Sebagai seorang bidan, kini banyak yang telah mengalami masa-masa duka. Boleh jadi masa dukanya lebih banyak daripada masa sukanya. Terutama masa duka setelah selesai kuliah. Mencari kerja di sana-sini harus pakai STR Bidan. Bukan masalah punya atau tidak tapi untuk mendapatkannya itu setara dengan kuliah D3 yang lamanya 3 tahun itu. Untuk yang D4 mungkin merasakan hal yang sama. Belum usai sampai di situ, gaji bidan pun jika berhasil mendapatkan kerja lebih sering tidak cukup untuk biaya hidup. Terlebih yang masih kost.

Beberapa jasa para bidan bisa di bilang sulit untuk dinilai. Terlebih bidan yang memang mendedikasikan diri pada praktik persalinan. Mereka memiliki jasa untuk membantu menyelamatkan para ibu dan sang generasi baru. Mungkin memang banyak yang bisa membantu persalinan, namun yang bisa memenuhi standar operasional prosedur agar ibu dan anak selamat adalah mereka para profesional.

Coba kita renungkan kembali, sebenarnya bagaimana semestinya para bidan ini diperlakukan. Kemudian, kita bisa merenungkan apakah selama ini jasa mereka sudah terbayarkan. Atau bisakah disamakan dengan para guru yakni pahlawan tanpa tanda jasa. Benar saja tanpa tanda jasa sebab selama ini bagi yang bekerja di instansi tertentu tidaklah mendapatkan kelayakan gaji.

1. Dedikasi Pada Masyarakat

Bidan yang terjun ke ranah pelayanan masyarakat, tentunya sudah memiliki tekat sejak awal. Mereka paham bahwa profesinya selalu berhubungan dengan masyarakat secara langsung. Selain itu, kondisi ini menjadikan para bidan tidak lepas dari dukungan masyarakat. Jika memiliki keahlian manajemen masyarakat maka ia dapat merebut hati di tengah kehidupan itu.

Beda wilayah kerja tentu berbeda pula kasusnya. Bagi yang bekerja di instansi klinik misalkan atau rumah sakit, maka interaksi dengan masyarakat tetap terjalin. Cuma memang tidak seluas ketika membuka praktik bidan mandiri.

2. Kuliah yang Mahal dan Pelajaran yang Tak Mudah

Advertisement

Belum pernah ada yang mengatakan kepada redaksi senyumperawat.com bahwa kuliah bidan itu murah. Mayoritas pasti sudah memvonis bahwa kuliah kesehatan itu mahal. Bahkan jika ditanya kepada mahasiswa kebidanan, mereka pun sebenarnya sadar bahwa biaya kuliahnya tidak murah. Namun memang kembali kepada poin di atas, dedikasi mereka kepada masyarakat memang lebih tinggi daripada sibuk memikirkan biaya.

Bukan hanya soal biaya, materi perkuliahan pun tidaklah mudah. Asuhan kebidanan (Askeb) sering menjadikan mahasiswi kebidanan stres. Terlebih Askeb tidak boleh diketik melainkan ditulis tangan dengan jumlah berlembar-lembar. Saat praktik klinik, tidak jarang mesti menerima celotehan manis dari kakak-kakak di ruangan yang membuat stres pula di lubuk hati.

Menghafal anatomi fisiologi tubuh manusia tidaklah mudah. Belum lagi jika memang susah menghafal. Jadwal kuliah biasanya 6 hari yakni senin-sabtu. Sudah begitu, jika bertepatan dengan praktik lapangan saat mahasiswa jurusan lain libur mahasiswi bidan masih sibuk praktik.

3. Bidan Terbiasa Disiplin dan Sesuai SOP

Advertisement

Seluruh tenaga medis memang diajarkan untuk bekerja sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur). Hal ini sudah dididikkan sejak kuliah. Bidan adalah salah satu profesi yang menuntut kedisiplinan. Menangani pasien harus sesuai protap. Dalam memberikan obat harus benar-benar tepat. Memberikan terapi juga harus memperhatikan diagnosis kebidanan yang terumus.

Kalau kita pernah berinteraksi dengan bidan desa, mungkin kita akan lebih sering menemukan betapa sopan santun menjadi hal mutlak. Sikap yang ramah menjadi modal tersendiri saat memberikan layanan kesehatan. Disiplin ilmu yang juga tidak kalah tentunya.

SOP pada tiap-tiap tindakan tidaklah selalu sama. Tiap tindakan medis ada SOP tersendiri. Sebagaimana misalkan di rumah sakit, SOP sudah tersusun dalam modul tersendiri dan diwajibkan untuk mengikuti SOP itu bagi tenaga medis. Sedikit pengalaman admin senyumperawat.com beberapa tahun lalu pernah mengetik buku panduan SOP setiap tindakan dari salah satu rumah sakit.

4. Bidan Siaga, Siap Dibangunkan Kapan Saja

Paradigma lama yang biasa di obrolkan para cowok jomblo adalah resiko punya istri bidan. Malam-malam sedang tidur diketuk pintunya ada yang mau melahirkan. Namun itu semua adalah kembali kepada poin di atas pula. Dedikasi kepada masyarakat itulah yang membuat profesi bidan sangat dibutuhkan. Bagaimana tidak, terkadang kalau di kampung, seorang bidan harus bisa pula merangkap sebagai dokter dan perawat. Sebab tidak banyak dokter yang berkenan tugas di daerah pelosok. Ada pun akhirnya bidan desa yang mengatasi hal itu.

Bukan cuma yang menjadi bidan desa, bidan di rumah sakit atau klinik pun begitu. Saat seluruh pasien tertidur, maka para bidan harus siaga malam. Kadang ada juga persalinan yang mesti diatasi dini hari. Maka seorang bidan harus siap kapan pun itu. Meskipun terkadang ada pula pasien yang kurang pengertian.

Bidan pun punya aktivitas di rumah yang tidak sedikit. Jadi wajar jika saat dibangunkan sekali tidak langsung matanya bisa melek 100 persen. Di sisi lain, seorang bidan juga pengertian dengan memahami bahwa tidak semua pasien atau keluarnya mengerti beratnya resiko menjadi seorang bidan.

5. Gaji Kecil Itu Anugerah

Klise, tapi nyatanya kalimat itu dipatahkan dengan kenyataan yang ada. Sudah tidak asing lagi kedengarannya untuk para bidan bahwa kebutuhan untuk menjadi bidan saat ini sangatlah besar sekali dan hampir sulit dilakukan. Tidak sedikit para bidan yang mengeluh bahwa setelah lulus kuliah kebidanan, terasa sulit untuk mencari pekerjaan.

Ada juga yang mengeluhkan gaji bidan yang terhitung kecil dan tidak sesuai dengan pengeluaran atau modal awal untuk menjadi seorang bidan, mulai dari kuliah yang mahal, pembuatan STR (Surat Tanda Registrasi) yang dipersulit serta pelatihan ini itu yang seakan menjadi syarat wajib untuk masuk kerja. Nah, kenyataannya lowongan kerja bidan sangatlah sedikit, kalaupun ada gajinya yang sangat minim. Rasanya sungguh ingin berteriak bukan? Untunglah hampir setiap bidan dibekali rasa sabar dan ikhlas yang sangat luar biasa, sehingga semua yang menjadi beban dipikirannya lambat laun akan hilang dengan sendirinya.

Jika mempertimbangkan hal di atas, semestinya: STR bidan tidaklah sulit didapat, gaji bidan haruslah layak, peluang kerja semestinya lebih terbuka, lulusan baru (fresh graduate) tidak banyak yang beralih profesi karena poin-poin di atas belum memadai. Banyak bidan mengeluh karena memang faktanya demikian. Gimana pendapat teman-teman? Rasanya kok kaya berat banget ya buat menjadi seorang bidan?

Padahal yang ada di bayangan kita kan menjadi bidan itu enak, duitnya banyak, pasien datang sendiri, tapi kenyataanya begini adanya. Dan hebatnya ini benar-benar terjadi pada bidan di Indonesia lho, bukan berita palsu apalagi hoax. Tapi buat para bidan tidak usah terlalu meratapi nasib dan terlalu mengambil pusing ya. Selagi selalu dilipuri rasa syukur, pasti semuanya akan dicukupkan oleh Tuhan kok. Tetaplah ikhlas dan sabar, gaji kalian bukan hanya di dunia, tapi di akhirat sungguh jauh lebih besar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya