4 tahun Hipwee menemani pembacanya, semakin hari kok semakin keren saja

Membaca artikel di media daring sudah menjadi rutinitas sejak saya memiliki ponsel pintar. Dari artikel serius sampai recehan, semua saya lahap supaya nggak ketinggalan informasi. Salah satu media yang sering saya baca adalah Hipwee.com. Media anak muda yang mengusung tagline “Menemani Langkahmu” ini layaknya obat yang wajib dibaca 3 kali sehari. Bahkan kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun Hipwee tak luput jadi menu andalan saya.

Nah, untuk memeringati empat tahun kelahirannya, saya ingin mempersembahkan sebuah tulisan yang berisi pengalaman saya bersama Hipwee. Disimak, ya!

1. "Mengintip Jatuh Bangun yang Cuma Dialami oleh Mahasiswa Komunikasi", Artikel yang Langsung Membuat Saya Jatuh Hati pada Hipwee

Artikel yang pertama kali mencuri hati saya

Artikel yang pertama kali mencuri hati saya via https://www.hipwee.com

Sebagai mahasiswa baru Jurusan Komunikasi yang sedang membutuhkan motivasi kuliah pada saat itu. Alhamdulillah saya menemukan motivator yang tepat. Yups….saya jatuh hati pada pandangan pertama ketika membaca artikel ini. Fakta-fakta yang tertulis mewakili isi hati saya dan mungkin jutaan mahasiswa komunikasi di luar sana.


Jika banyak orang kuliah biar gampang kerja, anak Komunikasi hanya menghidupi cita-cita masa kecilnya.


Advertisement

Sesuai sekali dengan apa yang saya rasakan, saya masuk Komunikasi karena pengen jadi reporter :’)


Duh, sesederhana itu untuk jadi bahagia, ya!


2. Banyak Artikel yang Menemani Hari-Hari Saya. Dari Saat Sedih Sampai Bahagia, Semua Ada

Beberapa artikel yang saya baca

Beberapa artikel yang saya baca via https://www.hipwee.com

Saat kamu membuka laman Hipwee.com pasti banyak jenis artikel yang akan kamu dapatkan. Jika kamu sedang galau masalah asmara, kamu bisa baca artikel tentang hubungan. Seperti saya yang kala itu membaca artikel berjudul “Sabarlah, Aku Sedang Memantaskan Diri Demi Jadi Sebaik-baiknya Pendampingmu”. Artikel ini mewakili isi hati saya yang kala itu memang sedang galau karena masa pacar yang sudah siap dan saya masih merasa anak kecil ingusan yang belum siap dipanggil istri. Karena artikel ini, saya yakin bahwa memantaskan diri jauh lebih penting ketimbang menikah dini. Pun ketika pada akhirnya dia memilih mengikat janji dengan yang lain.

Advertisement

Atau kamu cewek mandiri yang dianggap nggak butuh cowok lagi. Mungkin isi hatimu terwakili dengan artikel hiburan berjudul “Rasanya Jadi Cewek Mandiri yang Sering Dikira Gak Butuh Cowok Lagi”. Selain kedua artikel tadi, kamu juga bisa mendapatkan artikel Travel, Tips, Motivasi, Style, Sukses, dan Feature. Tergantung kamu butuh dan suka baca yang mana, lengkap kan!

3. Mendapat Kesempatan Didengar Oleh Jutaan Pembaca Hipwee

Beberapa artikel saya

Beberapa artikel saya via https://www.hipwee.com

Beberapa kali menulis artikel di Hipwee, saya patut tersenyum bahagia ketika mendapat apresiasi dari pembaca. Artikel saya tentang Sungai Mudal ini contohnya, mendapat komentar positif dari salah satu akun Facebook bernama Amin Ansar.


Saya suka gaya tulisannya mbak Tar. Enak dibaca. Apa menulis di tempat lain juga?


Wah, betapa girangnya saya pagi itu ketika membaca komentarnya.

Selain komentar, jumlah share dan page view semakin memotivasi saya untuk terus menulis. Alasannya? Tentu saja karena semakin banyak share dan page view artinya tulisan saya paling tidak dibaca banyak anak muda dan mudah-mudahan disukai juga.


Artikel saya yang berjudul “Beruntungnya Kamu yang Menyandang Gelar Pemburu Beasiswa. Terbukti, Mentalmu Sekuat Baja” dan “5 Spot Anti Mainstrem Buat Menikmati Sunrise di Kulon Progo, Jogja. Buat Stock Instagram Nih!” mendapat lebih dari 400 share dari pembaca.


Wuih, senengnya :D

4. Sebelum Menulis, Hipwee Menjadi Media yang Pertama Kali Saya Baca Sebagai Sumber Referensi

Artikel saya yang terbit di Hipwee

Artikel saya yang terbit di Hipwee via https://www.hipwee.com

Beberapa tulisan yang saya buat memiliki gaya bahasa terlalu kaku. Susah sih mengubahnya, tapi ketika membaca tulisan-tulisan di Hipwee saya mulai terbiasa menulis dengan gaya bahasa yang ringan dan readable bagi anak muda.

Hingga kini, saya masih membaca Hipwee sebelum mulai menulis. Agar gaya bahasa yang saya gunakan enak dibaca dan ringan.


Sekalipun hanya menulis caption di Instagram atau membuat story, saya mengadopsi gaya bahasa Hipwee.


5. Mendapat Kesempatan Menjadi Anak Magang Hipwee yang Nggak Cuma Belajar Soal Kepenulisan

Hari terakhir magang, minus Mbak Tira

Hari terakhir magang, minus Mbak Tira via https://www.hipwee.com

Pertengahan Agustus sampai Oktober tahun 2017 lalu saya diberi kesempatan Mbak Silvia, Mbak Tira, Mas Aan, dan Mas Angga untuk jadi anak didiknya. Banyak hal yang saya dapat dari mereka, mulai dari kiat-kiat menulis, bagaimana membuat judul yang ciamik, tema-tema tulisan yang digemari pembaca, personal branding di media sosial, termasuk obrolan anak gadis seputar skin care. Untuk poin yang terakhir, sedikit banyak telah mengubah rutinitas pagi dan malam saya.


Sekarang jadi rajin pakai skin care tiap pagi dan malam, lebih peka kalau ternyata jerawat itu menganggu. Padahal sebelumnya nggak pernah dan nggak peduli sama sekali.



Terimakash Hipwee, selain menulis saya juga lebih bisa merawat diri :D


Nggak cuma masalah per-skin care-an, berkat Hipwee yang selama dua bulan menjadikan saya sebagai Polisi EYD, skripsi saya bersih dari typo dan kesalahan EYD. Dosen mengapresiasi, sayapun senang, hehe.

Berapapun usiamu, mau muda atau tua, semoga selalu mendapat tempat di hati pembaca. Selamat Hipwee, kamu sekarang sudah 4 tahun, jangan nakal, ya! Boleh nakal, asalkan nakalnya dengan selalu menyajikan konten baik bagi pembaca :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya