Waktu itu bulan September dan ini adalah awal musim gugur di belahan bumi utara dengan temperatur yang cukup dingin bagi orang Indonesia, sekitar 14°C. Bocah petualang dari kota kecil di pulau Timor ini akhirnya menginjakkan kaki di kota metropolitan sekelas London. Saya berkata pada diri saya, “Apakah saya sedang bermimpi?”

Sepertinya memang demikian karena di saat semua orang mengenakan jaket, jas, jeans panjang, syal tebal dan sepatu boot, dengan gaya tropis – celana selutut, baju kaos lengan pendek dengan ransel dan koper – saya terlihat seperti alien yang tersesat saat keluar dari bandara Heathrow menuju stasiun Underground, salah satu jalur kereta bawah tanah yang tertua di Eropa yang sudah beroperasi sejak 1800an. Ini adalah hari pertama saya memulai hidup sebagai seorang mahasiswa selama kurang lebih satu tahun di London.

1. Memanjakan Mata

Selfie di Hyde Park

Selfie di Hyde Park via https://www.facebook.com

Waktu itu saya tinggal di daerah Dalston menumpang beberapa hari di rumah seorang teman yang saya kenal lewat media sosial sebelum pindah ke asrama mahasiswa. Seminggu pertama saya manfaatkan untuk berjalan-jalan keliling kota London untuk melihat keindahannya sekaligus menyesuaikan diri dengan cuaca dan suhu di sini.

Pasar tradisional di area Dalston sampai pusat perbelanjaan kelas dunia di sepanjang Oxford Street memberikan suasana baru bagi saya. Karena ini musim gugur, saya juga mengunjungi beberapa taman. Hyde Park adalah salah satu taman yang paling indah dan mempesona di London. Gugur dedaunan berwarna-warni yang biasanya cuma dapat saya saksikan dari layar televisi dan gambar-gambar di internet, hari ini saya lihat sendiri keindahannya.

2. Pusat Sejarah Kuno dan Moderen

British Museum

British Museum via https://www.visitlondon.com

Advertisement

Seminggu kemudian saya pindah ke asrama mahasiswa di dekat kampus. Asrama saya berada cukup strategis di pusat kota yaitu di daerah Bloomsbury dan dekat sekali dengan pusat sejarah dunia, British Museum. Saya terkagum dengan begitu banyaknya koleksi di museum ini. Mulai dari mumi-mumi masa peradaban Mesir kuno sampai sejarah manusia modern, semuanya ada di sini. Saking besarnya, saya hanya sanggup menyelesaikan sepertiga koleksi pada kunjungan pertama saya dan kembali lagi dengan seorang teman yang berkunjung ke London beberapa bulan kemudian.

3. Inggris dan Eropa Daratan

Stasiun King's Cross & St. Pancras - Harry Potter Scene

Stasiun King's Cross & St. Pancras – Harry Potter Scene via https://stpancras.com

Bloomsburry juga adalah tempat di mana Stasiun King’s Cross & St. Pancras berada. Stasiun ini adalah salah satu stasiun kereta terbesar yang melayani perjalanan ke hampir seluruh Inggris dan negara-negara di Eropa Barat.


“Sebentar, bukankah Inggris terpisah oleh laut dari negara Eropa lainnya?”.


Advertisement

Ya, saya tahu itu pertanyaan di benak banyak orang. Untuk menghubungkan Inggris dengan negara-negara di Eropa daratan, sebuah proyek terowongan bawah laut dilakukan untuk menghubungkan Folkestone di Inggris dan Coquelles di Perancis. Ide pengembangan proyek ini sudah dimulai sejak 1800an tapi baru selesai dan melayani perjalanan penumpang sejak 1994[1]. Saya beberapa kali bepergian ke Belgia dan Belanda menggunakan kereta bawah laut ini. Semuanya terasa nyaman seperti kereta pada umumnya tapi saat menyadari bahwa saya berada sekitar 75 meter di bawah dasar laut, rasanya luar biasa.

Selain itu, stasiun King’s Cross & St. Pancras juga menjadi destinasi wisata yang terkenal di kalangan pecinta Harry Potter. Jika pernah meyaksikan film Harry Potter, tentunya tidak asing dengan adegan saat Daniel Radcliff memasuki Peron 9 ¾ untuk menumpang Hogwarts Express. Di pojok lobi stasiun terdapat sebuah kereta dorong dengan si burung hantu Hedwig di atasnya yang setengah bagiannya tertanam di tembok. Antrian wisatawan memang cukup panjang, tapi berfoto di sini cukup dapat membawa hayalan kita ke adegan fenomenal itu.

4. Gemerlap di Tengah Kebekuan

Dekorasi Musim Dingin

Dekorasi Musim Dingin via http://www.londontown.com

Siapapun yang pernah tinggal di Inggris setuju bahwa waktu di sini terasa berlalu cepat sekali. Tidak seperti di Indonesia yang hanya mengenal musim kemarau dan musim penghujan, di sini terdapat empat musim yang masing-masing hanya berdurasi tiga bulan. Musim gugur yang baru sebentar sekarang berganti musim dingin, kemudian berganti musim semi dan musim panas.

Suhu udara pada musim dingin bisa mencapai beberapa derajat di bawah nol. Temperatur terendah yang pernah saya rasakan adalah -3°C. Meskipun demikian, suhu udara yang membeku seperti ini tidak sebanding dengan kemeriahan dan keindahan kota London yang dipenuhi dengan dekorasi menjelang Natal yang ada hampir di sepanjang jalan.

Lampu berwarna-warni, hiasan-hiasan Natal dan paduan suara di sudut-sudut kota memberikan suasana unik di bulan Desember. Perayaan tahun baru di sini juga adalah salah satu yang paling meriah di seluruh dunia dengan pertunjukan kembang api berdurasi sekitar 15 menit di area sekitar London Eye dan Big Ben.

5. Multikultural & Multikuliner

English Breakfast

English Breakfast via https://www.shortlist.com

Selain keindahan kota dan alam di London, berada dalam masyarakat yang multikultural juga salah satu pengalaman yang sangat disayangkan jika terlewatkan. Selama tinggal di sini saya bergabung dengan sebuah paduan suara komunitas. Terlepas dari perbedaan budaya, memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia dan mempelajari budaya dan kebiasaan mereka adalah sesuatu yang menarik apalagi sambil menikmati makanan khas mereka.

Banyak sekali restoran yang menyajikan masakan dari seluruh dunia – Italia, India, Persia – bahkan tidak sulit untuk menemukan rumah makan Indonesia di sini. Suatu hari saya mengundang beberapa teman untuk datang ke tempat saya untuk makan siang bersama, dan menu makan siang waktu itu adalah Indomie telur rebus. Ya, Indomie sudah ‘go international’ dan mudah didapat di pasar-pasar tradisional Asia. Chinatown di area Soho adalah salah satu tempat kesukaan saya untuk dikunjungi kalau saya rindu dengan masakan Indonesia atau masakan Asia lainnya.

Lalu apa makanan khas Inggris? Itu juga pertanyaan pertama saya saat masih tinggal dengan teman saya. Karena pertanyaan itu, dia akhirnya membuatkan saya makan pagi, English Breakfast, yang di dalamnya terdiri dari roti, kacang polong, telur, tomat ceri, sosis, jamur dan bacon. Bacon adalah daging babi yang diiris tipis dan digoreng dengan minyak secukupnya.

Selain itu, orang Inggris juga terkenal dengan kegemarannya minum teh. Teh sudah menjadi bagian dari keseharian mereka sejak berabad-abad lalu. Kalau di Indonesia, saya hanya mengenal dua rasa teh – mawar dan melati, di Inggris saya sudah mencoba banyak sekali jenis teh. Seorang teman saya bahkan memiliki lemari khusus untuk menyimpan teh.

Satu tahun rasanya belum cukup untuk mengenal Inggris sepenuhnya. Masih banyak sekali yang bisa dijadikan pengalaman di Inggris baik alam, kuliner maupun masyarakatnya. Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara yang merupakan bagian dari Britania Raya juga memberikan pengalaman unik tersendiri. Kapanpun Anda datang, negara ini selalu memberikan sesuatu yang menarik untuk dialami. Tertarik? #AyoKeUK

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

[1] Channel Tunnel – https://en.wikipedia.org/wiki/Channel_Tunnel

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya