1. Jalan-jalan gak perlu berdua. Sendiri pun bisa.

sendiri sih udah biasa

sendiri sih udah biasa via https://www.facebook.com

Jomblo dilatih untuk lebih mandiri. Selain terlatih untuk mengucapkan selamat pagi pada diri sendiri, seorang jomblo pun tak merasa takut jika jalan-jalan sendirian. Bukan tak takut begal atau penjahat. Seorang jomblo ga takut ketika ditanya “Kok jalan sendirian. Mana pacarnya?" Orang-orang sudah tahu kita jomblo. Gak bakalan ada yang nanya itu. Kalaupun ada, hanya orang yang menghina. Kita tinggal jawab,

“Gue jomblo kualitas istimewa. Sendirian juga bisa menghadapi kehidupan pedih penuh luka."

2. Jomblo itu hemat. Bisa nabung untuk nikah, meskipun calonnya entah siapa.

Prinsip ekonomi sederhana selalu mengajarkan, jika pemasukan lebih besar dari pengeluaran, maka ada uang untuk dijadikan simpanan. Jika seseorang yang menjalin hubungan punya pacar simpanan, maka seorang jomblo punya uang simpanan. Coba bandingkan simpanan mana yang lebih bermanfaat?

Di sisi lain, kebutuhan untuk hidup semakin meningkat. Tidak hemat jika tiap minggu membeli coklat dan boneka sebesar becak sebagai tanda jadian dalam ukuran minggu. Lebih indah kalau menyiapkan diri untuk meminang seseorang. Minimalnya, menabung untuk membuat undangan meskipun calonnya masih dikosongkan.

3. Membangun jejaring pertemanan tanpa ada yang bertanya lagi, jalan dengan siapa.

jejaring teman

jejaring teman via https://www.facebook.com

Penentu kesuksesan dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satunya, jejaring pertemanan. Seorang jomblo adalah aktifis gerakan non blok, bebas berteman dengan siapapun tanpa syarat dan tidak harus ijin. Jika orang lain mungkin akan dihubungi dan ditanya lagi di mana, dengan siapa, dan jangan lupa hubungi lagi jam segini. Mungkin seorang jomblo hanya menerima satu sms atau telepon,

“Jangan lupa shalat!" dari seorang ibu. Lebih efektif dan bermanfaat, tanpa menyita waktu memperluas jaringan pertemanan.

Jomblo tak wajib fokus ke satu orang, bisa dekat dengan siapa saja, tanpa ada yang membatasi ikatan pertemanan.

4. Si jomblo bisa diandalkan ketika berbagi kasih karena sudah terlatih.

Sekalipun sudah menyandang gelar jomblo berbulan-bulan bahkan ratusan tahun sejak dinosaurus masih berupa telur, hakikatnya seorang jomblo bisa membuka hati karena ia sudah lama terlatih mencintai walau sebatas diri sendiri. Makan, mandi, dan tampilan menawan tanpa ada orang yang mengingati adalah bentuk menyayangi diri sendiri. Jalan-jalan ke Dusun Bambu Lembang tanpa orang yang disayang sudah biasa. Tetap tersenyum sebagai bentuk menyayangi diri.

5. Selalu berusaha memantaskan diri sebelum menjemput sang penyempurna hati.

Cerminan diri

Cerminan diri via http://www.studio92.com

Terlepas dari pandangan masyarakat yang menganggap jomblo manusia kualitas dua, yang susah menemukan tambatan hati, tapi sepenuhnya itu tidak benar. Ada jomblo yang memilih jalan terjal nan mendaki untuk memantaskan diri karena ia tak mau sembarangan berbagi hati. Mencintai adalah berbagi. Tak semua orang pantas untuk dibagi kasih murni seorang jomblo yang berusaha memantas diri.

Jodoh adalah cerminan diri, selayaknya baju mahal di butik yang rela menunggu seseorang yang pantas untuk dirindu. Memilih jalur terjal memantaskan diri meskipun harus meniadakan malam, tetap menjadi high quality jomblo yang ditunggu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya