Perfectly (Un)Matched [1] – Bye Bye, Calon Mertua!

Perfectly (Un)Matched Desy Miladiana

Sara dan Saga adalah korban perjodohan demi memajukan bisnis dua keluarga. Namun, keduanya sama-sama sosok keras kepala yang nggak bisa cuma pasrah saja. Apa yang akan Saga dan Sara lakukan demi membatalkan rencana ‘gila’ ini?
***

Tawa yang terdengar sumbang, suasana yang terkesan ganjil, dan canda yang sangat dipaksakan menyelimuti salah satu meja makan sebuah restoran malam ini. Padahal beberapa minggu yang lalu, di situasi yang sama dengan orang dan tempat yang sama, suasana yang tercipta jauh lebih hangat.

Sara ingat, dirinya duduk di tempat yang sama. Tatapan bertanya tampak jelas di wajahnya karena didudukan tepat di depan seorang pria asing dengan dandanan kaku dan ekspresi dingin. Orang tuanya mengenalkan pria itu, bernama Sagara, calon suaminya.

Menolak perjodohan, dianggap membantah orangtua. Menerima, sama saja mengorbankan masa depan dengan menikahi orang asing. Baik Sara dan Sagara berada di jalan buntu. Satu-satunya pilihannya hanyalah mencoba ikhlas, karena bagaimanapun pernikahan yang akan mereka langsungkan nantinya juga untuk kepentingan perusahaan orangtua mereka.

“Jadi, kapan kita bisa melangsungkan pertunangan Sara dan Sagara, Rudi?” Faisal, papa Sagara mulai buka suara mengenai perjodohan Sara dan Sagara, menyudahi obrolan bisnis properti yang keduanya geluti. “Sara terlalu cantik untuk digantungkan begitu saja, Rud, jadi mempercepat pertunangan mereka—mengikat Sara adalah hal bagus.”

Gelengan kepala Rudi sukses membuat Sara tertarik. Bahkan, mulut wanita itu sedikit terbuka dengan respons sang papa.

“Saya rasa, Faisal, baik Sara dan Sagara harus saling mengenal lebih dulu satu sama lain. Memang salah satu alasan kita menjodohkan mereka adalah untuk perusahaan, tapi saya tetap berharap pernikahan ini berhasil sebagaimana mestinya.”

Seketika Sara mencibir lirih ucapan Rudi sekarang. Beberapa saat lalu, justru papanya yang selalu memaksanya untuk menerima perjodohan ini. Sekarang mendadak mulai ragu.

Perhatian Sara beralih pada pria di seberangnya, Sagara. Pria itu mengambil gelas air putihnya, lalu mengangkatnya sedikit tinggi. Memberi kode sederhana yang hanya dipahami oleh Sara.

Tak lama pelayan datang menginterupsi obrolan para orangtua. Senyuman Sara langsung terukir lebar saat menemukan spaghetti bolognaise pesanannya terhidang di depan mata.

Show time! Segera saja Sara menarik piringnya mendekat. Kemudian, memasukan jemarinya ke dalam sela-sela pasta dengan saus tomat itu, lalu berteriak kepada semua orang, “Selamat makan semuanya.”

Terdengar suara pekikan di kejauhan. Sara tahu itu bukan suara mamanya, Adel, melainkan suara mama Sagara, Lidya. Wanita itu dikenal dengan tata kramanya yang tinggi dan sangat mencintai kebersihan. Jadi, tingkah Sara sukses menabrak prinsip hidup Lidya.

Sara makan dengan sangat jorok | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

“Sarayu Wijaya!” Suara Adel terdengar mendesis lirih. Tatapannya tajam “Kamu jangan berbuat yang tidak-tidak, Sara. Malu!”

Dengan sengaja Sara membiarkan beberapa helai pasta teruntai di sekitar mulutnya. Dia menggeleng sambil memastikan saus-saus di pastanya terciprat ke mana-mana.

“SARAYU!”

Hanya saja mendapati wajah Adel yang memerah dengan alis tajamnya yang semakin tajam, memaksa Sara langsung menyeruput semua pastanya. Kemudian, memakannya dalam satu kali telan. Lantas wanita itu beralasan, “Mama salah, Ma. Sara hanya mau menunjukkan bahwa saat ini sedang tren di kalangan anak muda untuk makan segala hal menggunakan tangan. Mengurangi mencuci peralatan makan sama dengan mengurangi penggunaan sabun. Artinya, makan dengan tangan sama dengan membantu mengurangi pencemaran limbah di air.”

Alasan yang supercerdas dari Sara, wanita itu bangga terhadap dirinya karena kata-katanya masuk akal. Dan yang paling menyenangkan lagi adalah ekspresi Lidya masih sama, menatapnya dengan ekspresi jijik dan tidak percaya.

Sebagai orang yang menolak keras perjodohan di abad 20-an, tidak disukai calon mertua adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Tiba-tiba saja di tengah-tengah suasana yang tegang, suara kentut keras terdengar dari Sara. Wanita itu sontak memegang perutnya. Memasang wajah memelas, lalu menatap satu per satu orang tua di sekitar.

“Maaf, Om, Tante, Pa, Ma, Sara sakit perut. Nggak tahan. Udah di ujung banget ini kotorannya kayaknya … aduh! Sara salah bicara, ya? Maaf sekali lagi. Sara mau berak dulu.”

Tanpa persetujuan orang-orang, Sara langsung beranjak, kemudian berlari kencang memasuki toilet restoran. Beruntungnya tempat ini kosong, membuat wanita itu memilih untuk langsung mengunci rapat toilet. Tawa yang sejak tadi ditahan-tahan langsung pecah begitu saja.

Segera Sara mencuci kedua tangannya hingga bersih, sebelum meraih ponsel di dalam tas tangannya. Ada nama Sagara yang menelepon beberapa menit yang lalu. Panggilan tak terjawab itulah yang menjadi alasan kentutnya, karena Sara dengan sengaja mengubah nada dering telepon Sagara dengan suara kentut.

Cukup lama Sara bersembunyi, wanita itu memutuskan kembali ke area makan. Aura yang menyelubungi tempat ini semakin terasa tidak menyenangkan. Terlebih Lidya, wanita itu hanya mengaduk-aduk pastanya tanpa memakannya.

Maafin saya, Tante Lidya, batin Sara. Sembari diam-diam meringis, Sara kembali duduk. Ditatapnya pria di seberangnya, Sagara hanya menganggukkan kepala menyambutnya.

Baru saja Sara menenggak air mineralnya, tiba-tiba terdengar seseorang meneriakkan nama Sagara. Seluruh orang, termasuk Sara serentak menoleh ke sumber suara.

Seorang wanita dalam balutan gaun hitam berjalan mendekat. Langkahnya terburu-buru sambil memasang wajah sedih, bahkan matanya berkaca-kaca menatap Sagara yang baru saja berdiri.

“Catrine,” panggil Sagara.

Wanita asing itu langsung melayangkan pukulan pada Sagara. “It’s Catlyn, Sagara!”

“Sori.” Sagara masih memasang ekspresi dinginnya. Dipegangnya lengan Catlyn, siap untuk menarik wanita itu entah ke mana. “Kita bicara di luar, Catlyn.”

“Nggak, nggak!” Catlyn menggeleng tegas. Jari wanita itu menunjuk semua orang di meja makan yang tiba-tiba menjadi penonton drama heboh. “Orangtua lo, calon mertua lo, terutama calon istri lo harus tahu betapa busuknya elo, Sagara!”

“Pacar” Saga muncul | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Sagara sudah siap berbicara, tapi Catlyn lebih cepat bersuara, “Di balik sikap lempeng elo, lo itu pemain wanita, Sagara! Selain lo pacarin gue, lo juga punya cewek lain di luar sana.” Perhatian Catlyn beralih pada Sara. “Hati-hati aja buat, Mbaknya, Sagara ini casing-nya aja bagus, tapi dalamnya bobrok! Pas pacaran sama saya aja dia pacaran sama 3 cewek lainnya, dan pernikahan jelas tidak menjamin tukang selingkuh menjadi orang yang lurus, Mbak. Mending selamatkan diri sendiri sebelum terlambat!”

“Betul!” Tahu-tahu saja Sara merespons. Kepalanya bahkan mengangguk cepat. “Setuju!”

Tiba-tiba terdengar suara bantingan alat makan di piring. Faisal berdiri, tangannya menunjuk ke arah Sagara. “Sagara! Bawa wanita ini keluar dan selesaikan masalah kalian!”

Sagara mengangguk. Kali ini, dengan sedikit paksa dia membawa Catlyn untuk keluar. 

Sementara itu, Sara kembali fokus ke area meja makan. Tatapan Rudi mulai tidak menyenangkan, bahkan papanya itu juga sudah menaruh alat makannya di atas piring. Padahal menu steak kesukaannya sedang ada di depan mata.

“Faisal.” Suara Rudi yang terdengar membuat Sara tersenyum. Ekspresinya mengeras. Wajahnya bahkan memerah, tapi menahan diri untuk tidak meledak. Hal yang paling papanya benci di dunia dan baru saja dipicu, ketidaksetiaan. “Saya rasa, saya tidak bisa melanjutkan perjodohan antara Sara dan Sagara.”

Raut wajah Faisal berubah. “Rud, kita bisa bicarakan ini. Hal seperti tadi tidak akan terulangi lagi. Pasti tadi hanya salah paham.”

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi