Pernahkan kita membayangkan memiliki hidup yang indah? Yang kita tahu hanyalah tentang kebahagiaan, kedamaian, rasa aman bahkan mungkin senyum yang selalu melekat di bibir kita tiap membuka mata. Ya, hidup yang menjadi “EGO” semua orang.  Tapi tunggu, kita hidup di dunia nyata dimana segalanya terjadi bukan karena kehendak kita sepenuhnya, bahkan kita harus saling berbagi dan bersinggungan tentang “EGO” kita dengan orang lain. Tengoklah lagi berapa banyak “EGO” yang berusaha saling menjatuhkan, bahkan mungkin kita tidak sadar bahwa “EGO” telah menjadi bagian dari diri kita. Mari kita koreksi diri kita berapa banyak “EGO” yang telah kita lakukan selama hidup.

 

1. “EGO” mendikte Tuhan

Sudah benarkah doa'ku?

Sudah benarkah doa'ku? via http://www.ukicalgary.org

Ya, ini adalah kenyataan yang harus kita terima. Kenyataan bahwa kita yang dikatakan sebagai ciptaanNya yang paling sempurna, tetapi kita juga yang mengingkariNya. Berapa banyak keluhan, makian, caci-maki, bahkan hujatan yang kita lakukan terhadap-Nya? Entah itu secara sadar atau dengan berpura-pura tidak sadar. Dengan menggunakan tangis dan doa kita merasa sudah bisa menipu-Nya, berusaha mengakali apa yang hati kita ingin ucapkan.

 

2. “EGO” mendikte diri sendiri lebih baik

Aku yang merasa berhak menilaimu

Aku yang merasa berhak menilaimu via http://3.bp.blogspot.com

Selama hidup berapa banyak hal baik yang bisa kita lakukan bukan jaminan kelak kita akan hidup tenang saat Dia telah memanggil. Dia jauh mengetahui apa maksud dari kita, Dia jauh lebih mengetahuhi  apa tujuan dari hidup kita, bahkan Dia tahu bagaimana kita kelak. Lalu apa kita layak mengatakan bahwa diri kita sudah “benar” untuk bisa menghakimi orang lain saat kita merasa hidup kita sudah penuh berkat dariNya?

3. “EGO” mendikte orang lain

Lakukan apa yang aku inginkan

Lakukan apa yang aku inginkan via http://api.tulistr.com

Sudah terlalu banyak hal buruk yang kita lakukan, bahkan mungkin sudah sangat tidak masuk akal bagi kita untuk terus meminta Dia selalu menyayangi kita. Kita melakukan segala macam hal untuk saling bersaing dan saling menghancurkan satu sama lain. Kita merasa dengan memiliki harta, status sosial, pendidikan, bahkan mungkin ketenaran kita untuk bisa menyingkirkan orang lain yang menghalangi jalan kita.  Kita memaksa orang lain untuk menjadi apa yang kita inginkan, entah apapun tujuannya. Sadarkah bahwa kita belum tentu lebih baik darinya?

4. “EGO” mendikte dunia

Hal yang jauh lebih konyol lagi adalah kita berusaha mendikte dunia untuk menjadi tempat yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita lupa bahwa perubahan merupakan sesuatu yang tidak bisa dirubah. Lalu kita datang dengan merasa bahwa kita mampu mendikte dunia dengan apa yang kita miliki. Lalu saat kita gagal kita hanya bisa menangis menyalahkan dunia.

Tapi dari “EGO” itu pula kita belajar bahwa hidup ini merupakan anugerah yang harus diperjuangkan, bahwa  hidup ini mengajarkan tentang ketulusan, kasih sayang, saling memiliki, dan harapan bahwa kita tidak boleh menyerah untuk meminta dan berserah kepadaNya. Dengan “EGO” itu pula kita belajar untuk bisa menjadi dewasa dalam berpikir, kita belajar untuk mengalah dan menghargai orang lain. Jadi tinggal bagaimana kita menggunakan “EGO” itu untuk menjalani sisa hidup di dunia ini agar kelak layak untuk menjadi seorang hamba yang dikasihiNya.

5. "EGO" yang mendewasakan

Dewasa karena bersyukur

Dewasa karena bersyukur via http://artikelkristen.com

Tapi dari “EGO” itu pula kita belajar bahwa hidup ini merupakan anugrah yang harus diperjuangkan, bahwa  hidup ini mengajarkan tentang ketulusan, kasih sayang, saling memiliki, dan harapan bahwa kita tidak boleh menyerah untuk meminta dan berserah kepadaNya. Dengan “EGO” itu pula kita belajar untuk bisa menjadi dewasa dalam berpikir, kita belajar untuk mengalah dan menghargai orang lain. Jadi tinggal bagaimana kita menggunakan “EGO” itu untuk menjalani sisa hidup di dunia ini agar kelak layak untuk menjadi seorang hamba yang dikasihiNya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya