Pernah nggak, lagi ngobrol sama teman lalu tanpa sadar bilang, “Aku literally capek banget hari ini, but it’s okay“? Awalnya mungkin cuma ikut-ikutan istilah yang sering muncul di TikTok atau Instagram. Lama-lama, campuran bahasa Indonesia dan Inggris justru terasa lebih natural daripada bicara dalam satu bahasa saja.
Menjelang Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, kebiasaan ini menarik untuk dibahas lagi. Istilah seperti literally, healing, relate, random, dan overthinking, sampai yang lagi tren seperti “in this economy”, bukan cuma muncul di konten viral. Kata-kata itu juga kita pakai saat ngobrol, mengunggah Instagram Story, sampai membalas WhatsApp.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pernah mengulas fenomena bahasa campuran Indonesia-Inggris, atau yang populer disebut bahasa Jaksel, pada Juli 2024. Ulasan itu menjelaskan bahwa kebiasaan ini menyebar lewat media sosial dan sudah jadi bagian dari obrolan sehari-hari anak muda.
Lantas, apakah mencampur bahasa berarti kita mulai melupakan bahasa Indonesia? Sebelum buru-buru menyimpulkan, simak dulu beberapa faktanya.
5 fakta bahasa campur-campur tapi tetap Indonesia
1. Bahasa campuran sudah jadi bagian dari obrolan sehari-hari

Coba lihat percakapan di grup WhatsApp atau kolom komentar media sosial. Kalimat seperti “Aku lagi hectic banget”, “Besok kita meeting, ya”, atau “Please, spill tempatnya!” pasti sudah nggak asing.
Struktur kalimatnya tetap bahasa Indonesia, hanya disisipi kosakata atau ungkapan bahasa Inggris. Dalam ilmu bahasa, fenomena ini disebut campur kode atau code-mixing, yaitu ketika penutur memasukkan unsur bahasa lain ke dalam kalimat yang sedang ia ucapkan.
Kebiasaan ini juga nggak terbatas pada anak muda di Jakarta Selatan. Berkat konten digital, istilah yang awalnya populer di kelompok tertentu bisa menyebar ke berbagai daerah. Lingkungan sosial, konten yang dikonsumsi, dan lawan bicara ikut memengaruhi pilihan kata seseorang.
ADVERTISEMENTS
2. Media sosial bikin istilah Inggris makin familier

TikTok, Instagram, YouTube, film, musik, dan gim daring membuat kita sering bersentuhan dengan bahasa Inggris. Saat sebuah kata terus muncul di konten yang kita tonton, lama-lama kita terbiasa memahami dan memakainya.
Contohnya kata healing untuk menggambarkan kegiatan rehat atau menyegarkan pikiran. Setelah berkali-kali melihatnya di media sosial, kata itu terasa gampang dipakai saat bercerita ke teman. Meski begitu, nggak semua istilah yang sering muncul itu baru. Sebagian sudah dipakai bertahun-tahun, sementara popularitas istilah lain naik turun mengikuti tren.
3. Campur bahasa terasa praktis dan lebih ekspresif

Pernah merasa kata overthinking lebih praktis daripada menjelaskan bahwa kamu terus memikirkan sesuatu secara berlebihan? Atau kata relate terasa lebih ringkas untuk bilang sebuah cerita dekat dengan pengalamanmu? Bagi sebagian orang, itulah alasan bahasa campuran terasa nyaman: lebih singkat, familier, atau pas dengan suasana obrolan.
Tapi bukan berarti bahasa Indonesia selalu kalah praktis. Hampir semua istilah itu punya padanan yang bisa dipakai sesuai konteks, dan kamu bisa mengeceknya di KBBI daring:
Jadi, bahasa campuran bisa jadi pilihan gaya komunikasi. Yang perlu diperhatikan, apakah pilihan kata itu membantu menyampaikan maksud atau justru bikin lawan bicara bingung.
4. Bahasa campuran juga menunjukkan identitas pergaulan

Bahasa bukan cuma alat menyampaikan informasi. Pilihan kata juga menunjukkan kedekatan, lingkungan pertemanan, dan kelompok sosial tempat seseorang merasa jadi bagian. Istilah yang biasa di grupmu bisa terdengar asing bagi orang lain, dan ketika semua anggota paham istilah yang sama, obrolan terasa lebih akrab.
Menurut penelitian dalam Jurnal BASADYA (2026), kebiasaan mencampur bahasa di kalangan Gen Z nggak sekadar ikut-ikutan tren. Ada tiga alasan utamanya:
Penelitian itu juga mencatat, bahasa campuran memang bisa memperkaya kosakata dan mempererat keakraban. Tapi kalau nggak dibatasi dengan bijak, kebiasaan ini berpotensi memengaruhi kaidah bahasa Indonesia.
5. Sumpah Pemuda mengingatkan kita untuk tetap menghargai bahasa Indonesia

Lalu, apakah mencampur bahasa bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda? Jawabannya nggak sesederhana itu. Memakai istilah asing di obrolan santai nggak otomatis berarti kita melupakan identitas nasional. Yang perlu dilihat adalah konteks, tujuan, dan apakah pesannya tersampaikan.
Ikrar ketiga Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928“Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
Ikrar itu yang bikin obrolan soal bahasa tetap relevan menjelang 28 Oktober. Kapan bahasa campuran oke, dan kapan sebaiknya pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar?
Menguasai bahasa asing dan mencintai bahasa Indonesia bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Belajar lewat kursus bahasa Inggris online atau aplikasi belajar bahasa Inggris tetap penting untuk membuka wawasan. Kuncinya, kita bisa mengenal dunia lebih luas tanpa kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik. Jangan lupa juga menjaga bahasa daerah sebagai kekayaan budaya kita.
Bahasa campuran boleh, asal tahu konteksnya

Fenomena bahasa campur-campur tapi tetap Indonesia menunjukkan bahwa cara kita berkomunikasi ikut berubah bersama teknologi, media sosial, dan lingkungan pergaulan. Kita nggak perlu menganggap semua bahasa campuran sebagai masalah. Yang lebih penting adalah tahu kapan gaya itu cocok dipakai dan kapan kita perlu memilih bahasa Indonesia yang jelas dan formal.
Menjelang Sumpah Pemuda, jadikan kebiasaan berbahasa sebagai bahan refleksi tanpa saling menghakimi. Kamu boleh jago bahasa Inggris, pakai istilah yang lagi populer, dan tetap bangga berbahasa Indonesia.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah bahasa campuran sama dengan bahasa Jaksel?
Bahasa Jaksel adalah sebutan populer untuk gaya bahasa yang mencampur bahasa Indonesia dan Inggris. Namun, campur kode nggak terbatas pada warga Jakarta Selatan dan bisa ditemukan di berbagai kelompok masyarakat.
Apakah mencampur bahasa Indonesia dan Inggris itu salah?
Nggak selalu. Dalam obrolan informal, campur kode adalah fenomena bahasa yang lazim. Dalam situasi formal, bahasa perlu disesuaikan dengan konteks dan kaidah yang berlaku.
Bagaimana cara menjaga bahasa Indonesia di era media sosial?
Gunakan bahasa Indonesia yang jelas saat dibutuhkan, cari tahu padanan kata di KBBI, dan sesuaikan gaya bicara dengan lawan bicara. Belajar bahasa asing tetap bisa berjalan berdampingan dengan menghargai bahasa Indonesia.
ADVERTISEMENTS