Bagi seorang ibu, melepaskan anaknya meninggalkan rumah bukanlah perkara mudah. Entah untuk urusan pendidikan, pekerjaan atau bahkan pernikahan. Apalagi jika anaknya Cewek! Ada kekhawatiran tersendiri yang terlintas dalam hati seorang ibu.

Apakah putriku akan baik - baik saja?

Berikut ini hal - hal yang biasanya dikhawatirkan seorang ibu ketika putrinya menikah dan ikut bersama suaminya

1. "Apakah anakku bisa menjadi istri yang baik dan selalu menemani suaminya, bagaimanapun keadaannya?"

ibu rumah tangga

ibu rumah tangga via http://www.iburumahtangga.com

Hal pertama dan yang paling sering dikhawatirkan seorang ibu adalah apakah putrinya bisa menjadi seorang istri yang solehah? Apakah Ia bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik? Melayani suaminya, mencuci, memasak, membersihkan rumah, apakah putrinya akan mengalami kerepotan mengerjakan semua itu?


Tenanglah ibu, aku akan menjadi istri yang baik sepertimu, semua nasehat dan pembelajaranmu tidak kurang satupun, kau adalah guru terbaik!

Advertisement


2. "Lalu, bagaimana ya dia akan memperlakukan suaminya?"

suami yang baik

suami yang baik via http://www.ummi-online.com

Hal lain yang dikhawatirkan seorang ibu adalah apakah sang suami memperlakukan putrinya dengan baik. Apakah suami membantu dalam pekerjaan rumah atau hanya melihat istrinya bebenah? Apakah suaminya memenuhi semua kebutuhan putrinya. Apakah uang belanja yang diberikan cukup?

Wajar seorang ibu memikirkan hal tersebut, apalagi jika karena biasanya dirumah putrinya selalu dimanja dan keinginannya terpenuhi.

Advertisement


Tenanglah ibu, suamiku adalah imam yang baik. Ia mengajariku tentang agama dan Ibadah. Ia memenuhi kewajibannya dan mencukupi hak – hakku. Tak pernah menyakitiku baik melalui fisik maupun lisan.Ia lelaki terhebat setelah ayah.


3. "Semoga saja mertua, kakak dan adik iparnya bisa menerima anakku dengan ikhlas, Ya Tuhan…"

keluarga besar

keluarga besar via http://www.keluargabiru.com

Mertua dan Ipar. Terkadang ada saja konflik dengan kedua orang tersebut. Tak pelak hal ini menjadi kecemasan bagi seorang ibu.

Apakah ibu mertua akan menyayanginya seperti anak sendiri? Apakah ia di terima oleh kakak ipar atau adik iparnya? Ataukah putrinya akan membuat masalah di rumah dan menjadi beban?


Tenanglah ibu, Keluarga baruku sangat menyayangiku, mereka menerimaku apa adanya. Mereka mengajariku adat dan tata krama di rumah ini. Aku tidak kesulitan berada di tengah – tengah mereka.


4. "Di manapun anakku berada, semoga lingkungan yang ia pijak adalah yang terbaik, khususnya bagi kelaurga kecilnya"

Lingkungan baru dan orang – orang baru. Akan ada pertanyaan yang mampir ke benak seorang ibu tentang dua hal tersebut. Apakah ia bisa beradaptasi? Apakah ia akan diterima di lingkungan baru suaminya atau malah membuat malu?


Tenanglah ibu, aku akan sebaik mungkin beradaptasi di lingkungan suamiku. Ia berada di sampingku, menggenggam tanganku, dan menuntunku berjalan bersisian dengannya. Itu membuatku bisa tenang dan tersenyum pada semua orang – orang yang baru kutemui. Aku berusaha selalu mengimbangi dan melengkapinya.


5. "Terlepas dari keinginannya untuk berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, semoga saja pilihannya adalah yang terbaik"

Apabila putrinya belum menyelesaikan pendidikan kuliah atau perkerjaannya dalam posisi dan tempat yang baik. Tentu seorang ibu memikirkannya, apakah putrinya akan diperbolehkan menuntaskan pendidikannya sampai lulus?. Apakah putrinya boleh tetap berkarier dan mewujudkan impiannya?


Tenanglah ibu, seperti yang pernah ku bilang, ia adalah lelaki yang baik. Ia selalu mendukung keputusanku selama dalam tahap wajar dan tidak mengganggu peranku sebagai istri. Ia bukan hanya seorang suami, lebih dari itu, ia adalah teman berbagi terbaik.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya