senyum-senyum dan wajah yang seolah berkata, “kasian deh lu!”

5. Hormat bendera mungkin pernah dirasakan oleh kamu yang hobi berantem di sekolah.

Aduh panas! via www.google.co.id

Para jagoan sekolah yang hobinya berantem pasti pernah merasakan hukuman berpanas-panas ria di bawah tiang bendera. Entah apa hubungannya antara berantem dan hormat bendera, mereka yang hobi berantem di sekolah seringkali dihukum dengan hormat bendera di panas dan teriknya sinar matahari. Mungkin maksudnya supaya bisa saling menghormati satu sama lain mungkin ya?

6. Di rumah, kalau berantem sama saudara bakal diancam dititipin asrama atau panti asuhan!

Ancaman kalau berantem sama saudara via www.google.co.id

Berbeda dengan di sekolah, waktu kecil kalau kamu berantem di rumah sama saudara, orangtuamu memberikan hukumannya sendiri. Sebenarnya bukan hukuman — melainkan ancaman. Contohnya nih: kalau kamu berantem terus dengan kakak atau adik, salah satu dari kalian bakal dipindahin ke luar rumah.

“Kalau kalian berantem terus, Mama titipin kalian ke asrama. Satu asrama di barat, satu di timur, biar kalian nggak bisa ketemu lagi!”

*lalu kalian yang tadinya berantem pun berpelukan*

7. Nilai jeblok, uang jajan terancam dipotong.

Jangan sampai ketahuan! via www.google.co.id

Cobaan yang paling berat yang kamu alami pada saat masa anak-anak adalah mendapat nilai ulangan jelek. Pikiranmu tak tenang saat bertemu orang tuamu, takut mereka tanya-tanya. Ketika mereka masuk kamar pun kamu langsung deg-degan, takut mereka menemukan sesuatu yang bernama kertas ulangan. Risiko terbesar yang akan kamu hadapi jika orangtuamu menemukan nilaimu yang buruk adalah uang jajanmu terpotong dan itu tandanya koleksi tazos-mu akan terhenti.

PS: Tazos = mainan hadiah dari camilan, kalau kamu anak 90-an pasti tahu benda kecil yang begitu berarti itu.

Selain ancaman uang jajan dipotong, kamu juga akan mendapat ancaman-ancaman semacam ini…

8. Gak boleh nonton acara TV favorit

Enggak boleh! Kamu nakal soalnya! via www.google.co.id

9. Gak boleh main PlayStation Nintendo.

Belum ada PS waktu itu via www.google.co.id

10. Gak boleh main keluar sampai sore (harus tidur siang).

Main di sore hari via www.google.co.id

11. “Kalau makan gak abis, ayamnya mati!” (Lah, padahal kita ‘kan gak pelihara ayam, Ma!)

kenapa jadi ayam? via www.google.co.id

Enggak tahu kenapa waktu kamu malas makan dan makanan yang disajikan nggak kamu habiskan, orangtuamu memberikan ancaman yang aneh. Tapi saat itu kamu percaya aja. Contoh:

“Kalau makannya nggak habis, nanti ayamnya mati lho!”

Apa hubungannya makanan nggak habis sama ayam mati? Ayamnya siapa lagi yang mati, pelihara ayam aja enggak.

12. “Nanti nasinya nangis.”

Emang bisa nangis? via www.google.co.id

Ancaman konyol yang kamu percaya lainnya kalau makananmu nggak habis adalah nanti nasinya nangis. Kamu akan berpikir keras dan membayangkan nasi-nasi itu menangis mengeluarkan air mata dan menghampirimu. Hiiii!!!

13. Tapi sebenarnya… hukuman yang paling menyeramkan adalah didiamkan orangtua.

Dicuekin mama papa via www.google.co.id

Segala macam bentuk hukuman itu sebenarnya belum apa-apa. Hukuman yang paling menyeramkan bagimu adalah ketika orangtuamu mendiamkanmu. Kamu akan merasa sangat bersalah dan nggak ingin mengulangi perbuatanmu.

Berbagai macam bentuk hukuman pasti pernah dirasakan oleh anak-anak ketika nakal. Anak nakal itu biasa, menghukum anak juga biasa. Asal jangan menelantarkan anak kandung sendiri — itu namanya sudah gila.