Searching for Someday #2 – Failed Hopes

Searching for Someday Flara Deviana

Setahun setelah momen liburannya di Malaysia, Ghandi masih kesulitan mengembalikan hidupnya seperti semula. Masalahnya, seseorang telah mengambil sesuatu dari dirinya dan menghilang begitu saja.
***

8 Juli 2019

14.20 P.M

BIASANYA HANTU bernama kenangan cuman berani menyapa di dunia mimpi, kadang-kadang nongol juga di momen kesadaran gue lagi dikendalikan alkohol, tapi hari ini ….

Gila!

Dari gue buka mata, bercengkerama bareng barisan kode, sampai detik di mana gue mukulin puching pad kayak orang hilang akal—hantu itu setia bergentayangan.

“Cukup!” Satu tangan gue menggantung di udara, sementara Simon—teman latihan sekaligus partner bisnis gue, buru-buru melangkah mundur sampai jarak di antara kami cukup lebar. “Lo kerasukan apa, Ghandi?! Kalau—bentar.” Dengan napas terengah-engah kayak gue, dia menjatuhkan puching pad ke lantai lalu berkacak pinggang. Meski nggak mengeluarkan satu pun kalimat kasar, mata Simon jelas-jelas mengeluarkan banyak umpatan.

Ghandi berlatih muay thai dengan kesetanan | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

Gue menunduk sepersekian detik, lalu kembali memandangi cowok yang udah gue anggap kakak kandung dari zaman kami tinggal di Australia. Orang ini ikut gue secara suka rela. Dia juga tahu banget, setiap kali gue Muay Thai di jam kantor, itu artinya rasa frustrasi gue udah gede banget. Terus, kenapa sekarang dipermasalahin?

“Anak gue masih bayi.”

Fuck! Dulu gue nggak pernah percaya omongan kalau cowok bisa terobsesi sama anak ceweknya, tapi sekarang—gue harus melihat itu setiap hari. Nyaris di setiap kesempatan, manusia satu ini selalu menyelipkan anak berumur 4 bulan! Sarung tinju gue menyusul terjun bebas ke lantai, lalu gue melakukan pose yang sama seperti Simon.

“Nggak usah masang tampang; ini nggak ada hubungannya sama anak. Sinting!” bentak Simon. “Ekspresi lo pas mukul, itu—” Dia terdiam sembari menggeleng kecil. “Lo kenapa, Ndi? Proyek-proyek kakap yang lo pegang lancar semua. Aplikasi-aplikasi itu berjalan baik, klien puas, terus—why?

Gue terduduk di lantai yang dingin sembari meluruskan kedua kaki, beberapa detik selanjutnya Simon menyusul. Sedari awal, gue nggak pernah benar-benar membahas ini sama dia. Kami dekat. Dia pendengar yang baik, jago menjaga rahasia, kadang-kadang sarannya juga bermanfaat. Tapi skala urusan ini terlalu pribadi. Gue yang terlibat langsung aja belum menemukan bug-nya di mana atau kode apa yang terlewat, apalagi Simon.

Shit! Ini bulan Juli.” Untuk kesekian kalinya Simon berteriak sambil menggerak-gerakan telunjuk ke gue. “Jangan bilang ini ada sangkut pautnya sama liburan sebelum lo benar-benar gabung di perusahaan. Iya. Iya. Gue ingat.” Simon memicing, lalu menendang satu telapak kaki gue. “Sebenarnya apa yang terjadi di sana? Lo pulang lebih awal dari rencana, alasannya bosan nggak ada apa-apa di sana. Terus selama berhari-hari selagi nunggu hari pertama masuk kerja, lo mabuk-mabukan. Dan gue selalu dengar lo bilang habis ketemu cewek sadis di sana. Tahan. Jangan dibantah dulu. Setahun terakhir tiap kali mabuk, lo juga mengeluhkan seandainya bisa ulang waktu. Lo nggak mau pergi ke Malaysia.”

Gue nggak bisa dengar kata-kata lain, walau bibir Simon terus bergerak.

Hantu sialan yang ngikutin berhasil merasuki diri gue, memunculkan semua hal dengan sangat jelas dan detail—seolah-olah gue sedang mengulang kejadian di tanggal itu. Adegan per adegan. Mulai dari gue berangkat ke bandara. Nggak sengaja lihat cewek dari masa lalu yang mudah dikenali—duduk di serong kanan gue dengan wajah kesakitan. Aura penderitaan yang mengelilingi cewek itu langsung menghantam bagian terdalam hati gue, menghancurkan sesuatu yang terlupakan untuk waktu lama, sampai tanpa pikir panjang gue menyapanya. Tindakan yang sangat gue sesali.

Kalau aja gue nggak pindah duduk, mungkin nggak akan ada situasi begini.

Gue mengembuskan napas teratur, lalu tendangan yang lebih kencang mendarat di telapak kaki yang lainnya.

“Jadi?” Simon bertanya dengan ekspresi semakin ingin tahu.

Karena nggak ada satu pun kata dari Simon yang melewati telinga, gue melirik sekeliling lalu mengangkat kedua bahu. Rupa-rupanya hal itu memancing rasa penasaran Simon makin menggila, hingga dia berpindah duduk di samping gue.

“Beneran ada yang diambil dari lo?” Seketika badan gue terasa kaku. Gue menoleh, dan Simon menepuk-nepuk bahu gue. “Berapa banyak uang yang dia ambil dari lo? Ah, udah gue duga. Lo pulang bukan karena bosan. Uang lo sekarat. Wajar, setahun ini lo gila-gilaan nerima semua kerjaan yang masuk.”

Gue memandangi Simon dalam keheningan mutlak, lalu menyahut untuk kali pertama, “Dia ngambil sesuatu yang lebih berharga dari uang ….”

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Ibu dari tiga anak yang lebih suka nulis romance, daripada masak. Sudah berhasil menerbit 8 buku. Untuk melihat atau mencari informasi tentan naskah lain, bisa follow IG: @Flaradeviana

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi