1. Bukan maksud pilih-pilih tapi menanti seseorang yang dirasa tepat

penantian

penantian via http://i.huffpost.com

Menikah bukan hanya menyatukan pasangan dalam satu komitmen sehidup semati. Tapi di dalamnya begitu banyak hal yang harus diselami termasuk kebiasaan pasangan. Mampukah kita melewati semua halangan dan rintangan dalam susah dan senang? Bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun mampukah kita bertahan di sisinya. Tak bermaksud pilih-pilih namun menemukan seseorang yang dirasa tepat untuk menua bersama tentulah menyenangkan. 

2. Persiapan finansial mulai dari pernikahan sampai setelah menikah tentu jadi pertimbangan dan menghindari hutang sana sini

persiapan pernikahan

persiapan pernikahan via https://www.selasar.com

Sudah menjadi tradisi bahwa menikah di Indonesia tidaklah murah. Mulai dari persiapan katering, gedung, undangan dan pernak pernik lainnya yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Apalagi kurs dolar yang tidak menentu seperti saat ini. Kecuali bila pernikahan dilakukan di KUA tanpa resepsi, biaya pasti bisa diminimalisir.

Kami tak ingin membebani orang tua dengan biaya pernikahan dan berhutang sana sini. Biaya setelah menikah tentu membutuhkan banyak pertimbangan yang justru jauh lebih mahal. Ditambah dengan anggota keluarga baru yang nantinya akan membawa kebahagiaan. Untuk itu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, biaya menjadi pertimbangan penting yang tidak bisa dilewatkan begitu saja . 

3. Bukan tak mau menikah hanya saja masih tertunda

Menikah memang bukan perkara mudah. Target usia menikah sudah tersusun rapi. Namun apa daya bila jodoh tak kunjung datang di waktu yang di rasa tepat. Yang bisa dilakukan hanyalah tetap berusaha dan berdoa agar jodoh segera dipertemukan.

4. Ingin membahagiakan orang tua dengan pekerjaan yang mapan

pekerjaan mapan

pekerjaan mapan via http://www.inspirasidaily.com

Meskipun sudah mendapat pekerjaan, ada beberapa hal yang ingin dicapai sebelum menikah. Mendapat pekerjaan bukan berarti hidup aman dengan adanya gaji tiap bulan. Hasrat ingin mencapai kesuksesan karir di usia muda membuat urusan pernikahan jadi sedikit terkesampingkan.

Belum lagi bila pekerjaan tak sesuai dengan harapan. Bisa dua hingga tiga kali ganti pekerjaan baru dirasa pas. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses. Bukan hanya orang tua, pekerjaan mapan diharapkan bisa menjadi senjata ampuh untuk meluluhkan hati sang calon mertua.

5. Menikmati traveling tanpa beban

travelling

travelling via http://tekooo.com

Bukan berarti setelah menikah tak bisa traveling. Namun, saat menikah nantinya akan ada aturan-aturan yang mengikat. Hal-hal yang dilakukan memang tak sebebas saat masih sendiri. Perjalanan traveling seorang diri pastilah lebih seru dan mengesankan dengan pengalaman baru. Bisa lebih fokus tanpa memikirkan pasangan, anak , biaya traveling yang mahal saat pergi berdua dan urusan rumah tangga. Bukankah lebih baik memuaskan hasrat traveling selagi masih sendiri?

6. Sudah menemukan yang pas tapi terganjal restu orang tua

restu orang tua

restu orang tua via http://jendelo.com

Percayalah bahwa keadaan ini semakin memperumit keadaan. Sudah membawa calon yang dirasa tepat namun, apa daya bila orang tua belum memberikan restunya. Entah itu karena statusnya yang duda, janda, sudah beranak atau belum memiliki pekerjaan yang mapan. Bukan ga mungkin dalam waktu dekat siap-siap menjomblo lagi. Menikah bukan hanya menyatukan kita tapi juga dua keluarga besar kita.

7. Menikah bukanlah perlombaan yang duluan sampai garis finis

Pertanyaan “kapan nikah?” seperti sebuah perlombaan yang harus segera dilaksanakan dikala pendidikan telah usai dan pekerjaan telah didapat. Apalagi yang harus dicari selain pendamping hidup. Banyaknya undangan yang datang, umur yang semakin bertambah seolah menuntut untuk disegerakan. Padahal kedewasaan pikiran, komitmen dalam berumah tangga dan kemantapan hati yang seharusnya jadi prioritas sebelum melangkah ke pernikahan. 

8. Sedang memantaskan diri untuk jodoh terbaik

jodoh terbaik

jodoh terbaik via http://media.mbigroup.co.id

Jodoh tak mungkin begitu saja turun dari langit. Menginginkan pendamping hidup yang setia, mapan, bertanggung jawab memang sah-sah saja. Tapi mungkinkah jodoh datang sesuai harapan tanpa adanya usaha dari diri sendiri. Bukankah jodoh adalah cerminan diri? 

9. Inginnya sih awet terus sampai kakek nenek bahkan hingga maut memisahkan

menua bersama

menua bersama via http://blog.debusana.com

Percayalah tak ada yang menginginkan perceraian dalam pernikahan. Kemantapkan hati dan persiapan diri menjadi modal untuk membangun sebuah rumah tangga bersama pasangan. Maunya ya awet terus sampai tua bahkan hingga maut memisahkan.  

10. Rencana pernikahan bukanlah konsumsi umum

Ada beberapa orang yang tidak ingin kehidupan pribadinya diungkit-ungkit. Termasuk urusan asmara maupun masalah pernikahan. Bagi mereka urusan rencana pernikahan terlalu personal kalau harus diumbar ke khalayak umum.

Bisa jadi orang yang kamu tanya punya pengalaman gagal sebelum menikah. Sudah pemberitahuan sana sini tapi ternyata gagal melangkah ke pelaminan. Kenyataan ini justru sangat menyakitkan bagi yang bersangkutan. Belum lagi rentetan pertanyaan dari banyak orang.

Percayalah bila semua sudah fix dan tinggal menanti hari H, kamu yang merasa kenal dekat sudah pasti diundang tanpa harus bertanya “Kapan nikah?”

Pertanyaan seputar pernikahan memang dianggap sangat sensitif oleh beberapa pihak yang belum mencapai tahap tersebut. Percayalah semua orang juga menginginkan hal yang sama yaitu membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Hanya saja waktu yang belum berpihak. Doakan saja semoga mereka segera menemukan jodohnya yang terbaik. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya