Haus dengan tokoh jagoan lokal yang memukau, akhirnya Wiro Sableng muncul jadi oase di tengah keringnya perfilman Indonesia berkisar superhero pembela keadilan. Kemasan yang begitu apik dengan candaan yang pecah nggak akan membuat penonton kecewa dengan ekspektasi mereka sendiri soal film yang juga disokong industri film internasional. Beberapa elemen yang kurang digeber di film ini sedikit demi sedikit termaafkan dengan kocaknya tokoh di dalamnya. Siap-siap sableng deh!

8/10
RATING

Memang nggak ada salahnya mengidolakan superhero Marvel atau DC Comics. Industri Hollywood telah berhasil menampilkan tokoh-tokoh jagoan dalam komik jadi sosok keren yang selalu diandalkan buat menyelamatkan dunia. Maka jangan heran kalau pertanyaan milenial berkisar pada, “Kamu lebih suka Batman atau Captain America?” dan jarang sekali terpikirkan untuk bertanya, “Kerenan mana sih Angling Dharma atau Wiro Sableng?”

Indonesia sebenarnya juga memiliki karya sastra yang menampilkan sosok jagoan pembela kebenaran. Sebut saja Angling Dharma, Wiro Sableng, Jaka Tingkir, hingga Si Buta dari Goa Hantu. Tapi kenapa di mata milenial mereka nggak pernah terlihat keren? Hmm, tunggu dulu, Angga Dwimas Sasongko bersama Lifelike Pictures dan didukung Fox International Pictures baru saja menampilkan Wiro Sableng ke layar lebar dan dapat animo yang sangat luar biasa nih. Siap-siap saja kalau besok bocah-bocah kompleks nggak main dengan tameng Captain America, melainkan pakai Kapak Naga Geni. Bareng Hipwee Hiburan, kamu bakal tahu kenapa Wiro Sableng patut jadi idola baru, simak ulasan filmnya berikut!

Penokohan yang begitu baik, bikin orang yang bahkan sama sekali belum kenal tokoh Wiro Sableng tahu persis karakternya

Muridnya sableng, gurunya gendeng! via hiburan.metrotvnews.com

Advertisement

Sebagaimana kisah laga dan serialnya yang dahulu ditayangkan di televisi, sosok pendekar adalah mereka yang pandai bertarung dan menegakkan keadilan. Menyusuri seluruh negeri, menolong orang lemah, dan menghukum pejabat korup. Tokoh yang ditampilkan dalam film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni memiliki karakter khas masing-masing. Penokohan ini tampak begitu matang. Nggak heran, Sheila Timothy sebagai produser bahkan mengaku sudah mempersiapkan Log Book dari semua tokoh yang pernah ditampilkan di novel karya Bastian Tito.

Jangan takut untuk ngefans dengan Wiro Sableng (Vino G. Bastian) yang selalu bertarung layaknya orang sableng atau gila, tertawa, dan melucu sejadinya. Kamu juga akan salut dengan penampilan Anggini (Sherina Munaf), pendekar cewek yang baik hati dan punya selendang sakti. Bahkan ada juga tokoh Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi) yang bikin kamu tergelak sepanjang film.

Plot yang semula tampak rumit berhasil diurai satu demi satu. Beda banget dengan film-film Hollywood yang dapat motivasi untuk pembalasan dendam

Kalah dikuasai amarah. via www.viva.co.id

Kalau melihat adegan di babak awal film ini, kamu mungkin akan berpikir kalau semua ini soal masalah pribadi Wiro dengan Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) yang telah membunuh kedua orang tuana. Nyatanya, sajian film lokal memang nggak memandang balas dendam sebagai sesuatu yang baik. Terlihat jelas saat Kapak 212 nggak mau keluar ketika Wiro dikuasai oleh nafsu membunuh dan balas dendam. Unsur ini jadi pembeda bahwa meski penyokong film ini sudah kelas internasional, tapi nilainya tetap lokal.

Jangan khawatir soal pemeran, karena film ini jelas bertabur bintang. Nggak ada aktor yang ecek-ecek, bagus semua!

Marsha Tomothy sebagai bidadari angin timur. via id.bookmyshow.com

Advertisement

Membahas film laga yang penuh pertarungan, tentu saja besar kemungkinan hadirnya Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman yang membantu koreografi pertarungan. Vino Bastian, Marsha Timothy, Sherina Munaf, Lukman Sardi, Dwi Sasono, dan masih banyak lagi aktor profesional yang akrab dengan penonton dan tampil nggak mengecewakan. Bahkan kamu juga akan terpesona dengan Aghniny Haque, atlet taekwondo yang berperan jadi Rara Murni. Namun dari sekian banyak yang tampil, tentu saja punya aktor yang jadi favorit menurut saya pribadi. Nggak kurang nggak lebih, Vino Bastian dan Sherina Munaf berhasil banget mendalami tokoh jadi pendekar.

Meski begitu, tentu ada beberapa hal yang perlu dikoreksi. Politik kekuasaan yang minim ditampilkan sampai CGI di salah satu adegan yang sangat jauh dari sempurna

Grading dan scorring dari film ini memang terbilang baik jika dibandingkan dengan kualitas film laga garapan lokal. Sayangnya, ada satu adegan dengan CGI yang kurang memuaskan. Selain itu, cerita soal kudeta dan perebutan kekuasaan yang jadi sebuah garis besar plot film ini justru nggak mendapatkan perhatian yang lebih. Setting yang memperlihatkan kerajaan khas Jawa di masa lalu juga nggak menampilkan bagaimana ketertindasan rakyat akibat munculnya ‘preman-preman’ haus kekuasaan. Sehingga nggak seolah-olah, batas antara pendekar dan tokoh antagonis itu berada dalam keabu-abuan. Dilematis memang bagi sineas, memberi perhatian besar pada pengenalan tokoh atau memberi porsi yang cukup pada bangunan konflik dalam film. Selain itu pertimbangan durasi juga jadi hal pokok yang begitu krusial dalam film.

Film Wiro Sableng adalah sebuah awal diperkenalkannya tokoh jagoan lokal yang juga mampu menyaingi pesona superhero internasional. Nggak akan berhenti sampai sini, Wiro Sableng juga akan menayangkan sekuelnya dengan menampilkan aktor yang patut diantisipasi; Abimana Aryasatya. Bagaimanapun, film ini sangat direkomendasikan buat kamu tonton bersama pacar, gebetan, pacarnya gebetan, atau gebetannya pacar, bahkan dengan keluarga dan orang sekitar. Biar kamu tahu, fiksi lokal juga bisa keren!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya