Liburan yang lalu ibu bertanya lagi. Pertanyaan yang sama, yang sudah kudapatkan setiap momen liburan tiba. Kenapa belum ada seseorang yang kubawa pulang untuk diperkenalkan kepada keluarga?

Hidup ini memang terkadang lucu. Dulu saat masih remaja, kita diomeli bila membawa pulang teman lawan jenis. Sekarang kita diomeli bila pulang ke rumah sendirian tanpa pasangan. Agaknya semua bergantung waktu, sehingga satu nilai yang sama tak bisa diterapkan di watu lainnya.

Kini merayakan ulang tahun terasa menggelikan. Setiap angka bertambah, semakin banyak pula pertanyaan yang hadir

ulang tahun seperti deadline skripsi via unsplash.com

Advertisement

Omong-omong, apakah kamu mengalami hal yang sama? Terus menerus diberi pertanyaan serupa dan ditatap dengan pandangan menuntut (kadang juga prihatin), hanya karena kamu tak kunjung menyusul teman-teman yang sudah melangkah ke pelaminan? Ah, kamu ‘kan laki-laki. Tentu tekanan tentang “deadline” yang satu ini tak terlalu kamu alami. Sebab aku adalah perempuan, setiap angka-angka di kalender bagaikan deadline skripsi yang sudah terlewat. Harus segera lulus, kalau tak ingin keburu drop out di tengah jalan.

Dulu aku yakin jodoh itu tak perlu ngoyo ataupun merepotkan. Sebab bila namamu tertulis dalam takdirku, maka tak ada yang lain yang bisa mengganggu

soulmate via unsplash.com

Di masa kecil, segalanya begitu sederhana. Berkat buku-buku dongeng yang kubaca, aku percaya bahwa ada seseorang yang diciptakan untukku di suatu tempat di belahan dunia. Meski Tuhan masih menyimpannya entah di mana, tapi aku yakin bahwa kamu ada. Lantas, bila namamu sudah tertulis pada takdirku, maka segalanya akan baik-baik saja. Tak ada kesulitan, lancar-lancar, sebab tak ada yang bisa mengalahkan sabda semesta. Lantas setelah lamanya penantian yang tak kunjung menemui jawaban, aku mulai bertanya: apakah aku mempercayai konsep yang salah?

Kini, semakin aku dewasa, semakin aku meragukan konsep jodoh yang sering digaungkan. Aku tak lagi yakin ada seseorang yang benar-benar diciptakan untuk kita

apakah jodoh benar-benar ada? via www.pexels.com

Lucunya, apa yang kupercaya di waktu kecil itu semakin pudar seiring aku dewasa. Apa yang kutonton di tayangan-tayangan Disney atau buku-buku dongeng dengan ending happily ever after itu terasa kurang masuk logika. Aku tak lagi yakin bahwa ada seseorang yang benar-benar diciptakan untuk kita. Atau bisa saja ada, tapi bukankah manusia dikaruniai kehendak bebas? Lantas bagaimana bila dia yang diciptakan untukku justru memilih hidup selibat ataupun bertahan dengan cinta yang salah? Sementara aku ditinggalkan sendirian dalam penantian?

Namun, konsep “jodoh” itu bisa diciptakan. Tergantung seberapa jauh kita mau berjuang dan bersedia berkompromi atas banyak hal

jodoh soal kompromi via www.pexels.com

Advertisement

Semakin lama semakin kupikirkan, semakin pusing saja rasanya. Hei, apakah kamu pernah iseng memikirkannya juga? Bukannya aku menolak segala konsep tentang jodoh. Aku percaya jodoh itu ada, yaitu seseorang yang “kompatibel” dengan diri kita. Seseorang yang bisa kita terima kekurangan dan kelebihannya. Seseorang yang bisa mengimbangi langkah kita sehari-hari, sehingga perbedaan tak lagi jadi persoalan. Sosok seperti ini bisa diciptakan, tergantung seberapa jauh kita mau berjuang. Lagipula, kebersamaan itu selalu tentang kompromi bukan?

Kita bukan dua anak manusia yang berjumpa dalam kebetulan semata. Kita adalah dua manusia yang sama-sama punya keinginan untuk bersama meski tak mudah jalannya

bersama karena perjuangan via www.pexels.com

Ketika aku bicara soal kompromi, mestinya, jodoh adalah ia yang membuatku mau berkompromi atas banyak hal. Ia pun sama. Kami adalah dua orang yang saling meredam sisi ke-aku-an masing-masing. Sehingga, kita berdua bukanlah dua anak manusia yang bertemu dengan kebetulan semata. Bukan dua anak manusia yang dimanjakan dengan alur semesta. Melainkan dua orang yang sama-sama bodoh tentang cinta, lalu belajar dan berjuang bersama. Menapaki tahap demi tahap yang hubungan, yang tak selalu bahagia, tapi worth it untuk diperjuangkan.

Jika saat itu datang, maukah kamu berjanji untuk lebih sabar menghadapi sikap keras kepalaku? Juga hatiku yang terkadang A dan terkadang B seperti cuaca di musim pancaroba?

bersabarlah menghadapi sikapku via pixabay.com

Tak bisa dimungkiri, aku menantikan momen itu. Titik di mana kali pertama kita bertemu. Mungkin karena kecerobohanku yang menarik perhatianmu. Atau bisa juga sebenarnya kita sudah berjumpa, hanya rasa saja yang belum bertemu. Namun, pertemuan itu hanya titik awalnya. Perjalanan kita masih panjang. Jadi kumohon, jika saat itu tiba, bersabarlah menghadapi sifat labilku yang melelahkan ini. Jangan menyerah menghadapi aku yang seringkali keras kepala dan membuat hatimu jengkel lagi dan lagi.

Aku yakin kita akan berjumpa sesaat lagi. Dan jika saat itu tiba, maukah kau selalu mengingatkanku untuk terus berjuang ketika aku ingin berhenti?

ingatkan aku untuk tetap berjuang via www.pexels.com

Aku tahu perjuangan kita nanti tidak akan semudah cerita di FTV. Mungkin kamu akan membuatku menangis, dan mungkin aku akan membuatmu berkali-kali mengelus dada karena emosi. Mungkin ada momen-momen di mana kita begitu putus asa, lalu aku ingin berhenti. Saat momen itu tiba, kumohon ingatkan lagi tentang perjuangan kita. Ingatkan aku untuk terus berjuang saat aku ingin berhenti. Ingatkan aku bahwa hubungan ini layak untuk diperjuangkan sekali lagi.

Kuharap siapa pun engkau di sana, kita berdua adalah orang yang sama-sama mengerti bahwa jodoh itu bukan tanpa upaya. Siapa pun engkau di sana, jangan bosan berusaha, sebab kita akan segera berjumpa. Ketika hari itu tiba, mari berjuang, sampai akhirnya kita bisa tertawa bersama di hari senja, menikmati konsep jodoh yang kita ciptakan sendiri.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya