Klarifikasi Orang yang Sama Sekali Nggak Minat Promo 11.11. Pada Beli-Beli Terus, Apa Nggak Capek?

Promo 11.11

Sehari yang lalu (11/11), beberapa e-commerce menyediakan diskon gila-gilaan pada produk yang dijual di marketplace-nya. Lalu lintas media serentak pada ngomongin agenda Harbolnas 11.11. Ada yang membagikan foto promo, ada yang memamerkan daftar belanjaan mereka, ada pula yang nyesel nggak bisa membeli.

Advertisement

Media sosial yang riuh sempat membuat saya dan sebagian lainnya jadi penasaran. Namun rasa penasaran saya hanya sebatas “Apa sih harbolnas itu?” dan “Sampai berapa persen diskonnya?”. Selebihnya saya hanya membiarkan momen lewat begitu saja. Bagi para pemburu diskonan, mungkin saya terlihat aneh atau mungkin kurang up-to-date. Ya, nggak apa-apa. Nggak ada salahnya orang punya pikiran seperti itu, tapi karena hal itu juga saya mewakili sebagian orang yang nggak tertarik dengan agenda 11.11 ini merasa perlu mengklarifikasi, barangkali pada penasaran. Cekidot!

Diskon 50% emang kelihatan murah banget, tapi bagi saya akan lebih murah lagi kalau nggak beli

Lebih murah nggak beli. | credit: newsmaker.tribunnews.com via newsmaker.tribunnews.com

Promo merupakan strategi bisnis untuk menarik konsumen. Harga dibanting sejatuh-jatuhnya supaya pada tertarik. Begitu pula saat Harbolnas kemarin, rata-rata diskonnya 50% ke atas. Nggak heran kalau banyak yang menyambutnya dengan suka cita. Barangkali cuma saya dan segelintir lain yang biasa aja. Diskon 50% nggak terlihat murah buat saya. Lha wong saya lagi nggak butuh apa-apa, ngapain beli? Beda cerita kalau diskonnya sampai 100%, mungkin saya bisa berubah pikiran~

Advertisement

Membeli barang yang nggak dibutuhin itu bikin sumpek kamar. Bikin bingung cara nguranginnya

Barang udah banyak. | credit: hai.grid.id via hai.grid.id

Saya termasuk orang yang nggak suka membeli sesuatu yang nggak dibutuhkan. Mau harganya berapa pun, prinsip saya tetap sama. Hal ini nggak terlepas dari ketidaksukaan saya menimbun barang di kamar, bikin sumpek. Kalau barang yang lama belum ada yang keluar, maka nggak akan ada barang baru yang boleh masuk. Kalau belum ada yang rusak, ngapain juga beli yang baru? Tahu sendiri, kan, gimana susahnya mengurangi, membuang, memberikan barang ke orang? Jangan heran kalau buku Marie Kondo laris.

Sejujurnya juga saya males rebutan. Makanya saya kalau lihat orang yang nungguin 11.11 itu suka heran

Salut. | credit: jd.id via www.jd.id

Barang yang dijual promo pasti terbatas kuotanya. Artinya orang harus cepat-cepat membeli biar nggak keduluan yang lain. Nah, saya ini tipikal orang yang males ngantri. Jangankan antre online, antre di lampu merah aja saya susah nahan sabar. Makanya saya tuh kadang salut sama orang yang bisa nungguin Harbolnas buka demi bisa dapat diskonan paling murah. Kan, ada tuh yang sampai nungguin dari satu jam sebelum 11.11.

Ketika ada orang yang punya prinsip lebih baik nyesel membeli daripada nyesel nggak membeli, saya kebalikannya

Advertisement

Nyesel beli, tapi nggak kepake | credit: idntimes.com via www.idntimes.com

Di dunia bisnis, kamu pasti familiar dengan jargon “lebih baik nyesel membeli daripada nyesel nggak beli”. Jargon itu biasa diucapkan pedagang kepada pembeli, kadang juga diucapkan oleh orang yang baru dikomplain temannya karena membeli sesuatu yang mahal atau nggak perlu. Jargon itu nggak berlaku buat saya. Saya justru kebalikannya, saya lebih baik nyesel nggak beli daripada nyesel membeli. Apalagi kalau barangnya nggak terpakai di rumah. Udah buang-buang duit, makan tempat lagi.

Itulah klarifikasi dari saya dan orang-orang yang melewatkan Harbolnas dengan tangan hampa. Nggak ada penyesalan apa-apa yang terasa.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

CLOSE