"Aku cinta kamu, sayang"

'Aku' bermakna 'diri'. 'Cinta' dalam kalimat itu adalah kata kerja. 'Kamu' yang dimaksud adalah korban dari rasa Cinta itu. Tambahan kata ‘sayang’ adalah bumbu penyedap yang sebetulnya merusak makna dari kata kerja yang awal, karna kata itu cenderung mewakili libido ketimbang nurani.

1. Saat Cinta Berubah Jadi “Kata Cinta”

Karna ‘Cinta’ selalu dipahami sebagai kata kerja, maka orang itu tidak akan pernah sampai pada ketulusan, dan senantiasa mengharapkan balasan. Di dunia maya/ virtual, cinta berubah jadi ‘kata cinta’, rasa berubah ‘jadi emoticon’, kekaguman berubah jadi ‘like’, dan kepedulian berubah jadi ‘share’. Hal ini membuat makna Cinta semakin terkikis. Benar, kan?

2. Kepura-puraan yang Dianggap Nyata

Cinta Salah via http://www.cuteabis.com

Banyak makna yang terurai menjadi serpihan-serpihan kekosongan serta halusinasi dan bagi sebagian orang inilah Cinta yang sebenarnya. Saat ketulusan yang disini tidak divirtualkan dan tidak berkemas halusinasi kata serta canda yang identik dengan drama, akan kalah dengan kebohongan yang indah di sana, kepalsuan mimik dengan gambar yang seakan mewakili isi jiwa yang sesungguhnya, padahal hanya mahluk asing beparas tombol dan berjiwa kuota.

3. Romantisme Palsu

Advertisement

Kejahatan atas Nama Cinta via https://d.wattpad.com

Saat pengorbanan yang di sini tidak bernuansakan romantisme ala Romeo dan Juliet atau Habibi dan Ainun, akan kalah dengan konsultan imitasi disana, yang hadir dengan kata-kata mutiara hasil jiplak, romantisme alakadarnya namun karna berada dibalik screen, hal itu terlihat bonafit. Cinta-pun harus undur diri karena 'kata cinta’ lebih dianggap berarti ketimbang nurani yang suci.

4. Cinta Diidentikan Dengan Seks

Dunia Maya juga menjadi wadah empuk Kapitalisme dan erotisme yang telah berbaur dalam sebuah sistem yang tak kenal kompromi: kecantikan adalah jalan menuju sukses. Nah, cinta saat ini diidentikan dengan seksualitas dan sensualitas. Saat kenyataan yang pahit harus disiasati dengan jalur imaginasi tanpa reaksi aktual, hanya harapan fiksi yang terus bersemayam dan tak henti membual.

5. Harga Diri Bukan Lagi Harga Mati

Love is full of Stupidity via http://quotesideas.com

Telah datang satu masa dimana harapan akan keindahan diganti oleh kata yang mengandung rayuan tulalit, saat dimana seseorang beralih dari ketulusan aktual kepada kasih sayang imagi yang banyak dijual di pasar-pasar janji, saat para wanita pe-solek meninggalkan harga diri demi nilai yang dianggap 'cinta', padahal hanya lubang berduri yang tidak lain hanya untuk bunuh diri.