Merawat Nyala Cinta supaya Tetap Hidup. Sudah Dilakukan atau Malah Nggak Kepikiran?

tips hubungan awet

Di banyak film animasi, cinta digambarkan seperti anak panah yang ditembakkan oleh makhluk bersayap bernama Cupid. Ketika panah itu menancap, dua orang yang berjodoh akan dipenuhi perasaan saling mengagumi dan menyayangi satu sama lain. Perasaan cinta membuat mereka mau lakukan apa saja demi pasangannya dan cinta itu juga yang menjaga hubungan mereka jadi happy ever after. 

Kamu mungkin tahu bahwa itu adalah ilustrasi fiksi alias khayalan belaka. Walau umumnya kita tidak meyakini bahwa cinta diatur dan diberikan oleh sosok Dewa Cinta, tetap banyak orang yang meyakini cinta adalah sesuatu yang berada di luar kendali kita. 

Coba ingat-ingat ada berapa banyak teman yang berkata, “Perasaannya sudah hilang,” seolah-olah cinta itu bisa datang dan pergi begitu saja. Perhatikan ada berapa banyak hubungan yang dibiarkan kandas dengan alasan salah satu pihak atau keduanya tidak merasakan cinta seperti awal. 

Saya punya pengalaman pribadi juga. Setelah berjalan dua tahun, pasangan saya saat itu tiba-tiba berkata, “Aku tidak yakin aku benar-benar cinta sama kamu.” Rasanya seperti disambar geledek mendengar pernyataan itu, khususnya karena hubungan kami tidak terasa ada masalah apa-apa. 

“Kalau aku benar-benar cinta sama kamu, nggak mungkin dong aku bisa cinta sama seseorang lainnya,” lanjutnya pendek, tidak berusaha menjelaskan wacana yang menggantung di ujung. 

Kalimat itu terdengar seperti geledek yang lebih besar daripada kalimat sebelumnya. 

Singkat cerita, kami putus. Atau lebih tepatnya, saya diputus. Saya berusaha meyakinkan dia sebaliknya, menjelaskan bahwa cinta itu tidak bisa hilang begitu saja, tapi tidak ada satu pun argumen bisa menyentuh hatinya yang dulu begitu lembut dan perhatian. Mungkin persis yang dia bilang, cintanya sudah hilang. Satu minggu setelah putus, seorang teman saya cerita melihat dia di sebuah kafe bercanda mesra dengan seseorang yang mungkin dia maksudkan dalam kalimatnya tempo hari. 

Selain mendengar cerita teman dan saya di atas, mungkin kamu sendiri pernah mengalami kehilangan perasaan cinta itu. Ini adalah fenomena global yang terjadi di periode pacaran ataupun berumah tangga. 

Jadi, benarkah cinta bisa tiba-tiba lenyap begitu saja? Benarkah perasaan hangat itu bisa dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya? Benarkah kita tidak memiliki kuasa atas perasaan cinta itu sendiri?

Ada yang meningkat, ada yang menghilang

Daripada bahas teori, mungkin lebih enak rasanya bila kamu bercermin dari pengalaman nyata. 

Saya ingin kamu menelusuri sepotong interaksi saya dengan Finda (bukan nama sebenarnya) dalam sebuah sesi marital coaching. Dia sudah menikah sembilan tahun dan dikaruniai dua orang anak kembar. Ini adalah sesi ketiga di mana saya bertemu dengan dia dan suami secara terpisah untuk mengeksplorasi masing-masing pribadi lebih dalam. 

Sebelum bertemu saya, mereka sudah berkonsultasi dengan psikolog untuk menggali akar masalah. Namun, mereka mengaku belum merasakan efek apa-apa dalam hubungan. Mereka tidak ada rencana bercerai, tapi hubungannya juga tidak kunjung membaik. 

Konsultasi/ Illustration by Hipwee

“Jelaslah aku tidak berniat cerai, tidak mungkinlah karena hubungan kami nggak ada masalah gimana-gimana kok. Tapi, jujur aku kebayang kok sedih jalanin hubungan yang kayaknya asing begini. Kami merasa kayak dua orang yang kebetulan tinggal bersama aja. Aku nggak berasa ada cinta lagi, padahal dulunya mesra banget. Sekarang rasa itu sudah pergi,” ujar Finda di ujung ceritanya tentang dilema yang sedang dihadapi. 

“Rasanya sudah pergi. Pergi ke mana?” tanya saya. 

Dia berpikir panjang sambil memutar-mutar cincin di jari manisnya seperti mencari putaran kombinasi yang bisa membuka kunci pintu hati yang tertutup. 

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Lex dePraxis adalah Love & Relationship Coach yang selama empat belas tahun ini menjadi pionir pengembang ilmu manajemen relasi cinta dan rumah tangga di Indonesia. Sebagai co-founder Kelas Cinta, visinya adalah menyejahterakan hidup manusia lewat peningkatan kualitas hubungan dan pernikahan, sesuai dengan mottonya, “Love beter, live better!”Seusai pendidikan di Universitas Indonesia, Lex rajin menambah berbagai kompentensi dan sertifikasi pengembangan diri dari dalam dan luar negeri. Beliau mempelajari teknologi alam bawah sadar dari Indonesian Board of Hypnosis, Neuro-Linguistic Programming dari NLP Consult Indonesia dan NF-NLP Florida, psikologi transpersonal dari Insight Institute Indonesia, life coaching dari Indonesia Association of Life Coach, professional coach dari Loop Institute of Coaching, serta Gottman Method Couples Therapy Level 1 & 2 dari The Gottman Institute