1. Bertemu dengan Orang Baru

Foto Bersama dengan Travelers dan Orang Tua  yang meng-Host Kami

Foto Bersama dengan Travelers dan Orang Tua yang meng-Host Kami via https://www.facebook.com

Saat itu aku di-host sama mbak Sri. Sosok wanita ramah, tangguh, open-minded, gaul dan punya banyak pengalaman soal traveling.
Diperkumpulan itu mbak Sri nanya aku seperti ini,

“ udah dapat tempat tinggal belom? Tinggal di rumah aku saja” kata mbak itu
“ di sana banyak juga traveler untuk acara GMT nanti”
tawaran yang kedua ini tidak aku tolak lagi karena tawaran pertama di hari sebelumnya aku tolak karena masih ada rasa minder.
“ ya sudah kak, dari pada kejadian hal-hal aneh kayak kemarin, aku tinggal sama kakak aja” jawabku.

Oh my gosh, di rumah kakak itu banyak tamunya dari mana aja ada, ada cyclist dari perbatasan Indonesia dan Australia namanya Jelly, Astronomer dari England namanya Roger, bahkan satellite engineer dari belanda juga ada namanya Mirjam, nah dokter dari Makassar juga ada namanya Imal kita semua berkumpul dalam satu rumah hanya untuk GMT. “Astronomer aja ke Palembang, masa mau ketempat yang lain lagi”. Itu sunggu luar biasa.

2. Diwawancarai Media Lokal

Masuk Koran Sriwijaya Post

Masuk Koran Sriwijaya Post via https://www.facebook.com

Ini menjadi pengalaman yang begitu luar biasa karena 1 hari sebelum GMT aku bersama Roger dan Mirjam jalan keliling sekitaran Benteng Kuto Besak dekat jembatan Ampera untuk menambah koleksi fotografi. Tiba-tiba kami diwawancari salah satu koran lokal Palembang akan alasan datangnya kami ke sini apakah karena GMT. Katanya itu akan di-publish untuk tanggal 9 nanti. Ketepatan pada hari itu banyak saluran TV yang meliput, dan saat itu juga, kami batal diliput di CNN INDONESIA.  


“is Your purpose come to Palembang for the Total Solar Eclipse?” tanya juranlis itu ke kami. “Yes, it is” kami jawab sama-sama. Pendek cerita jurnalis tadi mewawancarai kami panjang lebar, apa aja yang membuat pilihan kami jatuh pada Palembang, kami menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan jurnalis tadi.

Tradaa, tepat di hari H kami berada di koran. Saat itu tingkat kebahagiaan aku tingkat dewa, senangnya bukan main! Bahkan Aku loncat loncat seperti orang gila, dan diliatin semua travelers yang ada rumah mbak Sri, Roger dan Mirjam ikut tertawa melihat koran dan tingkahku kala siang itu.

3. Mengakhiri Malam di Pinggir Jalan

Jembatan Ampera, Mengakhiri malam demi GMT

Jembatan Ampera, Mengakhiri malam demi GMT via https://www.facebook.com

Pada tanggal 8 pukul 04.30pm kami seluruh travelers yang tinggal di rumah Mbak Sri sudah selesai berkemas untuk acara GMT besok pagi, kami berkumpul di Jembatan Ampera bersama seluruh travelers Palembang yang bergabung di gathering. Macet yang sepanjang jalan, Bunyi klakson kesana kemari dan lapangan parkir yang hampir penuh di sekitaran jembatan Ampera menjadi pertanda bahwa besok akan menjadi hari yang begitu ramai.

Tak terasa sudah pukul 07.00pm, setelah urusan perut selesai, kami mencari tempat istirahat sekalian tempat tidur di pinggiran jembatan Ampera, hampir sepanjang jembatan sudah dipenuhi oleh orang orang kecuali tempat VIP yang sudah disediakan khusus. Kami menunggu di sana sampai ke acara GMT puncaknya besok pukul 06.20am-09.00 am.

“Pertahankan tempat duduk kalian, jangan pindah-pindah, nanti diambil orang”, sahut mbak Sri. “it’s gonna be a long night”, kata Roger. Malam itu seperti malam perang yang begitu dahsyat. Banyak dikerumunin orang, ambil posisi masing-masing untuk tempat tidur.

Mata ini tak sanggup lagi menahan untuk lebih lama, tak terasa sudah pukul 12.31pm. Pelukan tas menjadi selimut hangat untuk menghalau dinginnya malam, botol air mineral menjadi sandaran kepala menjadi bantal, aku tidur bersama kedua teman Roger dan Mirjam mereka berada di sebelah kiriku. Dan teman-teman yang lain berada di sebelah kanan. Kami tidur seperti barisan ikan asin siap digoreng. “Have a Nice Night” menjadi ucapan terakhir yang terdengar dan akhirnya terlelap.

4. Baru Bangun Dipelototi Banyak Orang

Bayangkan, Baru Bangun tidur langsung dipelototoin banyak orang. Malunya itu lohh!

Bayangkan, Baru Bangun tidur langsung dipelototoin banyak orang. Malunya itu lohh! via https://www.facebook.com

Keesokan harinya disaat kami terbangun sekitar pukul 05.30. Kami (Aku, Roger, dan Mirjam) dipelototi oleh banyak orang, kami orang yang bangun terakhir. Sangat sulit untuk mendeskripsikannya pagi itu. Kami difoto oleh banyak orang, masih terbayang dengan jelas flash kamera yang menyilaukan mata di saat baru bangun tidur, berasa jadi artis jalanan untuk sesaat, dipelototin ramai-ramai oleh sekian banyaknya orang. Mungkin alasannya karena mereka pertama kali melihat orang lokal dan bule tidur pinggir jalan, mungkin.

Kami bergegas berdiri dan berpura-pura tidak melihat mereka, sedikit malu dan cengigisan sendiri, “hahaha, sangat unik”. Desak-desakan semakin terasa, perlahan kami terpinggrikan sampai ke pinggir pagar pembatas jembatan. Alarm HP berbunyi menunjukkan bahwa saat itu sudah pukul 06.20am dengan terang benderang, ramainya orang sudah tak terhitung lagi untuk menyambut GMT. 

5. Suasana Sebelum GMT Puncak

Suasana Sebelum GMT Puncak

Suasana Sebelum GMT Puncak via https://www.facebook.com

Saat itu memang saat  yang begitu emosional. Suasana menjadi Gelap tiba-tiba seperti di film Harry Potter ketika Death Eaters meyerang Muggles, tiupan angin yang begitu dingin, merinding, ingin menangis, seperti kota mati, haru, semua bercampur aduk. “Ini sungguh keajaiban luar biasa!” ucapku dalam hati.

Perlahan Matahari mulai terbit secara perlahan dengan membentuk lingakaran hitam kecil kemudian pada akhrinya membentuk seperti Cincin. Sungguh Luar Biasa! Aku dan teman-teman menjerit-jerit dan saling berberpelukan.
“Oh my gosh this is jolly amazing” 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya