Di saat kamu sudah berpikir bagaimana caranya bisa ambil KPR rumah sementara gaji masih miris begini, cowokmu justru terlihat santai sendiri. Di kepalanya hanya ada main-main, nyobain tempat makan baru dan bekerja seperlunya. Perihal menabung, mikirin biaya katering atau sewa gedung, bisa nanti-nanti saja. Bahkan saat kalian terlibat obrolan serius soal masa depan berdua, dia sempat-sempatnya membeli gadget terbaru yang harganya dua kali lipat dari gajinya. Hal-hal seperti inilah yang kadang buatmu kehabisan daya, sampai sempat beberapa kali hampir menyerah. Kamu bahkan sempat berpikir, apakah bertahan dengannya merupakan hal yang tepat? Sementara sosok yang kamu cintai sedalam-dalamnya ini sungguh amat jauh dari kata dewasa dan calon pemimpin keluarga.

Dear kamu yang sempat ragu untuk bertahan dengan cowok yang belum dewasa, tak perlu gegabah dan menyerah begitu saja. Yakinlah satu hal bahwa sesuatu pasti ada masa berlakunya. Begitu pula dengan sikap cowokmu yang jauh dari kata dewasa ini. Sebab suatu saat nanti, dia akan menemukan momennya sendiri dan pelan-pelan menjadi sosok dewasa dan kepala keluarga terbaik versi kalian sendiri. Melalui beberapa turning point dalam hidupnya ini~
 

1. Mulai bekerja dan hidup jauh dari keluarga, buatnya sedikit demi sedikit belajar jadi dewasa. Paling tidak ia harus bisa mengatur sendiri keuangan tiap bulannya

Jauh dari orangtua, buatnya mau tak mau harus dewasa

Jauh dari orangtua, buatnya mau tak mau harus dewasa via https://www.pexels.com

Momen titik balik hidupnya pertama kali dimulai saat hidup jauh dari keluarga. Entah untuk kuliah atau bekerja. Hidup jauh dari keluarga ini buatnya mau tidak mau harus pandai-pandai mengatur diri sendiri. Salah satu yang paling sulit adalah mengatur emosi dan kondisi keuangannya. Pada momen inilah secara tidak sadar, dirinya telah pelan-pelan belajar untuk menjadi lebih dewasa daripada biasanya. Lihat saja bagaimana dia terus bilang "Aku nggak apa-apa kok Bu" setiap kali ibunya bertanya keadaannya. Padahal dalam hati cowokmu tengah capek-capeknya dengan kuliah, kerja, atau masalah khas anak rantau lainnya.

2. Meski hati dan semangatnya sempat diremukkan berulang kali, momen kegagalan mampu buatnya menjadi makhluk yang lebih dewasa

Kegagalan buatnya lebih dewasa!

Kegagalan buatnya lebih dewasa! via https://www.pexels.com

Meski jiwanya kadang masih terlihat anak-anak sekali, tapi tak kamu pungkiri kalau cowokmu ini seringkali mencoba hal-hal baru dalam hidupnya. Coba ikut beasiswa ke luar negeri, coba mendaftar jadi asisten dosen di kampusnya, atau bahkan mencoba melamar pekerjaan ke sana ke mari. Namun nasib baik agaknya sedang tak ingin membersamai langkah sosok ini. Berulang kali ia diremukkan oleh kegagalan. Semangatnya dibuat hancur berantakan.

Advertisement

Namun tahukah kamu bahwa kegagalan yang bertubi-tubi ini dia rasakan sebagai titik balik dalam hidupnya? Dia yang awalnya gegabah mengambil keputusan, jadi sedikit lebih bijak. Dia yang awalnya tak punya tujuan, kini tak begitu lagi.

3. Saat ayahnya sudah tidak ada, diam-diam dia akan berlaku sebagai sosok pemimpin dalam keluarga. Apalagi dia merupakan anak pertama

Saat dia kehilangan ayahnya~

Saat dia kehilangan ayahnya~ via http://unsplash.com

Kalau bagi anak perempuan ayah merupakan cinta pertama, berbeda halnya dengan cowokmu ini. Baginya, sosok ayah adalah panutan hakiki dalam hidupnya. Pun baginya ayah adalah sosok yang diam-diam dia banggakan dan pusatnya kekuatan. Namun ketika sosok ayah ini telah tiada, tak ada lagi panutan yang bisa ia banggakan lagi. Tak ada pula yang memegang kemudi di keluarga ini. Melalui momen ditinggal ayah inilah diam-diam dia belajar untuk menjadi sosok laki-laki yang lebih baik lagi. Semua karena ia ingin menggantikan ayah di dalam keluarga. Dia paham bahwa sebagai anak lelaki pertama, dia harus bisa tangguh dan dewasa. Sebab ada ibu dan adik-adik yang kelak bergantung kepadanya~

4. Sama halnya ketika ibunya sudah tiada. Tanpa banyak kata dan tanya, sosok ini belajar untuk lebih mengayomi adik-adiknya

Saat dia kehilangan ibu

Saat dia kehilangan ibu via http://unsplash.com

Tak hanya saat kehilangan ayahnya, saat sang ibu berpulang pun dirinya juga pelan-pelan mendewasakan dirinya. Sebab saat ibu tak ada di dunia, baginya dunia seakan runtuh dan dia hampir terjatuh. Untuk itu dia berusaha untuk menguatkan diri, agar kelak adik-adik dan ayah tak merasakan keruntuhan dunia, seperti yang ia alami sebelumnya. Bukti bahwa kehilangan ibu ini telah mendewasakannya adalah, tak ada lagi air mata yang menetes ketika mengantarkan beliau untuk terakhir kalinya. Dia justru dengan hangatnya mengusap air mata adik-adiknya dan tersenyum untuk menguatkan ayahnya.

5. Ketika kata sah terucap dari para saksi, sosok ini sadar bahwa hidup tak lagi berpusat pada dirinya sendiri. Akan ada kata 'kami' dalam setiap hal yang dijalani

Tanggung jawab yang lebih besar buatnya mendewasakan diri

Tanggung jawab yang lebih besar buatnya mendewasakan diri via https://www.pexels.com

Advertisement

Di balik sikapnya yang suka seenaknya, dia ternyata mengembang tanggung jawab da kali lebih besarnya. Di balik muka biasa aja saat kelak kalian berdua dihadapkan pada penghulu dan wali, di sanalah turning point kedewasaan dirinya. Sebab pada saat ini cowok sepenuhnya sadar bahwa kini pusat kehidupannya tak hanya pada dirinya sendiri. Melainkan ada satu orang lagi yang ingin dia bahagiakan sampai nanti: kamu. Pelan tapi pasti, dia akan mengganti mindset aku pada setiap keputusannya. Sejak saat itu hanya akan ada ‘kami’ dan mengalahkan ‘aku’ atau ‘kamu’ dalam kamus hidupnya ini.

6. Namun inilah yang buat sosok ini semakin dewasa dari hari ke hari. Saat tangisan sang permata hati pecah untuk pertama kali

Kelak dia akan dewasa saat jadi seorang ayah

Kelak dia akan dewasa saat jadi seorang ayah via https://www.pexels.com

Saat masih pacaran, dia memang sering melakukan sesuatu sesuka hati. Risiko dan akibatnya selalu dipikir belakangan. Buatmu sampai geleng kepala melihat kelakuan cowokmu ini. Namun percayalah, saat kalian sudah bersama nanti, dan bersiap menyambut buah hati, dia akan pelan-pelan berubah menjadi sosok yang lebih dewasa. Apalagi ketika dia menyaksikan sendiri proses keluarnya buah hati dan mendengar tangisan si kecil untuk pertama kalinya. Ada janji yang diam-diam dia ucapkan, bahwa mulai sekarang tak ada kata main-main lagi. Sebab kini tanggung jawabnya tak lagi sama. Ada dua orang yang harus dia bimbing dan pimpin menuju masa depan nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya