Ku buka dengan "Selamat Hari Ibu". Semoga salamku sanggup mengguncang Surga tempatmu kini berada. Berapa banyak waktu yang kuhabiskan bersamamu? Berapa banyak bahagia yang tercipta kala itu? Berapa sering senyum tersungging di bibirmu? Dan betapa bahagianya aku mengenal dan menghabiskan sejuta momen bersamamu.

Jika orang menyebutnya malaikat tanpa sayap, aku pikir sebutan itu nyata, malaikat dunia itu ada. Ibu, begitulah aku menyebutnya. Ia tak lama menemaniku di dunia, namun setiap momen bersamanya sangat terasa, semua begitu luar biasa, cerita bersamanya sangat menyenangkan, setiap episodenya sangat kunantikan. Beberapa momen sederhana dibawah ini contohnya.

1. Kita pernah tertawa, membuat adonan kue hingga banjir tepung dimana-mana

Membuat kue bersama

Membuat kue bersama via https://www.merdeka.com


Masih terbingkai indah guratan tawa dibibirnya. Potret itu adalah gambar kesukaanku


Advertisement

Salah satu momen favoritku, kegiatan yang kurindukan. Ibu membuat kue lebaran, aku mericuh dengan eksperimen kue belepotan. Ibu tertawa, kueku bulat panjang tak karuan, bentuknya menggelikan. Ku oven bersebelahan dengan kue buatan ibu yang sedap dipandang. Kegiatan rutinan, ibuku hobi membuat kue beraneka ragam. Sesekali kubantu meski nyatanya aku yang paling banyak makannya.

Meja makan kita jadi saksi, betapa menggelikannya canda tawa ini. Jika kue kami bernyawa, ia akan ikut tertawa.

2. Belajar bernyanyi lagu anak dan ibu memetik gitarnya serempak

Aku membuka buku kumpulan lagu, kupilih satu yang akan kunyanyikan bersama ibu. Aku belajar nada darinya, ia mengajariku bagaimana menyanyikannya. Sembari bernyanyi, ia petikkan gitar untuk mengiringi. Suara gitar dari tangan ibu yang baru belajar ditambah suara nyanyianku yang kacau membuat lagu yang kita nyanyikan bagai suara gemuruh, berisik menyeluruh.

Advertisement

Aku tertawa terpingkal-pingkal selagi ibu bernyanyi dengan lirik yang membuatku geli. Nadanya sedikit berantakan, suara gitarnya makin tak karuan. Ibu memetiknya kacau, aku menabuhnya parau.

3. Ia menunggu ujian mengajiku hingga larut malam, lalu mengecup keningku ketika kabar kelolosanku datang

Keajaiban pelukan dan ciuman ibu

Keajaiban pelukan dan ciuman ibu via https://www.vemale.com

Ia satu-satunya yang tau, aku takut berjalan sendirian. Rumahku sedikit lebih jauh dibanding teman-teman. Aku berimajinasi segala jenis hantu malam mengikutiku jika berjalan ditengah kegelapan. Ibuku menunggu, sendirian dan kesepian. Anak perempuannya tak kunjung pulang hingga larut malam.

Ketika aku turun dari mobil dan mendapati ibu duduk sendirian, raut wajahnya yang lelah seolah berbuah lega. Penantiannya usai juga. Beberapa hari kemudian saat kuceritakan aku lulus dengan nilai yang memuaskan, ia memelukku dan mengucap keningku lama. Ini momen sekali seumur hidup aku melihatnya mendekapku dengan begitu bangga.

4. Bulan, bintang, dan segala yang langit malam saksikan

Bintang bersinar

Bintang bersinar via http://artimimpi.web.id


Bintang malam sampaikan padanya, aku ingin melukis sinarmu di hatinya


Aku sering mendapati ibu duduk seorang diri, melihat langit malam dengan taburan bintang-bintang. Ketika kutanya mengapa sendiri, jawabnya "ini menenangkan, bintang malam mengasyikkan". Ia memberi tebakan, apakah malam ini bulan bulat sempurna atau hanya setengahnya dan berapa banyak bintang yang menemaninya. Ketika berada disampingnya, aku merasa malam itu menenangkan.

Aku dan ibu bercerita panjang lebar, mulai cerita masa kecilnya hingga kabar sekolahku yang tak kunjung mendapat rangking satu sesuai yang ibu mau. Hanya sebentar saja kita duduk disana, semilir angin yang terlalu dingin bisa membuatku masuk angin. Kita puas dengan cerita malam, lalu tidur dengan mata terpejam berdua menghadap langit-langit kamar yang sama.

5. Memasangkan jilbabmu terakhir kali sebelum kau pergi, sungguh potret yang indah sekali

Katamu "Ambilkan jilbab ibu". Tubuhnya payah, bahkan duduk menopang badannya sendiri pun tak kuasa. Tangannya lemah, meraih jilbab dengan segenap tenaga pun ia terengah-engah.

"Berikan padaku, akan akan memasangkannya untukmu," kataku. Kupasang perlahan, sembari melihat wajahnya merasakan sakit tak tertahan. Aku mencium tangannya lalu ia pergi mengobati sakit di tubuhnya. Dua hari kemudian ia kembali. Tak bernyawa dengan posisi mata tak terbuka, menutup selamanya.


Katanya ia hendak diobati? Apakah takdir tak menghendaki? Katanya agar ia tak sakit lagi, tapi mengapa aku yang sakit kini? Jika mengingat momen terakhir bersamanya, betapa romantis Tuhan mentakdirkannya. Jika mengingat momen bahagia bersamanya, tak ada kata lebih megah selain aku menyebutnya "Kado Terindah".


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya