Tidak sukses, dikucilkan, selalu dipandang sebelah mata, semua itu tentunya adalah hal-hal yang menakutkan, terlebih bila itu terjadi di masa depan kita kelak. Namun, semua itu akan menjadi sesuatu yang begitu remeh apabila disandingkan dengan kematian.                                                                                                                                              

Gagal? Dapat dicoba lagi. Salah? Pun masih dapat diperbaiki. Selagi masih ada kesempatan, tentunya. Selagi jiwa dan raga belum ditelan kematian.

Hatake Kakashi dalam serial Naruto bilang bahwa, “Masa depanmu adalah kematian.” Terdengar menyeramkan, memang. Namun, tentu semua dari kita sudah tahu bahwa kata-kata tersebut benar adanya. Tak seperti ramalan kartu tarot yang membeberkan kalau lima tahun mendatang kau akan jadi jutawan dan hidup bergelimang harta. Atau mbah dukun sok tahu yang menjanjikan di masa depan  kau akan menikahi dia yang telah diam-diam kau kagumi sedari dulu.

Tentunya tidak seperti itu.

Kematian adalah masa depan yang paling pasti dan akan dirasakan oleh setiap kita yang hidup di bumi. Sementara kaya, miskin, sukses, dan gagal hanyalah perjudian kecil yang kita rayakan tiap waktu dalam upaya mengisi kehidupan nan terbatas ini. 

 

1. Kematian Selalu Datang Tiba-tiba

Jessica yang menutup mata di usia belia via http://www.facebook.com

Sembilan tahun yang lalu, barangkali Almarhumah Jessica tak menyangka kalau kematian akan menjemputnya secepat itu, dalam usianya yang baru tujuh belas tahun. Begitu muda. Begitu penuh cita-cita. Masa di mana kita bebas berangan menjadi apa saja yang kita inginkan.

2. Kematian Pasti, Sementara Penyebabnya Bervariasi

Jessica meninggal dunia karena penyakit Lupus via http://www.facebook.com

Namun, ingat-ingatlah… Tak semua masa depan dapat tergenggam di tangan. Begitu pun yang menimpa Jessica.

Advertisement

Di saat gadis itu mengira tinggal beberapa langkah lagi menjangkau masa depannya, kematian pun datang tanpa peringatan…

Lupus, itulah penyebab kematian gadis itu. Penyakit langka yang dulu—dan bahkan hingga kini belum ada obatnya.

3. Sirene Kematian Tidak Harus Menghentikan Kita untuk Bersinar, kan?

Semangat Jessica tak pernah surut meski didera Lupus. via http://www.facebook.com

Jessica yang dalam keadaan menderita digerogoti Lupus kala itu tetap mengerahkan segenap kemampuan terakhir yang ia miliki untuk mengikuti ujian nasional. Meski tubuhnya sudah melemah dan anggota geraknya—terutama kaki—sudah kian kehilangan fungsi.

Namun, siapa sangka, dalam ketidakberdayaannya itu ia tetap tak kehilangan terangnya. Jessica berhasil tercatat sebagai peraih nilai UAN tertinggi kedua di SMA Kemurnian II—tempat ia menimba ilmu kala itu.

4. Dan Percayalah, Pekatnya Kematian akan Kalah oleh Terang yang Kita Pancarkan Semasa Hidup

Jessica yang selalu bersinar laksana kunang-kunang via http://www.facebook.com

Terdengar seperti sinetron, tapi tidak. Ini adalah murni kisah nyata. Kisah tentang seseorang yang mendirikan aneka mimpi di kepalanya. Dari hairsyler hingga pelukis, semua pernah menjadi bagian cita-cita gadis itu. Namun, sayang, tak satu pun sempat ia wujudkan.

Bersinar, mungkin itu satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Jessica semasa hidupnya. Laksana kunang-kunang, begitu benderang namun lekas menghilang.

5. Nah, Sudahkah Kau Nyalakan Terangmu?

Terang Jessica yang selalu Hidup di Hati Setiap Orang yang Mengenalnya via http://www.facebook.com

Ia merayakan hidup dengan paripurna. Tak ada yang setengah-setengah, melainkan dengan kebulatan dan ketulusan hati. Itulah kenapa hingga kini orang-orang yang mengenalnya akan sulit melupakan cahaya gadis itu.

Menyusuri tapak tilas perjuangan hidup Jessica tersebut, tidakkah kau merasa tersentil?

Sudahkah selama ini kau hidup menghasilkan terang? Kalau belum, nyalakanlah terangmu sekarang. Sebab hanya itulah hal yang dapat menyelamatkan kita dari gelapnya kematian, satu-satunya masa depan yang harus kita hadapi dan layak kita takutkan.