Hubungan jarak jauh, atau bahasa kekiniannya LDR, terjadi karena berbagai macam alasan. Ada yang dipaksa keadaan, ada yang karena tuntutan perasaan — terlanjur jatuh cinta sama yang jauh atau sudah terlanjur jauh-jauhan sama yang membuatnya jatuh cinta. Kamu yang selama ini belum pernah menjalaninya mungkin masih belum tahu LDR itu seperti apa. Sebenarnya LDR itu banyak nggak enaknya. Di balik “kebebasan” atau “pendewasaan” yang digadang-gadang, yang namanya LDR itu tetap banyak pengorbanan. Ini nih 5 hal yang membuatmu bersyukur tidak sedang menjalani LDR!

1. Saat LDR, kalian tak bisa secara fisik bersama. Akan ada saat-saat yang ingin kamu bagi dengannya, tapi dia tidak ada

sering jalan bareng dan ngobrol sambil tatap muka? anak LDR mana bisa! (photo: pixabay.com)

‘Bersama’ dalam hal ini dapat diartikan secara harfiah, tentang keberadaan fisik. Jarak yang jauh antara tempat tinggalmu dan pasanganmu tentu akan menyulitkan kalian untuk sering-sering bertemu, Dalam jarak antara pertemuan satu dengan lainnya, mungkin saja banyak hal seru, momen penting, juga peristiwa-peristiwa yang sebenarnya biasa aja—tapi kamu merasa akan lebih baik jika dia ada. Akan sangat menyedihkan ketika kamu menyadari bahwa seseorang yang sangat kamu inginkan keberadaannya, nggak ada di samping kamu. Sewaktu kamu pergi ke mall sama teman-teman, atau sewaktu ngerjain kerjaan dengan numpang WiFi di kafe, di jalanan yang kamu lewati ketika kamu bepergian, atau di manapun, pasti ada masanya kamu termenung dan merasa ada ruang kosong dalam hati kamu, karena ketidakhadiran fisiknya di dekatmu.

2. Saat LDR kamu seolah tidak sedang jatuh cinta. Kamu tak bisa mengekspresikan perasaan sebagaimana pasangan-pasangan lainnya

Mau mengekspresikan perasaan seperti ini? Pasangan LDR harus menunggu beberapa bulan sekali (photo: pixabay.com)

Perasaan saat jatuh cinta itu… indah. Pastinya banyak perasaan di dalam dada yang meluap-luap minta diutarakan, entah ke dalam apapun bentuknya. Sekadar berkata-kata sayang mungkin bisa dilakukan oleh pasangan LDR, tapi apa itu cukup? Nggak semua rasa sayang bisa tersampaikan dengan kalimat “aku sayang kamu..”. Kata ‘cinta’ itu sendiri memiliki banyak turunan, dan bentuknya nggak melulu berupa kata. Kadang cinta berupa genggaman tangan saat jalan bersisian menembus keramaian, kadang cinta berupa pelukan ‘sampai jumpa besok’ di teras rumah pada penghujung hari, kadang cinta berupa belaian menggemaskan di kepala, kadang juga cinta berupa binar mata ketika duduk berhadapan dan bercerita tentang apa saja. Bagaimana bisa yang semacam itu diungkapkan lewat kata-kata?

3. Kadang hidup pasti ada berat-beratnya. Saat LDR, kamu tak bisa berbagi beban ini dengan dia

Advertisement

Sebab nggak semua kegelisahan bisa ditenangkan dengan pelukan virtual. (photo: pixabay.com)

Pekerjaan yang menumpuk, persinggungan dengan teman di lingkungan, masalah sama bos di kantor, urusan skripsi, atau sekadar pundak yang pegal setelah seharian beraktivitas, juga otot-otot wajah terasa kaku akibat banyak memasang wajah serius sepanjang hari, adalah beberapa contoh kecil mengenai hal-hal yang tanpa sadar membuat kamu frustrasi. Hidup manusia nggak selalu mulus, nggak selalu senang, nggak selalu bahagia, dan kita butuh seseorang sebagai ‘obat’ pereda stres kita. Ketika kamu memiliki pasangan, tentu kamu ingin dialah yang menjadi pereda stres itu. Duduk sambil menikmati minuman kesukaan, menonton film bagus yang lagi tayang di bioskop, bahkan cuma nyender-nyender sambil melingkarkan tangan di tubuhnya saat boncengan di motor aja bisa jadi obat stres. Ya, kan?

Kalau kamu LDR, kamu harus mengubur keinginanmu dalam-dalam akan hal itu dan mensugesti dirimu sendiri untuk selalu merasa cukup dengan ungkapan-ungkapan sayang yang disampaikan melalui kata-kata di pesan instan plus pelukan-pelukan virtual.

4. Nggak hanya gak bisa berbagi kesedihan. Berbagi kebahagiaan pun jadi hal yang menantang

Berbahagia sendirian akan jauh lebih menyedihkan daripada sendirian saat bersedih (photo: pixabay.com)

Ketika kamu merasa sedih dan dia nggak bisa ada di deket kamu untuk menenangkan itu memang menyedihkan, tapi, ketika dia nggak bisa kamu hampiri dengan setengah berlari untuk memberinya pelukan saat kamu mendapat kabar bahagia, itu jauh lebih menyedihkan. Betapapun hebatnya perasaan bahagiamu, tetap akan ada satu keganjilan dalam diri yang menuntut untuk digenapi; dengan keberadaannya.

5. Saat kamu LDR, kamu nggak akan bisa mengakhiri perselisihan dengan pelukan

Pasangan LDR harus berpuas diri maaf-maafan via chat sesudah bertengkar. *puk-puk* (photo: Pixabay.com)

Kata-kata sangat berpeluang menimbulkan terjadinya misinterpretasi antar dua orang yang berkomunikasi. Ngomong a kecil, disangkanya A kapital. Ngomong ini, dikiranya anu. Banyak sekali peluang untuk bersalah sangka. Jangankan saat beneran lagi berselisih, kamu berniat untuk pura-pura ngambek dengan maksud hati mau lucu-lucuan atau cari perhatian aja, bisa-bisa dikira marah sungguhan, kemudian nanti yang ada ujung-ujungnya malah berantem beneran. Cuma anak-non-LDR yang bisa drama, tapi saling curi pandang, terus beradu tatap, lalu ketawa sambil pelukan. Mengakhiri perselisihan dengan pelukan itu kemewahan yang sangat menenangkan, dan bagi anak LDR itu adalah ‘barang’ langka.

Banyak hal yang akan terlewatkan dari satu sama lain ketika kamu memutuskan untuk menjalani long distance relationship. Sadar atau tidak, itulah konsekuensi yang harus diterima ketika cintamu jatuh pada seseorang yang jauh. Tapi, bukan berarti LDR itu buruk dan nggak layak dijalani, lho. Untuk menjalani setiap hubungan, jauh maupun dekat, kunci yang dibutuhkan hanya satu; temukan pasangan yang tepat.

Banyak hal dalam cinta yang cepat-atau-lambat akan muncul dan menuntut diperjuangkan. Dengan orang yang tepat perjuanganmu nggak akan terlalu berat, karena ia nggak akan memberatkanmu dan tentu nggak akan membuatmu merasa keberatan. Orang yang tepat nggak akan membiarkanmu berjuang sendirian, dan orang yang tepat nggak akan menjadikan jarak sebagai alasan untuk membuat kalian berhenti saling membahagiakan. So, kamu pilih LDR atau nggak?