Banyak yang bilang, “Kalau udah putus ya putus aja. Ngapain berteman kalau nanti bikin kamu tetap sakit hati?”

Menerima kenyataan hubungan kalian sebagai pasangan selesai saja bukan hal yang mudah. Urusan perasaan nggak perlu ditanya bagaimana rasa sedihnya. Mengingat kamu kehilangan sosoknya sebagai pasangan, tapi kalian sendiri masih selalu punya kemungkinan untuk bertemu.

Atas alasan tak ingin lebih merasa sedih atau sakit hati itu, yang buat banyak orang memilih benar-benar menjahui mantan. Bahkan ada juga yang justru jadi saling bermusuhan. Ada yang beranggapan, kalau masih berteman dengan mantan kamu sendiri akan susah move on darinya. Padahal tetap menjalin hubungan dengan mantan nggak selalu memberikan dampak negatif, dan sebaliknya bermusuhan dengan mantan bukan jadi pilihan terbaik.

Kedewasaanmu justru terbukti saat kamu memutuskan berteman dengan mantan. Bukan karena kamu masih berharap balikan. Tapi alih-alih menjahui dan memusuhi mantan buat kamu baper terus-terusan. Ada baiknya kamu mempertimbangkan lagi beberapa alasan ini.

1. Karena putus sebagai pacar bukan berarti putus sebagai teman, nggak mungkin juga rasa sayang atau peduli hilang dadakan

Rasa peduli nggak mungkin hilang dadakan via dylandsara.com

Advertisement

Dari teman jadi pacar. Kalau putus, masa iya dari pacar lantas jadi musuhan. Keputusan kamu atau dia untuk mengakhiri hubungan pasangan tak harus sepaket dengan memutuskan hubungan sebagai teman. Ingat saja dulu sebelum kamu dan dia bermesraan, kalian pernah jadi teman biasa. Jadi, bukannya kembali jadi teman biasa harusnya tak akan sesulit saat kamu berkenalan dengan orang baru.

Toh mengubah perasaan sayang atau kebiasaan peduli pun tak bisa kilat dalam hitungan hari. Kamu perlu proses membiasakan diri untuk mengurangi rasa sayang dan peduli perlahan. Bukan hal yang tak mungkin, dengan menganggap mantan sebagai teman jadi salah satu cara kamu menetralkan perasaaan. Toh menjadikannya teman bukan dosa besar.

2. Bisa jadi kamu dan dia memang lebih cocok sebagai teman, yang saling berbagi banyak hal tanpa ada embel-embel keromantisan

ternyata lebih cocok jadi teman ya kita via www.logancoleblog.com

Sebenarnya kalian masih sama-sama nyaman dalam urusan berbincang atau sekadar berbagi tawa. Hanya saja dia atau kamu kadang punya keinginan yang tak bisa disamakan. Kadang salah satu di antara kalian merasa keberatan dengan keharusan-keharusan sebagai pasangan. Seperti saat dia menuntut kamu untuk lebih sering mengabari dalam setiap kesempatan, padahal kamu juga punya kegiatan lain.

Berbeda cerita ketika kalian kembali menjadi teman biasa. Kamu atau dia bisa lebih leluasa bersikap. Kamu bisa menyibukkan diri tanpa khawatir dengan komplainnya. Atau dia yang bisa merasa bebas melakukan apapun yang disukai. Tapi ada satu momen di mana kalian masih tetap bisa berbagi cerita, tertawa bersama, atau tetap jadi patner untuk urusan hobi. Awalnya mungkin berat, tapi akhirnya kamu bisa lebih realistis dengan hubungan yang sekarang sebagai teman.

3. Meski tak lagi jadi kesayangan, mantanmu tetap bisa dipercaya jadi salah satu orang yang mengerti kamu luar dalam

Tetep bisa jadi teman yang mengerti kamu luar dan dalam via dylandsara.com

Masa pacaran kamu dan dia sendiri bisa dibilang tak sebentar. Dalam hitungan hari, minggu sampai berbulan-bulan lamanya itu kalian saling mengenal karakter lebih dalam. Kamu tahu dia sudah hapal sekali dengan bagaimana keras kepalanya kamu soal renjana yang dirimu punya. Dia sendiri sadar kamu satu-satunya orang yang tahu di balik sikap ramahnya, dia sendiri pribadi yang mudah panik dan cuek sekali.

Sudah sejauh itu saling mengenal, apa iya kata “putus” layak membuat kamu dan dia bermusuhan hingga seperti tak saling kenal. Harusnya meski kamu tak lagi jadi kesayangannya, dia tetap bisa kamu aja berbincang hal-hal penting. Seperti saat kamu bingung antara mencari pekerjaan baru atau meneruskan tawaran beasiswa. Dia tahu mengambil beasiswa di tempat baru lebih bisa memuaskan rasa keingintahuanmu. Dibandingkan kamu bekerja di tempat berbeda tapi masih satu kota.

Tanpa kalian sadari, putusnya hubungan kalian justru memberi kesempatan kamu dan dia untuk jadi sahabat baru.

4. Daripada diam-diaman cuma buat kamu dan dia semakin canggung, ngobrol sekadarnya toh juga bukan dosa besar

Bercanda dengan mantan juga bukan dosa besar via www.logancoleblog.com

Bertemu, saling padang, tapi tak ada sapaan yang keluar. Layaknya dua orang yang mencoba membunuh ingatannya masing-masing, kalau di waktu sebelumnya kalian selalu kemana-mana bersama. Apalagi kalau kamu dan dia punya teman-teman yang sama. Tak mungkin kan saat sedang berkumpul, kamu berbincang dan bercanda dengan semua orang tapi tak menyapanya.

Jangan dipikir kamu atau dirinya saja yang merasakan kecanggungan itu. Diam-diam temanmu yang lain pun pasti merasakan jurang yang sedang kalian ciptakan. Alih-alih semua benar terjadi, tak ada salahnya kalau kamu tetap menjaga komunikasi dengannya. Toh menjadikan mantan teman berbincang bukan suatu dosa besar. Jangan sampai juga putusnya kamu dan dia mempengaruhi kenyamanan teman atau lingkungan kalian.

5. Karena berdamai dengan mantan jadi salah satu jalan sebelum akhirnya kamu berdamai dengan perasaan

berdamai dengan dia dulu, baru dengan perasaanmu via www.logancoleblog.com

Setiap orang pasti ingin cepat sembuh dari perasaan kecewa karena patah hati. Tapi sayangnya tak semua orang mengerti, menyembuhkan patah hati tak harus menghindari atau memusuhi masa lalu termasuk mantan. Jujur saja, semakin kamu menghindar dan memusuhi mantan, semakin sering pula kamu resah dan tak bisa lepas darinya. Kalau begini caranya, bagaimana bisa kamu berdamai dengan perasaanmu sendiri?!

Padahal kalau saja kamu berdamai dengan mantanmu, dan menjadikannya teman. Move on memang berat, tapi tak seberat saat kamu terus menyalahkannya. Akan ada satu momen di mana kamu berpikir, ya udahlah apa gunannya dendam dengan mantan. Mungkin memang lebih baik kamu dan dia jadi teman dan berjalan ke depan sendiri-sendiri. Sampai kapan juga kamu akan menyalahkan mantan dan takadir Tuhan kalau kalian tak bisa berjodoh?

6. Kalian pernah punya hubungan yang baik. Sebisa mungkin tetap jaga itu, meski kamu dan dia tak lagi pernah sama

Jaga terus kata “baik-baik” meski kalian berpisah via www.logancoleblog.com

Kamu ingat bagaimana dulu kalian saling mendekatkan diri? Apa disaat itu juga pernah terlintas benci atau sesuatu hal yang tak baik? Jawabannya pasti tidak pernah. Kamu dan dia mengawali semuanya dengan baik-baik. Karena kalau saja tak baik-baik mana mau kamu ataupun dia memutuskan untuk berpacaran.

Jadi setelah selama ini dekat dan berbagi kebahagian dengan baik-baik, apa iya kamu mau membuat kata “baik-baik” berakhir di sudut kesia-siaan karena pilihan sikap bermusuhanmu?

Pikirkan lagi saja. Berteman dengan mantan bukan hal yang memalukan. Justru kamu menunjukan kedewasaan, dengan tetap mengakuinya sebagai sosok yang pernah membuatmu jatuh hati.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!