Pemuda pemudi merupakan harapan dan tumpuan bangsa. Sudah sering kita mendengarkan kutipan pendiri bangsa kita, “berikan aku sepuluh pemuda bla bla bla bla“. Ya! Dan, itu sangat benar karena jelas-jelas kita tidak mungkin menggantungkan nasib bangsa kita di tangan anak di bawah umur atau orang tua-orang tua yang memasuki masa pensiunnya.

Bisa-bisa, kita dianggap sebagai bangsa yang tidak beradab.

Sumber pendapatan (atau mungkin hidup-mati) negara dan bangsa kita berasal dari produktivitas kita-kita ini, para pemuda pemudi.

1. Bayar Pajak (atau tidak sama sekali)

Tax Amnesty via http://birokreasi.com

Belakangan ini, kalian sering mendengarkan kan tentang Tax Amnesty –dan penulis enggan menjelaskan lebih jauh tentang ini sebab sudah banyak yang membahasnya di luar sana- bahwa intinya negara membutuhkan uang untuk berjalan.

Advertisement

Negara kita, sebagian besar bertumpu pada pendapatan-pendapatan yang bersumber dari pajak dan juga pendapatan non pajak (semisal retribusi, konsesi dsb.).

Akan lebih mudah jika pajak-pajak yang selama ini kita bayarkan itu dapat kita ketahui jelas kemana alokasinya. Sehingga dengan prinsip, "Stick and Carrot/punishment and reward“ kita dapat dengan mudah menghakimi pos-pos pemerintahan yang berjalan kurang baik –atau korup.

Contohnya, jika kepolisian banyak melakukan kasus kriminalisasi/salah tangkap -seperti yang belakangan ini santer terdengar- dengan mudah kita dapat memberikan hukuman kepada pihak kepolisian dengan tidak membayarkan pajak-pajak yang dialokasikan kepadanya. Dan berlaku juga sebaliknya.

Advertisement

Tanpa perlu lagi kita menunggu 5 tahun mendatang, menunggu masa Pemilu untuk memilih para politisi yang berjanji untuk mereformasi kepolisian; yang kemudian hanya menjadi janji-janji belaka.

Melihat kenyataan tidak ada hal yang semacam itu di pemerintahan-pemerintahan di dunia saat ini –transparansi alokasi pajak untuk pembiayaan pos-pos pemerintahan tertentu. TIDAK membayar pajak SAMA SEKALI dapat menjadi sebuah bentuk hukuman kepada pemerintah yang tidak mau membenahi dirinya sendiri.

2. Belanja di pasar tradisional dan warung kecil/toko kelontong.

Traditional Market via http://www.thepresidentpost.com

Belanja di Supermarket/swalayan dan Minimarket memang lebih murah bukan? Lebih murah karena sebenarnya mereka memotong rantai pasokan menjadi lebih pendek. Tetapi masalahnya, keuntungan terbesar dari praktik-praktik Supermarket/swalayan dan Minimarket ini adalah lebih banyak kepada pemilik modalnya dan bukan pekerjanya.

Dengan berbelanja di pasar tradiisional dan warung kecil/toko kelontong anda akan memberikan keuntungan kepada orang-orang yang berada di rantai pasokan –dari atas/produsen sampai ke bawah/pemilik warung. Keuntungan akan lebih banyak beredar dibandingkan dengan praktik Supermarket/swalayan dan Minimarket yang mengakumulasikan keuntungan pada pemilik-pemilik modal.

Artinya, jika kita terbiasa berbelanja di pasar tradisional dan warung kecil/toko kelontong, kita dengan aktif akan memperkecil ketimpangan ekonomi yang ada –dan memperlemah kekuasaan oligarki (kalau anda mengerti :p).

Semakin kecil ketimpangan, semakin baik kualitas demokrasi di negara yang demokratis.

Semoga bapak/ibu warungnya juga tidak membeli di Swalayan/Minimarket karena sama saja bohong.

3. Bertani

Salinas Farm via http://www.takepart.com

Hal lain yang bisa memperbaiki dunia politik negeri ini adalah bertani.

Dengan banyak pemuda/i di usia produktif bertani, semakin besar pula kemandirian negeri ini.

Negara tidak perlu lagi mengimpor produk pertanian sana-sini.

Bertani saat ini, memang tidak menjamin seseorang menjadi orang yang kaya raya. Akan tetapi, dengan banyaknya pemuda/i bertani, minimal, lebih banyak lagi orang bisa hidup mandiri dengan hasil pertaniannya –dengan syarat tidak melakukan pertanian monokultur/satu jenis saja.

Banyaknya pemuda/i yang bertani juga mengakibatkan, tidak banyak orang yang akan membanjiri pasar tenaga kerja tenaga kerja di perkotaan, sehingga daya tawar buruh semakin meningkat. Masih ingat rumus ekonomi sederhana, „banyaknya permintaan, sedikitnya penawaran“ akan meningkatkan harga?

Ujungnya, bertani juga akan memperkecil ketimpangan di negeri ini. Kembali lagi, semakin kecil ketimpangan, semakin baik kualitas demokrasi di negara yang demokratis.

4. Menganggur

1981 People Pix via https://upload.wikimedia.org

Menganggur adalah hal yang paling sederhana untuk mengkritik pemerintahan dan berkontribusi pada dunia politik yang ada.

Satu hari menganggur, perusahaan-perusahan besar akan mengalami rugi ratusan milyar. Dengan tidak adanya barang yang diproduksi, tidak ada pula pajak-pajak ataupun cukai yang bisa ditarik oleh pemerintah.

Satu minggu menganggur, perusahaan-perusahaan besar akan mulai berfikir untuk berlari ke luar negeri karena keuntungan yang hampir 0 jelas tidak bisa menutupi biaya operasional jika mereka tetap memaksakan untuk berproduksi.

Satu bulan menganggur, hampir dipastikan tidak akan adalagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi. Tidak ada lagi pajak yang bisa ditarik dari nilai tambah suatu produk yang dihasilkan. Bukan hanya pegawai-pegawai negeri, tetapi semua-semua aparat pemerintah termasuk polisi dan tentara akan ikut berhenti karena negara tidak mungkin lagi membayar mereka.

Pada akhirnya, pemerintah harus berfikir keras untuk membenahi dirinya agar kepercayaan rakyat pulih kembali.

Bahkan hanya menganggur sebulan saja, itu sudah merupakan hal yang sangat berbahaya. Inilah yang disebut MOGOK MASAL.

5. Potong Generasi

Joshua Wong via http://i2.cdn.turner.com

Salah satu permasalahan di dalam dunia politik kita adalah masalah kaderisasi.

Kaderisasi tidak berjalan lancar karena orang-orang yang baru masuk/menjadi kader alih-alih menyegarkan dunia politik malah harus terjebak, terjerumus pada permainan kotor senior-seniornya.

Untuk menjadi penerus senior-seniornya, mereka harus bermain kotor pula dan memaklumi permainan kotor senior jika tidak ingin ditendang dari kaderisasi.

Maka kaderisasi politik saat ini hanyalah omong kosong a.k.a copy paste dari sistem yang digunakan oleh senior. Sehingga kita tidak terlalu bisa berharap ketika ada kader/pemimpin muda yang maju ke kontes politik.

Berbagai macam pemilu akan sekedar menjadi rutinitas periodik belaka. Menunggu pemilu membuat perubahan, di dalam sistem kaderisasi politik seperti yang ada saat ini, sama saja menunggu siput berjalan dari Anyer sampai ke Panarukan.

Kita, para pemuda-pemudi bangsa ini, harus sama-sama bersepakat bahwa tidak boleh lagi ada orang-orang yang ada saat ini di dunia politik untuk mengisi di dunia politik yang akan dibuat kedepannya.

Masalah jika diantara para pemuda-pemudi yang ada saat ini ada pertentangan dan perbedaan tidak menjadi masalah -atau amit-amit malah jadi perebutan kekuasaan di dunia politik yang baru- asalkan diselesaikan dengan cara-cara yang demokratis dan tidak menggunakan jalan kekerasan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya