Seburuk-buruknya Mantan, Dia Sempat Membuatmu Bahagia. Agak Aneh Kalau Sekarang Kamu Menghujatnya

Berteman dengan Mantan

“Hah siapa? Rino? Mantan gue yang freak abis itu? Ya elah, ganteng dari mana? Lo nggak tahu aja dia tuh kalau janjian selalu ngaret, nggak pernah mandi. Dan lo tahu yang paling parah? Dia pernah dapat nilai E!”

Advertisement

Patah hati nggak pernah jadi hal yang mudah dihadapi. Apalagi kalau putusnya nggak baik-baik. Rasa sebal, marah, dan mungkin dendam itu membuncah di dada. Lalu hasrat untuk menjelek-jelekkannya pun begitu besar. Saking menggebu-gebunya, sampai lupa kalau dulu si mantan pernah mewarnai hatimu dengan merah jambu. Padahal seburuk apa pun mantan di matamu saat ini, dulu kalian pernah bahagia. Yuk coba direnungkan lagi. Sebelum menghujat mantan, ingat dulu beberapa hal ini.

1. Meski sekarang menjengkelkan dan namanya haram kamu ucapkan, dulu dia pernah membuatmu refleks tersenyum kecil hanya melihatnya

dulu dia bikin kamu tertawa via unsplash.com

Sekarang, namanya terdengar seperti suara gesekan dua besi di telingamu. Ngilu. Lalu moodmu jadi terjun bebas dan membuatmu bete seharian. Ironis ya, karena dulu kamu bisa senyum-senyum gaje hanya karena melihat namanya muncul di tab notifikasi.

Sekarang kamu menghindari segala obrolan soal dia, dan malah berujung membongkar semua aib-aib keburukannya. Tapi dulu setiap hari kamu terus ngomongin si dia begini si dia begitu. Seolah semua yang dia lakukan menarik hatimu. Meski sekarang menjengkelkan, si mantan pernah membuatmu tersipu dan berbunga-bunga. Hargai itu dengan tak mengumbar aibnya.

Advertisement

2. Sekarang melihatnya sliweran di medsos bikin kamu badmood. Tapi dulu kamu pernah badmood saat dia tak kunjung ada kabar bukan?

dulu uring-uringan kalau dia nggak ada kabar via unsplash.com

“Ih ngapain siih dia tuh update mulu! Males banget lihatnya. Mana update-nya begitu doang lagi. Masa cangkir kopi doang difoto. Alay banget. Pengen gue block tapi ya gimana…”

Wajar kok kalau kamu malas melihat namanya sliweran di media sosial. Rasanya seperti ada tonjokkan kuat di perut bukan? Tapi ya nggak perlu dihujat juga, apa pun postingannya. Jangan lupa dulu kamu sering uring-uringan kalau dia nggak ada kabar. Akhirnya kamu pun stalking medsosnya seharian. Kalau memang postingannya mengganggumu, lebih baik block saja. Setiap orang butuh waktu untuk menyembuhkan hati kok.

3. Saat hasrat untuk menghujat menggebu, ingat bahwa dulu kamu pernah memujanya selangit. Menjilat ludah sendiri kan malu

Advertisement

dulu kamu memujanya setengah mati via pixabay.com

“Kenapa sih dia tuh? Rambutnya berantakan banget! Ke kampus nggak pake mandi dulu kali ya?”
“Bukannya dulu kamu suka banget lihat rambutnya yang berantakan? Seksi gitu kan katamu?”
“Emang ya? Well…itu kan dulu.”

Sebenarnya bisa dimengerti kenapa kamu senang sekali menghujat dan menjelek-jelekkannya. Karena kamu butuh sesuatu untuk melampiaskan rasa kecewa dan amarahmu. Tapi saat kamu tergoda melakukannya, coba pikirkan lagi.

Ingat dulu kamu pernah begitu memujanya. Ingat dulu nggak ada hari yang kamu lewatkan tanpa memuji-muji dia sampai temanmu bosan mendengarnya. Well, sekarang kamu nggak lagi merasakan hal yang sama, ada baiknya hal-hal buruk tentangnya disimpan sendiri saja ‘kan? Biar nggak terkesan menjilat ludah sendiri 😀

4. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di hari-hari selanjutnya nanti. Bila kamu jatuh cinta lagi, bukankah sama artinya menjilat ludah dua kali?

siapa tahu nanti naksir lagi via pixabay.com

Dulu kamu jatuh cinta setengah mati. Sekarang kamu benci setengah mati. Bukan mustahil kalau nanti di masa depan kamu cinta (lagi) setengah mati. Namanya juga hidup, kadang-kadang nggak bisa diprediksi. Jadi, kalau sekarang rajin mengutuk namanya dan membongkar semua aibnya, lantas di masa depan ternyata kamu jatuh cinta lagi padanya, coba pikirkan akan selucu apa?

Teorinya sederhana. Tak perlu membenci orang sebegitunya, karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi di depan. Bisa saja dia yang kamu benci justru menyelamatkan hidupmu. Nah, mantan juga sama. Daripada kamu tengsin nanti, lebih baik sekarang dijaga lisannya.

5. Memang benar bagimu dia adalah kesalahan. Namun, jangan lupa bahwa setiap kesalahan ada hikmah yang bisa membuatmu lebih berkembang

selalu ada hikmah via www.pexels.com

Hubunganmu dengannya memang sebuah kesalahan, setidaknya untuk saat ini. Sebuah kesalahan yang kamu sesali dan berharap tak pernah lakukan. Kalau hidupmu itu komputer, rasanya kamu pengen menekan ctrl+del di bagian itu, lalu menghapusnya pula dari recycle bin. Pokoknya, musnah!

Tapi jangan lupa bahwa setiap orang memang pernah melakukan kesalahan. Nggak perlu malu apalagi ingkar. Kalaupun hubungan kalian sebuah kesalahan, kenapa nggak diterima saja dan dijadikan pelajaran untuk lebih baik dari sekarang? Selalu ada hikmah dari sesuatu yang salah, tinggal bijak-bijak saja kita mengolah.

6. Kesal dan marah setelah disakiti itu hal yang wajar. Tapi apa tidak mau bersikap dewasa dengan tidak mengumbar aib-aib mantan?

sakit hati itu wajar via www.pexels.com

Harus melepaskan harapan yang sudah melambung tinggi, dan mengemui fakta bahwa dia tak sebaik yang kamu kira, memang cukup berat. Apalagi mengobati luka bila dia perginya setelah menyakitimu sedemikian rupa. Namun, salah satu contoh sikap dewasa adalah bisa menerima kegagalan dengan hati lapang. Juga menjadikan kegagalan itu sebagai ilmu dan pelajaran untuk hidup ke depan.

Sebaliknya, mengumbar aib mantan dan menghujatnya setiap ada kesempatan justru menunjukkan bahwa kamu belum bisa menerima kegagalan. Mungkin juga menjadi tanda bahwa sebenarnya kamu belum bisa mengikhlaskan.

Bukannya memaksamu berteman dengan mantan. Kamu berhak nggak melakukannya kalau memang belum siap. Namun, nggak berteman bukan berarti boleh menjelek-jelekkan bukan?

Seburuk apa pun mantan di matamu sekarang, dulu dia pernah jadi orang yang selalu ada untukmu. Dia pernah menjadi orang yang membuatmu tertawa hanya dengan kehadirannya. Dia pernah menjadi orang yang paling mengertimu luar dalam. Dia pernah membuatmu jadi orang paling bahagia. Meski kini hubungan itu gagal dan dia tak lagi kamu miliki, tak ada salahnya tetap menghargai dia sebagai seseorang yang pernah ada dan memberi warna di hidupmu dan kepergiannya mengajarimu untuk tetap tegak berdiri.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE