Kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa terkadang sahabat bisa jadi seseorang yang kita sukai dan kita harapkan untuk menjadi pasangan kita. Terlepas dari sedekat apa, dan bagaimana kepribadian kita, tidak ada salahnya memang memiliki perasaan ke sahabat kita. Apalagi jika ditambah dengan kondisi lingkungan yang selalu memojokkan kita dengan sahabat kita. Senang sih, tapi berujung baper deh.

Akhirnya kita bingung sendiri atas perasaan kita, galau tidak jelas, makan minum jadi malas, tugas jadi terbengkalai, dan yang paling parah memendam rasa bersalah ke sahabat sendiri. Terus, harus gimana dong?

1. Tanyakan kepada diri kalian sendiri, sebenarnya apa yang kalian sukai dari dia?

Ask to your self! Kamu yang tahu atas apa yang kamu rasakan. Ingat ya, suka di sini maknanya adalah suka untuk menjadi pasangan.

Advertisement

Catatan:

Kalau kamu cewek, coba ingat-ingat lagi sikapmu ketika bertemu dengan dia, sebab cewek cenderung melakukan denial atas apa yang ia rasakan. Terkadang rasa suka tersirat dari sikapmu ketika ditanya mengenai kedekatanmu dengan dia.

“ih, ngga kok gue biasa aja kali sama dia” padahal, diajak jalan bareng senang berlebihan.

Advertisement

Buat kamu yang cowok, coba lebih peka deh sama sikap sahabat cewek kamu, apalagi kalian yang bersahabat di lingkungan yang suka memojokkan kalian berdua.

"kayaknya lo cocok deh sama dia" coba peka sedikit kalau sudah ada pernyataan seperti itu.

2. Jika memang kamu lelah dengan kata-kata “cieeee, kalian sekarang jalan bareng yaaaa”, bilang!

Apa sulitnya bilang kalau kamu enggak suka dipojokkan. Terkadang hal-hal yang seperti ini suka berlebihan dan tanpa sadar memojokkan perasaan kita. Akhirnya kita menjadi terbawa-bawa dan lepas kendali akan sikap kita, jadi salah tingkah deh.

3. Tidak ada salahnya membahas ini dengan sahabatmu, apa kalian memang lebih baik bersahabat atau lebih dari sekedar sahabat?

Mau sampai kapan memendam rasa ke sahabat sendiri? Mau sampai kapan berekspektasi dia akan tau perasaanmu tanpa kamu harus bilang, dan akhirnya kalian happily ever after seperti di dongeng? Mau sampai kapan cemburu tanpa alasan yang jelas?

Akan lebih baik jika kamu membicarakan dengan sahabatmu, berbicara dengan logika dan kepala dingin. Anggap saja ini adalah cobaan untuk persahabatan kalian. Jika memang ternyata kalian saling memendam rasa, mengapa tidak saling ungkapkan? Bijak dengan perasaan dan hati, bukankah kata Yura Yunita dan Glen Fredly, “Cinta tak bisa kau salahkan.”

4. Bersikaplah dengan bijak untuk menerima perasaan sahabat kita

Mungkin ini untuk kamu yang ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Yeay! Selamat! Kamu sudah melewati masa-masa penuh mimpi buruk yang selama ini menghantuimu. Malam-malam dimana kamu penuh tanya atas perasaan dia terhadapmu. Terkadang memang pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Namun selalu bersyukur atas apa yang kamu rasakan adalah suatu hal yang wajib untuk kamu lakukan. Kita harus ingat bahwa setiap apa yang kita rasakan adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Esa. Boleh jadi ini adalah ujian untuk kita, apakah kita mampu untuk menghargai orang-orang yang dihadirkan Tuhan dalam hidup kita?

5. Percayalah, mimpimu lebih besar dari apa yang kamu rasakan sekarang

Kamu harus tau ada begitu banyak hal yang kamu bisa lakukan dan kamu raih. Daripada memikirkan perasaanmu, lebih baik kamu memandang masa depanmu. Mengejar mimpimu dan meraih angan-anganmu. Apakah kamu lupa bahwa umur, rejeki, dan jodoh adalah rahasia Tuhan Yang Maha Esa? Maka lekaslah berdamai dengan egomu, jaga persahabatanmu, dan raih mimpimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya