Menapaki usia kepala dua, perhelatan melepas masa lajang jadi hal yang berubah jadi cita-cita. Undangan dari kawan yang siap menghela peralatan mulai berdatangan — membuatmu merasa tergoda untuk menyusul mereka yang segera sah jadi pasangan.

Namun, yakinkah kamu, bahwa kamu dan kekasih sudah benar-benar siap membangun biduk rumah tangga berdua? Atau jangan-jangan kamu hanya ingin saja, tanpa punya kesiapan yang mumpuni di baliknya?

Advertisement

Sebelum salah langkah, berikut Hipwee jabarkan perbedaan mereka yang sudah siap menikah dan mereka yang hanya sekedar bermodal keinginan.

Sadar pernikahan juga soal anggaran, kamu yang siap menjalani pernikahan akan bekerja keras demi persiapan. Sementara kamu yang ingin semata malah sibuk berandai-andai akan menikah dengan gaya apa

kamu tak sekedar sibuk mencari konsep pernikahan

kamu tak sekedar sibuk mencari konsep pernikahan via blushbotanicals.com

Ketika kamu sungguh sudah siap menapaki jenjang hidup baru bersama dengan pasangan, kamu akan giat bekerja siang malam. Kamu siap sedia mengumpulkan pundi rupiah demi masa depan yang sebentar lagi akan kamu jelang. Bekerja dengan keras membuatmu sadar bahwa menikah berarti kamu juga harus mandiri dalam hal keuangan demi memenuhi segala kebutuhan. Kalian pun akan mulai membuat kerangka kebutuhan berikut anggarannya. Bahkan, kalian mulai menabung sedari dini supaya apa yang kalian rencanakan bisa terpenuhi.

Berbeda dengan mereka yang hanya bermodal keinginan. Angan-angan merupakan santapan keseharian. Kamu dan pasangan hanya sibuk menciptakan impian tanpa berusaha merealisasikan. Hanya getol melihat ragam trend busana pernikahan serta berburu konsep pernikahan yang unik tanpa menyiapkan tabungan dan bekerja keras artinya kalian masih jauh dari kata siap. Kalian belum mengetahui benar bahwa menikah dan membangun keluarga itu memerlukan modal tak sedikit yang harus dikumpulkan. Dan itu tandanya kamu dan pasangan belum siap melangkahkan kaki ke pelaminan.

Kesiapan diri menikah ditunjukkan dengan kegetolan belajar ilmu pola asuh anak. Bukan cuma membayangkan akan memberi nama anak siapa, dan ingin punya anak berapa

kamu dan dia tak sekedar menyukai anak kecil

kamu dan dia tak sekedar menyukai anak kecil via jtobiason.com

Advertisement

Mungkin kamu dan pasangan sangat menyukai anak kecil, namun hal ini belum bisa dikatakan bahwa kalian siap membangun keluarga. Hanya sebatas suka, hampir tiap orang pun bisa melakukannya. Bahkan, gemar merawat anak kecil juga belum bisa dijadikan acuan bahwa kamu dan pasangan sudah siap menikah dan menjadi orangtua.

Namun, beda ceritanya bagi mereka yang siap menapaki jenjang hidup baru serta siap menjadi orangtua. Kamu dan pasangan tak hanya sekedar suka dan gemas pada anak kecil saja. Kalian mau membuka mata dan pikiran untuk menyerap ilmu baru yang bermanfaat bagi tumbuh kembang si kecil. Memang, saat menikah nanti kalian belum pasti langsung mendapat momongan. Namun, membekali diri dengan ilmu parenting merupakan sikap penting yang harus kalian punyai.

Kalian yang sudah tidak lagi impulsif mengeluarkan uang untuk nongkrong dan belanja layak masuk kategori pasangan yang siap melangkah ke jenjang selanjutnya. Kalau menabung masih jadi wacana — duh, yakin mau nikah sekarang?

Siap nikah?

Siap nikah? via mig.me

Kamu masih senang menghamburkan uang demi membeli kebutuhan yang tidak terlalu perlu. Begitu pula dengan ketidakmampuanmu untuk memanage pemasukan dan pengeluaran sehingga seringnya membuat keuanganmu timpang dan jarang menabung. Hal-hal itu merupakan penanda sederhana bahwa kamu dan pasangan memang belum siap untuk membangun sebuah mahligai rumah tangga. Jika kalian menikah nantinya, tentunya kamu dan pasangan harus memiliki kemampuan mumpuni dalam mengatur keuangan supaya dapur kalian tetap mengepul.

Namun, apabila sekarang kamu dan kekasihmu sudah benar-benar serius memetakan masa depan. Kalian tentu akan mengencangkan ikat pinggang demi menekan pengeluaran. Menghemat dan menabung banyak-banyak merupakan tujuan utama kalian setiap bulan. Kalian mengetahui betul bahwa banyak cicilan dan pengeluaran yang harus digelontorkan saat nantinya kalian mempersiapkan pernikahan dan memulai sebuah keluarga.

Kesiapan ditunjukkan dengan visi yang jelas soal masa depan. Sementara kamu yang belum siap justru ingin menikah hanya karena tekanan sosial dari keluarga dan teman-teman

kalian

kalian memiliki rencana matang untuk masa depan via www.buzzfeed.com

Bagi kamu dan pasangan yang sudah siap betul untuk menikah, maka kalian sudah menyiapkan mental dan memiliki planning yang matang untuk masa depan berdua. Tentunya kalian sudah berpikir bagaimana cara mengelola uang gaji. Bahkan, kalian sudah memiliki ancang-ancang dan siap mengikuti program KPR.

Berbeda jika kamu dan kekasih hanya bermodal ingin menikah saja. Keinginan kalian untuk buru-buru menikah terpancing karena banyaknya kawan yang sudah lebih dulu menapaki jenjang hidup ini. Kamu tentu sama sekali belum siap menikah jika terdorong hanya karena alasan sederhana ini. Sungguh, hidup ini bukan sebuah perlombaan.

Di mata mereka yang belum siap, pernikahan identik dengan fase hidup yang indah. Kesadaran bahwa menikah bisa menimbulkan masalah hanya dimiliki oleh mereka yang sudah punya kesiapan matang

kalian

kalian menyadari benar bahwa masalah kalian pasti bertambah via www.kdramastars.com

Terkadang orang yang hanya ingin menikah saja berpikir bahwa dengan menikah maka semua masalah akan hilang dan hari-hari bahagialah yang akan dijalaninya. Kamu dan pasangan memimpikan bahwa kehidupan kalian akan lebih mudah setelahnya. Bisa hidup serumah dan bertemu setiap hari. Bahkan mungkin saja kalian akan meyakini bahwa segala masalah pasti bisa terselesaikan karena kalian memiliki cinta yang kuat.

Namun, jika kamu dan kekasih benar-benar sudah siap menikah dan menjalani hidup baru dengan pasangan, kalian tentu sudah paham betul realitanya. Kalian menyadari bahwa dengan menikah bukan hanya hari-hari bahagia saja yang akan dilewati. Namun, ada juga serangkaian permasalahan berat yang akan menyambangi. Oleh karena itulah kalian tak buru-buru untuk segera melangkahkan kaki ke jenjang hidup baru. Kalian menyiapkan segalanya secara matang dan terperinci. Karena kalian ingin memiliki modal yang cukup demi membentuk sebuah keluarga.

Saat kata putus mudah terlontar setiap menghadapi masalah — keyakinan menikah masih perlu diperjuangkan sampai berdarah

kata putus tak akan terlintas di antara kalian

kata putus tak akan terlintas di antara kalian via alfonsolongobardi.tumblr.com

Ketika putus masih termasuk ke dalam opsi ketika kalian mulai bertengkar dan beradu pendapat bisa jadi ini tandanya kamu dan dia belum siap untuk menikah. Kamu dan dia masih sama-sama keras kepala dan belum mampu mengolah demi keutuhan berdua. Hasilnya, kata putuslah yang akan sering terlontar.

Namun, jika kamu dan kekasih sudah siap untuk menapaki jenjang yang lebih serius, kalian tak akan pernah melontarkan kata putus. Seburuk apapun pertengkaran yang kalian alami, kamu dan pasangan tetap menjauhkan kata putus dari arena perdebatan. Kata itu tak pernah terlontar, bahkan melintas pun tidak. Kamu dan dia paham benar bahwa kalian memang memiliki tujuan yang sama, mengikat janji suci sehidup semati. Oleh karena itulah, kamu dan dia sama-sama menjaga keutuhan hubungan berdua.

Kesungguhan membina hidup baru juga bisa dilihat dari upaya meleburkan diri di tengah keluarga. Tak cuma sekadar akrab, kalian pun berusaha berbakti pada kedua calon mertua

kamu sudah saling dekat dengan keluarga

kamu sudah saling dekat dengan keluarga via alfonsolongobardi.tumblr.com

Mungkin saat ini kamu dan pasangan sudah saling mengenal orangtua masing-masing. Kalian pun sudah menjalin hubungan baik dan kian akrab. Namun, sekali lagi, itu bukan merupakan sebuah tanda bahwa kamu dan pasangan sudah siap untuk menjadi satu keluarga.

Beda halnya jika kamu dan pasangan sudah sangat siap untuk membangun keluarga baru, maka kalian juga harus sudah saling bersedia melebur ke dalam keluarga masing-masing. Kamu tak akan segan membantu kedua orangtuanya, karena kamu memang telah siap menjadi putra-putri mereka. Begitu juga ketika keluarga pasangan memiliki acara besar, kamu tak akan segan membaur dan urun tenaga demi meringankan beban. Karena kamu meyakini benar bahwa sebentar lagi kamu juga akan menjadi bagian dari mereka.

Hidup ini bukan perlombaan dan menikah juga bukan merupakan garis finishnya. Jangan memutuskan untuk menikah ketika kamu belum siap mental dan tidak memiliki persiapan yang matang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya