Beberapa hari lalu, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan sabda raja Yogyakarta yang memberikan semacam gelar ‘putri mahkota’ kepada putri sulungnya, GKR Pembayun. Melalui sabda raja Yogyakarta ini, GKR Pembayun berpeluang naik tahta menggantikan Sultan Hamengkubuwono X jika beliau mangkat nanti. Berbagai komentar ditujukan atas pemberian gelar ini, dari pro sampai kontra.

Hipwee nggak ingin mengomentari soal pro-kontra yang ada ini. Kita cuma pengen mengajak kamu berimajinasi, gimana ya jadinya Jogja kalau pemimpinnya adalah seorang Sultan wanita?

1. Otomatis Sultan Yogya bakal jadi Gubernur juga. Mungkin beliau akan terinspirasi Bu Risma dan menjadikan Jogja asri dengan taman. Lumayaaan, daripada yang tumbuh di Jogja cuma hotel doang.

Semoga cinta dengan keindahan taman seperti Bu Risma

Semoga cinta dengan keindahan taman seperti Bu Risma via www.google.co.id

Advertisement

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta punya keistimewaan di mana raja kesultanan otomatis jadi Gubernur. Kalau Sultannya wanita, otomatis gubernurnya juga wanita. Mungkin dengan dipimpin gubernur wanita, seluruh penjuru Jogja, mulai dari Merapi hingga Parangtritis dan dari Gunung Kidul ke Kulon Progo, jadi tampak lebih cantik. Kayak Ibu Risma —walikota Surabaya— yang suka mempercantik taman, mungkin kalau D.I. Yogyakarta dipimpin oleh gubernur wanita fasilitas yang diperbanyak adalah taman kota, bukan hotel dan mall. Mungkin sih~

2. Kesultanan Yogyakarta jadi mirip Kerajaan Inggris. Punya Ratu yang naik kuda sama kereta kencana~

God Save the Queen via www.biography.com

Dengan adanya pemimpin wanita, Kesultanan Jogja jadi hampir sama kayak Kerajaan Inggris yang telah berabad-abad dalam sejarahnya dipimpin oleh Raja maupun Ratu tanpa ada perbendaan yang berarti. Pokoknya sama-sama enak deh!

3. Jadi Jogja punya ‘tea time‘…

Tea time ala England

Tea time ala England via www.pinterest.com

Karena hampir sama kayak Inggris, Jogja punya tren baru yaitu ngeteh di sore hari. Tentu tehnya berbeda dengan teh Inggris yang bermacam-macam aroma itu. Tea time atau ngeteh di Jogja, tehnya kentel terus pakai gula batu dan tekonya yang khas loreng hijau-putih. Mantap!

Ngeteh ala Jogja

Ngeteh ala Jogja via www.google.co.id

Advertisement

Inggris: “Would you like one spoon or two for sugar?” (Gulanya satu sendok atau dua sendok?)

Jogja: “Gulane sebongkah rong bongkah?” (Gulanya satu bongkah atau dua bongkah?)

4. Bisa jadi nanti logo kraton berubah, warna merahnya jadi merah muda.

Ini cuma meme lho!

Ini cuma meme lho!

Seiring ramainya pembicaraan mengenai sabda raja Yogyakarta dan wacana kerajaan Mataram dipimpin oleh wanita, meme di media sosial pun bertebaran. Salah satunya, meme tentang logo kraton Jogja yang warna merahnya menjadi pink. Warna pink ini identik banget sama wanita.

5. Hmm, tapi terus nggak ada Ibu Ketua Tim Penggerak PKK dong? Jadi Bapak Ketua Tim Penggerak PKK?

PKK bukan singkatan dari Perempuan Kurang Kerjaan

PKK bukan singkatan dari Perempuan Kurang Kerjaan via www.google.co.id

Istri gubernur biasanya otomatis menjabat jadi Ibu Ketua Tim Penggerak PKK. Jadi, kalau gubernurnya wanita berarti nanti yang ada Bapak Ketua Tim Penggerak PKK dong? Ya nggak apa-apa, asal sepuluh program pokok PKK berjalan lancar, KB tersosialisasikan dengan baik, kesehatan anak dan balita terjamin. Pokoknya semua masyarakat sejahtera, adil, makmur, secara merata. Merdeka!

6. Mungkin panggilannya bukan Sultan, tapi Sultana kayak film Java Heat.

Sultana dalam film Java Heat

Mbak Sultana via www.google.co.id

Sultan itu panggilan untuk laki-laki, jadi kalau pemimpin kerajaannya wanita harus ada sebutan baru. Mungkin, panggilan baru itu adalah ‘Sultana’ seperti dalam film Java Heat. Eh, jangan-jangan film Java Heat itu memang dibuat memang mau spoiler tentang pemerintahan kerajaan Mataram selanjutnya. Atau gara-gara habis nonton film itu Sultan jadi terinspirasi untuk memberikan gelar pada putrinya.

7. Konon yang jadi penguasa Mataram otomatis bisa berkomunikasi langsung dengan Nyi Roro Kidul. Wah, kalau sultannya wanita Nyi Roro Kidul bisa punya teman ngerumpi, dong! #BFF

Jadi best-friend-an sam a Ratu Kidul

BFF Ratu Kidul via www.google.co.id

Menurut kearifan lokal, pemimpin kerajaan Mataram memiliki kemampuan untuk berkomunikasi langsung dengan Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul, si penguasa pantai selatan. Mungkin selama ini, Nyi Roro Kidul bosan terus-terusan berhubungan dengan cowok. Nah, kalau pemimpinnya wanita, mungkin Nyi Roro Kidul akan senang karena punya teman baru untuk ngobrol, gosip, curhat, pokoknya bisa girls time bareng lah! Bosen dong ngobrol sama cowok terus paling yang dibahas kalau nggak sepak bola ya politik. Sekali-kali bahas tren kebaya yang lagi hits kan nggak apa-apa biar nggak stress.

8. Mungkin Jogja nggak butuh ngirim wakilnya ke ajang Puteri Indonesia. Ngapain punya puteri kalau Jogja udah punya Ratu?

Kita udah punya Ratu!

Kita udah punya Ratu! via www.tribunnews.com

Setiap ada kontes Puteri Indonesia, setiap daerah pasti mengirimkan wakilnya untuk bersaing dengan perwakilan dari provinsi lain. Karena Jogja sudah punya Ratu, jadi Jogja nggak perlu mengirim wakil putri-putrian.

“Kita udah punya Ratu…”

9. Semoga aja jadi Ratu Adil bukan seperti Ratu yang itu tuh… #YouKnowWho

Semoga Jogja dapat pemimpin yang terbaik!

Semoga Jogja dapat pemimpin yang terbaik! via www.google.co.id

Kalau pun nanti yang memimpin Jogja adalah seorang ratu, semoga itu jadi Ratu Adil, bukan ratu-ratuan kayak yang itu tuh!

Mau raja ataupun ratu yang memimpin Jogja, yang penting Jogja tetap jadi daerah yang istimewa bukan hanya dari gelar atau branding-nya nya tapi juga keramahan kota, budaya dan orang-orang di dalamnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya