#DiIndonesiaAja-Selayang Pandang Kota Kediri. Yuk, Kita Intip Arc De Triomphe di Kota Kediri dan Kerajaan Ratu Buaya Putih

Tak banyak yang tahu, kota ini mendapat julukan Kota Santri

Sebelum membahas lebih jauh tentang Kota Santri. Alangkah lebih baiknya jika kita tau pengertian dari santri sendiri. Santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam secara mendalam dan mengikuti pembelajaran yang telah diturunkan secara turun-temurun dan juga seseorang yang menetap di suatu lingkungan yang mendukung dia untuk mendalami ilmu agama. Kota Kediri sebagai Kota Santri diperkuat dengan berdirinya beberapa pondok pesantren besar dan terkenal di kota ini, seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Pondok Pesantren Gontor Putri, Pondok Pesantren Al- Amin, dan Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean Pare.

Advertisement

1. Arc De Triomphe Indonesia, Monumen Simpang Lima Gumul

Monumen Simpang Lima Gumul/IDN Times

Monumen Simpang Lima Gumul/IDN Times via https://www.idntimes.com

Monumen Simpang Lima Gumul atau biasa disingkat SLG adalah salah satu bangunan yang menjadi ikon Kabupaten Kediri yang bentuknya menyerupai Arc de Triomphe yang berada di Paris, Perancis. 

SLG mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008, yang digagas oleh Bupati Kediri saat itu, Sutrisno. Bangunan ini terletak di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tepatnya di pusat pertemuan lima jalan yang menuju ke Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten, Kediri.

Advertisement

Jika Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis dan Perang Napoleon, namun belum ada kejelasan mengapa dan untuk menghormati siapa Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibangun.

Dalam beberapa sumber menyebutkan, bahwa didirikannya monumen ini dikarenakan terinspirasi dari Jongko Jojoboyo, raja dari Kerajaan Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah di Kabupaten Kediri.

Advertisement

Secara fisik, monumen Simpang Lima Gumul memiliki luas bangunan 37 hektar secara keseluruhan, dengan luas bangunan 804 meter persegi dan tinggi mencapai 25 meter yang terdiri dari 6 lantai, serta ditumpu 3 tangga setinggi 3 meter dari lantai dasar. Angka luas dan tinggi monumen tersebut mencerminkan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Kabupaten Kediri, yaitu 25 maret 804 Masehi. Pembangunan monumen ini telah menghabiskan biaya lebih dari Rp 300 milyar.

Di sisi monumen terpahat relief-relief yang menggambarkan tentang sejarah Kediri hingga kesenian dan kebudayaan yang ada saat ini. Di salah satu sudut monumen terdapat sebuah arca (patung) Ganesha, salah satu dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu dengan gelar sebagai Dewa Pengetahuan dan Kecerdasan, Dewa Pelindung, Dewa Penolak Bala dan Dewa Kebijaksanaan.

Di dalam bangunan monumen terdapat ruang-ruang untuk pertemuan di gedung utama dan ruang auditorium di lantai atas yang beratapkan mirip kubah (dome), ruang serba guna di ruang bawah tanah (basement), diorama di lantai atas, dan minimarket yang menjual berbagai souvenir di lantai bawah. Bangunan ini juga memiliki tiga akses jalan bawah tanah untuk menuju monumen

Kawasan monumen ini tidak pernah sepi pengunjung di malam hari, karena di sekitar monumen banyak terdapat pedagang kaki lima yang berjejer di area Pasar Tugu. Pada hari sabtu dan minggu pagi, kawasan ini juga ramai oleh pengunjung yang berolaraga lari pagi (jogging), pengunjung yang rekreasi, maupun pengunjung pasar Sabtu-Minggu di Tugu. Pemerintah juga telah merencanakan akan membangun hotel, mall, pertokoan, pusat grosir, dan pusat produk-produk unggulan dan cendera mata di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul.

2. Kota Tahu

Tahu sebagai produk unggulan

Tahu sebagai produk unggulan via https://kedirikota.go.id

Sejak lama Kota Kediri telah sangat identik dengan tahu takwa sehingga dikenal dengan sebutan ’Kota Tahu’. Tahu takwa Kota Kediri terkenal akan cita rasanya yang khas dengan tekstur yang padat dan kenyal. 

Berdasarkan penelusuran sejarah, pada awal 1900-an terjadi migrasi besar-besaran warga Tionghoa dari dataran Tiongkok masuk ke Indonesia, termasuk wilayah Kediri. Salah seorang imigran yang bernama Lauw Soen Hok (dikenal dengan Bahkacung) mulai merintis usaha pembuatan tahu pada tahun 1912 setelah mendapati kesamaan karakteristik air di Kediri dengan air di tanah asalnya.

Seiring waktu, jumlah industri tahu di Kota Kediri berkembang semakin banyak dan terkonsentrasi di Kelurahan Jagalan, Pocanan, Pakelan, Tinalan dan Bawang. Merek-merek tahu takwa yang sudah dikenal luas antara lain Bahkacung, Sari Lezat POO, Mikimos, Panglima, Soponyono, LYM, LKK, LTT, Atim, Surya, MJS dan masih banyak lagi.

Sebagai langkah pengembangan diversifikasi produk, beberapa pemilik industri tahu dan pelaku usaha kuliner telah mengembangkan produk turunan seperti stik tahu dan keripik tahu yang ternyata mendapat respon positif dari masyarakat. Bahkan produk-produk turunan tahu tersebut kini dapat dengan mudah ditemui di kota-kota lain melalui pasar-pasar swalayan dan toko penyedia oleh-oleh.

3. Gunung Kelud

Gunung Kelud

Gunung Kelud via https://id.wikipedia.org

Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur meletus sekitar pukul 22.50 WIB kemarin. Ribuan warga Kediri dan sekitarnyapun diungsikan demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Gunung ini terakhir meletus pada tahun 2007 lalu.

Bagi warga Jawa Timur, khususnya Kediri, Gunung Kelud mempunyai legenda panjang. Menurut legendanya bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami, seperti Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat. Gunung Kelud terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti bernama Mahesa Suro dan Lembu Suro.

Dihimpun merdeka.com dari berbagai sumber, kala itu, dikisahkan Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.

Untuk menolak lamaran tersebut, Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.

Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro.

Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan, “Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung,”

(Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau)

Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung Kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah itu yang disebut Larung Sesaji.

Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan Suro oleh masyarakat Sugih Waras. Tapi khusus pelaksanaan tahun 2006 sengaja digebyarkan oleh Bupati Kediri untuk meningkatkan pamor wisata daerahnya. Pelaksanaan acara ritual ini juga menjadi wahana promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke Kediri. 

4. Seni Budaya Jaranan

Kesenian jaranan sebagai salah satu industri kreatif di Kota Kediri mampu bertahan di antara berkembangnya teknologi yang telah masuk dalam kehidupan masyarakat.

Tari jaranan merupakan kesenian yang memiliki asal beragam dan sejarah yang cukup panjang.

Kesenian ini lahir saat kerajaan kuno Jawa Timur berdiri sehingga dapat dikatakan bahwa kesenian ini adalah tradisi leluhur dari masyarakat Jawa Timur.

Di era modern ini masih ada masyarakat yang melestarikan kesenian daerah yang sudah berumur ratusan tahun untuk mengingat sejarah dan asal usul kita. 

Kita patut berbangga tentang hal ini, saat banyak orang lain melupakan kesenian ini, kita masih berkesempatan mengenalnya.

Tari Jaranan adalah kesenian tari tradisional yang dimainkan oleh para penari dengan menaiki kuda tiruan yang tebuat dari anyaman bambu. 

Selain kaya akan nilai seni dan budaya, tarian ini juga sangat kental akan kesan magis dan nilai spiritual. 

Tari jaranan ini merupakan kesenian yang sangat terkenal di Jawa Timur, di beberapa daerah di Jawa Timur kesenian jaranan ini masih tetap hidup dan di lestarikan.

Untuk melestarikan dan mempromosikan potensi wisata di Kota Kediri juga menambah daya tarik wisatawan, Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) selalu menggelar pertunjukan jaranan ditempat wisata Goa Selomangleng agar menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Menurut Kepala Disbudparpora Nur Muhyar mengatakan, pihaknya menggelar seni jaranan di tempat wisata Goa Selomangleng juga merupakan bagian promosi potensi wisata di Kota Kediri. 

Kesenian yang ditampilkan ini, diharapkan dapat menjadi pusat perhatian dan daya tarik tersendiri bagi pengunjung tempat wisata Goa Selomangleng.

“Kesenian jaranan di Kota Kediri harapannya kedepan dapat semakin dikembangkan menjadi lebih menarik dan tidak monoton. Sehingga kesenian ini dapat mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Kediri,” ujarnya.

Pada perkembangannya, tari jaranan ini masih tetap hidup dan dilestarikan di beberapa daerah di Jawa Timur. 

Salah satunya adalah Kediri yang menjadikan Tari Jaranan ini sebagai ikon kebanggaan mereka. 

Tarian ini masih dilestarikan dan dikembangkan oleh beberapa sanggar seni yang ada di Kediri. Setiap sanggar memiliki ciri khas dan pakem tersendiri dalam penampilannya.

Kesenian jaranan saat ini sudah menjadi salah satu bagian dari kehidupan masyarakat Kota Kediri. 

Hal ini terbukti dari dari tahun ke tahun jumlah kelompok jaranan semakin bertambah banyak, selain itu keberadaan jaranan juga menarik minat masyarakat untuk ikut serta dalam kelompok jaranan hingga ikut menjadi penari jaranan saat pertunjukkan. 

5. Sungai Brantas dan Legenda Ratu Buaya Putih

Sungai Brantas

Sungai Brantas via https://phinemo.com

Sungai Brantas terletak di Jawa Timur merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Dinamakan demikian karena sungai ini berhulu di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Baru. Aliran Sungai Brantas bersumber dari simpanan air Gunung Arjuno yang mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, dan Mojokerto.

Pada era kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa, Sungai Brantas menjadi lalu lintas perdagangan dunia. Sungai Brantas memiliki panjang sungai utama 320 km dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 11.800 km² atau seperempat dari total luas keseluruhan Provinsi Jawa Timur. Kawasan DAS ini telah lama dimanfaatkan sebagai area pertanian sejak abad ke-8.

Banyak film-film lama bergenre horor yang mengangkat tema tentang misteri buaya putih. Tak banyak yang tahu, ternyata kisah ngeri tersebut diangkat dari cerita rakyat di Sungai Brantas. Sejak lama banyak korban nyawa yang terpaksa harus diserahkan untuk meredam amarah dari sang Ratu Buaya Putih. Pada tahun 1009, Mpu Baradah berulang kali tercatat menumbalkan manusia saat memecah Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala.

Cerita tentang keberadaan buaya putih juga ditemukan dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada rentang waktu 1836-1876. Saat itu, pembangunan jembatan lama yang membelah Sungai Brantas di Kediri mengalami kendala. 

Terdapat cerita tentang sosok buaya putih bernama Badug Seketi di Kecamatan Kras Kediri. Awalnya dahulu Badung Seketi berhubungan baik dengan penduduk. Setiap kali ada hajatan, penduduk selalu meminta keperluannya dipenuhi oleh sang Badung Seketi. Konon hubungan baik masih terus terjadi hingga tahun 1970an.

Sejak berabad-abad lalu, Sungai Brantas menjadi jalur tranportasi untuk lalu lintas kapal-kapal perdagangan dan peperangan. Banyak pelabuhan berdiri di sepanjang aliran sungainya untuk mengakomodir kapal-kapal saudagar dari luar Pulau Jawa. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, Mataram dan VOC pernah sekali menyerang Istana Trunojoyo di Kediri melalui jalur air yang berakibat pada karamnya salah satu kapal di Sungai Brantas.

Tak sedikit kapal-kapal besar lainnya yang karam di Sungai Brantas dan menenggelamkan semua harta benda yang dibawanya. Kejadian-kejadian tragis di masa lalu kemudian menjadi berkah pagi para penambang emas. Tak jarang mereka menemukan berbagai koin emas dan barang berharga lainnya yang diprediksi berasal dari kapal yang karam.

Yuk kita ramai-ramai ke Kota Kediri 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE