Review Film Yuni: Angkat Kenyataan Budaya yang Membelenggu Perempuan

Review film Yuni

Permasalahan ketimpangan gender di Indonesia memang sudah mendarah daging. Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kuasa masih melekat di sebagian wilayah Indonesia. Sistem itu bukan hanya mengistimewakan laki-laki saja, tetapi juga menempatkan perempuan menjadi pihak yang tidak berdaya. Meskipun modernisasi telah hadir dan menggerus sistem itu, tetapi nilai-nilai patriarkis yang tertanam dalam masyarakat masih ada hingga kini.

Advertisement

Film “Yuni” yang ditulis dan disutradarai oleh Kamila Andini mengajak penonton melihat kenyataan pahit yang menimpa perempuan di sebagian wilayah Indonesia. Lewat peran Yuni yang dibintangi oleh Arawinda Kirana, kita bisa turut merasakan ketidakadilan sekaligus mengumpulkan keberanian di tengah lingkungan yang memegang kuat kultur patriarki. Film ini dibawakan dengan dialog bahasa Jawa Serang yang fasih sehingga membuat penonton seakan ‘hadir’ di tengah-tengahnya.

Dalam film “Yuni”, fenomena diskriminasi terhadap perempuan dialami sejak dalam praktik pendidikan

Yuni terperangkap fenomena diskriminasi di sekolahnya | Credit: @arawindak via Instagram

Sejak ditayangkan pada 9 Desember lalu, film berdurasi 120 menit ini sudah menyita banyak perhatian. Film ini mengisahkan tokoh Yuni (Arawinda Kirana), seorang gadis yang duduk di tingkat terakhir SMA yang memiliki prestasi cemerlang. Dengan dukungan seorang guru wanita di sekolahnya, ia bersemangat untuk mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi. Namun, di tengah semangatnya mengejar pendidikan, Yuni tiba-tiba dilamar oleh dua orang sekaligus yang tidak pernah benar-benar dikenalnya.

Seakan pernikahan dini adalah hal biasa, orang-orang di sekitarnya tak segan-segan mendorong Yuni untuk menerima lamarannya. Mereka mengatakan bahwa seorang perempuan yang menolak lamaran akan sulit mendapatkan jodoh. Narasi itu bukan hanya terjadi dalam film saja, pada kenyataannya masih banyak yang menganggap perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi karena ujungnya hanya akan menikah dan mengurus rumah tangga saja. Mereka harus selalu menerima tanpa bisa memperjuangkan mimpi dan cita-citanya.

Advertisement

Melalui tokoh Yuni, mereka berani mendobrak konsep ‘nilai’ perempuan

Yuni menunjukkan keberaniannya mendobrak konsep ‘perempuan’ di wilayahnya |  Credit: @yunihhh__1006 via Instagram

Tidak ingin menyerah pada situasi lingkungan yang mendiskriminasi perempuan, sosok Yuni menunjukkan keberaniannya untuk terbebas dari aturan patriarki. Dia berani menolak lamaran hingga 2 kali hingga berani menunjukkan ‘nilai’ perempuan selain tubuhnya saja. Di sebagian daerah Indonesia, realitanya masih banyak yang menganggap bahwa menikah adalah ‘jalan keluar’ dari segala permasalahan kehidupan.

Dalam film ini, Yuni dipertemukan dengan beberapa tokoh yang telah merasakan belenggu patriarki, seperti Suci (Asmara Abigail) dan Sarah (Neneng Wulandari). Tak hanya mengkritik sistem patriarki, film Yuni juga meluruskan miskonsepsi tentang pendidikan seks, kekerasan seksual, hingga isu LGBT. Selain ceritanya yang sudah tidak diragukan lagi, film ini terasa sangat ‘hidup’ berkat penggambaran langsung situasi masyarakat lewat bahasa dan latar wilayah Serang, Banten.

Mereka juga menggunakan berbagai simbol, seperti warna ungu yang menggambarkan identitas perjuangan perempuan, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang memiliki arti penting tentang mimpi, serta lagu-lagu di baliknya. Dengan semua kombinasi yang hadir di dalm film ini, bisa dikatakan Yuni menjadi salah satu film Indonesia terbaik di tahun 2021 ini. Tidak mengherankan jika mereka menyabet banyak penghargaan bergengsi dunia, di antaranya “Platform Prize” di Toronto International Film Festival (TIFF) dan penghargaan “Pemeran Utama Perempuan Terbaik” di Festival Film Indonesia.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE