Kalian yang saat ini sedang terpuruk, ingatlah bahwa menerima kondisi diri sendiri adalah wajib hukumnya. Permasalahan yang dihadapi memang dirasa berat, wajar sebab itu tantangan untuk dihadapi. Namun, sampai kapan kalian mau terpuruk?

Waktu dan tenaga yang terkuras akan menjadi sia-sia saja jika kalian tidak mau berubah. Aku menyadari bahwa ketika berbicara dan menuliskan itu memang mudah dibandingkan untuk dijalani. Bukankah tipikal kita yang senang berbicara namun kurang tindakan? Lantas bagaimanakah proses yang harus dijalani?

Perihal memperbaiki kondisi diri ketika menghadapi keadaan yang buruk sekalipun, kalian butuh proses. Namanya proses tentu kadang bisa membaik namun bisa kembali terpuruk. Nikmatilah dan belajar untuk mengontrol diri. Proses juga membutuhkan waktu yang terbilang tidak singkat. Tapi tidak ada salahnya untuk di coba kan?

1. Penolakan mengenai kondisi terpuruk akan dirasakan saat pertama kali

Penolakan

Penolakan via https://pixabay.com

Biasanya ketika mengalami kondisi tidak enak, seperti putus cinta atau di selingkuhi, maka kita akan menolak kenyataan tersebut. Umumnya kita akan merasa bahwa semua informasi ataupun apa yang kita lihat langsung adalah salah.

Advertisement

Selain itu, diri kita merasa bahwa ini cuma mimpi dan semua itu hanya bohongan saja. Memang situasi itu buruk, serasa kejatuhan batu besar di kepala. Tapi tetap harus di sadari bahwa begitulah keadaan yang harus dialami.

2. Kemarahan mulai muncul dan tidak bisa dihindarkan

Selanjutnya kita akan merasa marah atas kondisi yang sedang dialami. Tidak adanya persiapan untuk merasakan hal tersebut membiat kita menjadi uring-uringan.

Lantas marah menjadi salah satu alternatif yang bisa dilakukan. Marah terhadap keadaan, orang-orang di sekitar, bahkan bisa menyalahkan Tuhan atas kondisi ini. Pernah mendengar kalimat “Mengapa aku yang mengalami ini?” atau bahkan kalian pernah menyebutkannya? Ya.. itu contoh dari kondisi ini.

3. Perlahan mulai sadar dan mencoba mencari cara untuk memperbaikinya

Tawar Menawar

Tawar Menawar via https://pixabay.com

Advertisement

Setelah merasa lega ataupun lelah akibat marah, maka berikutnya mencoba untuk memikirkan bagaimana menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Mulai dari berdoa, bertanya ke orang lain, mencari informasi dari orang ahlinya, dan sebagainya. Semua dilakukan semata-mata untuk bisa menyelesaikan kondisi yang ada. Sebab adanya keinginan untuk bisa kembali ke kondisi semula.

4. Mengalami rasa lelah berkepanjangan bahkan merasa depresi

Ketika sudah mencoba berbagai cara namun belum berhasil, otomatis rasa depresi yang muncul. Kembali ingin menangis dan marah karena semua tidak bisa diselesaikan. Merasa diri tidak mampu dan menekan diri dengan terus menerus. Muncul perilaku menyalahkan diri sendiri yang sebetulnya tidak perlu dilakukan. Sebab kita perlu sadar bahwa jika bukan kita yang menyelesaikan, lalu siapa lagi?

5. Setelah lelah merasakan semuanya, perlahan mulai menerima kondisi yang ada

Menerima Diri Sendiri

Menerima Diri Sendiri via https://pixabay.com

Sudah lelah namun merasa ini belum selesai. Maka muncul perasaan bahwa ini semua memang perlu diterima dan dijalani. Percuma untuk disembunyikan dan dianggap tidak ada, karena kenyataannya memang perlu dijalankan. Maka merasa menerima diri sendiri dan kondisi yang ada menjadi hal yang indah. Semata-mata untuk menyelesaikan fase-fase negatif yang menyalahkan diri sendiri.

Semua dilakukan memang tidak mudah dan bisa terus berputar. Layaknya lingkaran yang tidak terputus, maka kalian bisa berputar-putar dalam tahapan yang ada. Bahkan bisa saja maju mundur tanpa pernah usai.

Maksudnya jika sudah bisa melalui tahapan ketiga, eh kalian merasa kembali marah dan mundur lagi ke masa-masa sebelumnya. Itu wajar terjadi, namun tidak bisa dibiarkan terus menerus. Mulai sekarang berhenti sejenak dan memikirkan apa yang perlu dilakukan agar kalian bisa menerima semuanya dengan ikhlas.

Tetap semangat dan terus mencoba.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya