#CatatanAkhirTahun – 5 Prioritas Pedoman Hidup Tahun 2021 Versiku, Menghadapi Lika-liku Dunia

Refleksi diri tahun 2021 dan tentang rencana kita yang masih akan bertahan untuk hidup

Dunia masih dinamis, meski sekarang pun lalu-lalangnya tak seramai 3 tahun ke belakang. Berjalan hampir dengan tak terlalu ramai pada tahun lalu, bagiku tetap tahun lalu memberikan banyak pelajaran hidup dengan beberapa diantaranya kujadikan prioritas pilihan dalam menjalani hidup untuk hari ini, dan mungkin juga di tahun-tahun depan.

Melalui #CatatanAkhirTahun pada akhirnya aku berbagi mengenai caraku memosisikan diri pada 2021, memaknai hidup dari sisi diriku sebagai individu yang menggali makna hidup di antara kehidupan dengan sesama.

Lalu, rasanya tahun baru kurang ya SoHip, tanpa resolusi. Nah, sebelum mendaftar beberapa resolusi untuk dijadikan target hidup pada tahun baru, kusajikan kisahku dengan alur mundur dari awal 2021 yang mungkin saja membuat kalian tergugah menggunakan nilai yang kupegang selama tahun 2021 itu dan bisa SoHip masukkan pada resolusi sikap tahun ini yang dapat kalian lakukan bahkan mungkin juga pada tahun-tahun depan. Yuk! disimak. 

Advertisement

1. Menulis, Cara Termudah Selesai dengan Diri Sendiri

Foto oleh Judit Peter dari Pexels

Foto oleh Judit Peter dari Pexels via https://www.pexels.com

Tadinya, kupikir hidup enak ialah  selalu yang tentang biasa-biasa saja. Tapi aku salah, aku menemukan diriku yang baru merasa tumbuh ketika aku kembali menulis  di awal tahun 2021 lalu. Saat itu, ternyata hidup tak selalu tentang yang tenang, nyaman, dan aman. Seperti dalam pikiranku sebelumnya. 

Pertemuanku lagi dengan menulis membuatku banyak mencurahkan, menggali lagi pisah-kenang dan melepaskan keraguan akan pilihan-pilihan yang nyata memang, tadinya adalah zona nyaman. Pertemuanku lagi dengan tulisan adalah sebuah rahasia yang membangkitkan semangatku untuk selalu menyelesaikan pekerjaan dengan menuliskannya. 

Advertisement

Menulis membuatku memang kadang lupa waktu, meskipun begitu aku selalu merasa lega di antara tulisan-tulisan itu. Kelegaan itu terjadi karena aku merasa selesai dengan diriku sendiri dulu, sebelum aku memulai lagi awal tahun yang selalu insecure dengan pencapaian dan target berjuang di tahun baru. 

2. Tak Ada Salahnya Menangis, Jika Jalan Sudah Terlihat Buntu

Foto oleh Tom Pumford on Unsplash

Foto oleh Tom Pumford on Unsplash via https://unsplash.com

Aku seorang penulis yang suka melakukannya dengan menangis. Menangis memberi ruang tersendiri bagiku untuk berimajinasi dalam rangkaian kata-kata yang kadang menurut orang lain sulit dimengerti. Menangis memberiku kekuatan dalam tiap jejak rekam tulisan yang aku buat. 
 

Advertisement

Jujur, aku tidak suka disebut cengeng ketika aku memang pandai berurai air mata. Menangis adalah respon kita terhadap sesuatu, wajar jika kita sebagai manusia melakukannya bahkan tidak terhalang pun karena SoHip adalah seorang laki-laki atau perempuan. 

Pada seperempat 2021, aku sering kali menangis bahkan bukan hanya untuk menulis, sebab waktu itu merasa banyak sekali lamaran pekerjaan yang aku sebar namun belum ada yang pas dan kebanyakan ditolak. Di dasar pikiranku waktu itu mengatakan menangis adalah cara melepas toksik dalam diri yang membebaniku dalam menjalani hari. Ya, menangis adalah caraku buat lagi-lagi bertahan hidup dari jatuh bangunnya aku meskipun, bukan berarti aku akan berlarut-larut dalam kesedihan dan tangis pada waktu itu. 

Bahkan menangis ini adalah cara melepas yang paling melegakan bagiku. Sama seperti perpisahan tak terduga sebelum idul fitri tahun lalu dengan 20 orang lain di Semarang. Selain memang karena sedih, setelahnya aku juga merasa ah, setelah ini akan baik-baik saja lagi dan bisa menjalaninya

3. Mendengar, Bukan Tentang Siapa tetapi Mengapa

Foto oleh Alexandr Podvalny dari Pexels

Foto oleh Alexandr Podvalny dari Pexels via https://www.pexels.com

Aku tak lagi banyak menjadikan diriku pemeran utama dalam setiap dialog yang aku lakukan dengan orang-orang. Di pertengahan tahun 2021, aku mendedikasikan diriku untuk lebih mendengar. 

Setelah perpisahan yang tak terduga di Semarang, pada akhirnya aku mengerti. Hidup ini memang tak selalu berpusat pada diri sendiri. Meskipun ada kalanya kita memang harus membuat diri sendiri nyaman terlebih dahulu sebelum menghadapi hal-hal baru, mendengar adalah sarana buatku menjadi bagian dari hal-hal baru yang mungkin akan aku lalui. 

Mendengar juga jadi alternatif menyelesaikan masalah dengan orang lain sebelum kemudian menyelesaikan dengan diri sendiri, kemudian akhirnya bangkit untuk menyongsong keberagaman fungsi kehidupan di dunia ini.

Mendengar tak hanya mengenai apa yang dirasakan orang lain, mendengar tak terbatas pada bagaimana orang lain melalui apa yang dilaluinya. Mendengar juga berarti dengan seksama peka terhadap suara keragaman yang menyulitkan untuk bersatu. 

4. Berbuat Baiklah!

https://unsplash.com/photos/I_t7G3eyDwQ

https://unsplash.com/photos/I_t7G3eyDwQ via http://PhotobyMei-LingMirowonUnsplash

Pandemi ini membuat berbagai macam lini kehidupan lesu, hampir mati terkikis daya saing untuk bertahan dari perihnya hidup. Namun siapa yang akan sangka, kehidupan bahkan lebih kejam kepada rakyat-rakyat kecil yang berdikari melalui tenaga yang mereka punya. Sebut saja, porter yang kutemui di stasiun Pasar Turi, Surabaya. 

Cerita mereka mengenai pergi pagi, pulang pagi tanpa dapat apa-apa yang pasti bukan berarti bagiku adalah cara bisnis mereka dengan menjual cerita sedihnya, sebab sebelum pandemi ada mereka tetap jadi orang-orang yang banyak dipandang sebelah mata meski tak berbuat kesalahan dan berniat menghidupi kehidupannya. 

Aku memang mudah terbawa emosi, namun kisah para porter tersebut yang lebih menggerakkan hatiku untuk menyewa jasanya di tengah diriku juga yang saat itu belum pasti mendapatkan gaji. Aku beranikan diri, sampai pada satu momen ketika kereta akan berangkat, porter yang aku  sewa mengatakan semoga diganti dengan rejeki yang lebih baik.

Sebuah doa yang sepertinya aku aamiin kencangkan juga dalam lubuk hati yang paling dalam. Aku merasa doa tersebut ialah penyambung nafasku tiap hari, walau bukan materi,  menjadikanku lebih senang untuk berbuat baik. Di pertengahan tahun itu, pada akhirnya  aku mulai kecanduan berbuat baik. Bukan sekadar untuk mendapatkan doa yang sama baiknya, namun karena berbuat baik memang bagiku tidak ada salahnya.

5. Apa-apa Itu Bersyukur Dulu

Photo by Alora Griffiths on Unsplash

Photo by Alora Griffiths on Unsplash via https://unsplash.com

Menyadari hidup sampai saat ini, tetap menulis  sembari menangis, bagiku adalah bagian dari rasa bersyukur. Sekecil telah bernafas sampai detik tulisan ini bisa dibaca SoHip, aku melaluinya dengan rasa syukur.

Bahkan ketika terpuruk di pertengahan tahun itu, ditinggal pergi oleh orang-orang tersayang aku menjalaninya dengan bersyukur. Terlebih lagi saat diterima kerja dengan nilai perusahaan yang sama dengan priotitas pilihan hidupku, antarkan kebaikan itu, aku sangat bersyukur.

Cara memosisikan diri paling awal versiku dalam menghadapi 2021 adalah melakukannya dengan rasa syukur. Sebuah tanda bahwa kita selalu diliputi introspeksi diri setelah melakukan sesuatu, mengalami, dan merasakannya. Kedepannya, aku berharap tak jadi kufur dengan segala sesuatu yang kunikmati dan tetap masih jadi pribadi yang pandai-pandai bersyukur menjalani hari.

SoHip, sampai di sini apakah sudah punya bayangan untuk resolusi sikap yang diambil melalui kisahku pada 2021? Jika belum buatlah versi SoHip, refleksikan dulu apa yang telah dilalui SoHip tahun lalu, saring semua sikap yang masih perlu dipertahankan. Kalau memang perlu buat daftarnya dan aplikasikan buat tahun-tahun ke depan.

Selamat tahun baru, jangan lupa bersyukur!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis, membaca, berkebun, dan beres-beres.

CLOSE