Tempat kerja adalah sebuah medan perang dalam dunia modern saat ini. Seringkali terjadi baku hantam dan saling menusuk (bukan dalam hal fisik) antara sesama rekan kerja. Pemenangnya adalah mereka yang berhasil merebut hati bos, terlepas dari apakah mereka bisa berkontribusi dengan baik dalam hal pekerjaan atau hanya jago bermuka-muka.

Seringkali kita sudah merasa bekerja dengan keras dan sebaik-baiknya, bahkan sampai lembur demi menyelesaikan pekerjaan, tapi pada akhirnya tidak dilihat, tidak dihargai, dan berujung pada pemecatan. 

Sebenarnya siapa sih yang salah? Belum tentu karena kita yang tidak kompeten lho, bisa juga memang bosnya yang tidak cocok dengan gaya bekerja kita, perusahaan mau tutup, berkelahi dengan 'macan' yang punya pengaruh kuat, dan sebab-sebab lainnya. 

Jangan bersedih dulu, dipecat bukanlah akhir dari segalanya, hanya rasanya yang menyakitkan dan tidak akan bisa dilupakan sampai kapanpun. Penulis sendiri sudah merasakannya dan tiap kali mengingatnya, rasanya seperti mengorek kembali borokan yang sudah mengering.

Berdasarkan dari pengalaman pribadi, inilah pertanda yang telah dihadapi penulis ketika akan dikeluarkan. 

 

1. Atasan mulai menjaga jarak

Why he/she ignored me?

Why he/she ignored me? via http://www.careerealism.com

Bos mulai berhenti berbicara denganmu dan bahkan melihat matamu. Setiap kali kau melakukan kesalahan, dia tidak pernah menegurmu lagi dan membiarkanmu melakukan apapun yang kau suka. Kamu juga akan melihat dia sering berbicara dengan rekan kerjamu.

Hal ini dilakukannya untuk menghilangkan perasaan bersalah karena akan memecatmu dan juga agar dia yakin keputusannya tepat dengan dukungan dari orang-orang yang bekerja bersamamu.

2. Rekan Kerja Mulai Bersikap Aneh

I hear they talk about me...

I hear they talk about me... via http://liputan6.com

Bila sikap rekan kerja yang selalu mempersulitmu dan bersaing denganmu berubah 180 derajat menjadi sangat baik, maka kamu harus waspada. Bisa jadi dia melakukannya karena dia tahu kau akan segera pergi dari kantor sehingga dia segera bersikap manis padamu agar kau tidak dendam padanya. Di sisi lain bisa juga rekan kerja yang biasanya perhatian padamu menjadi cuek dan mulai menghindarimu dengan berbagai alasan. Dia khawatir akan tak sengaja membocorkan mengenai pemutusan kerjamu sebelum disampaikan oleh HRD.

Oh, ya. Kau juga akan melihat mereka mulai kasak-kusuk tak jelas dan ketika kau datang, pembicaraan berhenti. 

3. Iseng-Iseng Membuka Website Perusahaan dan Ada Lowongan Pekerjaan dengan Posisi yang kamu tempati

job opportunity for your jobdesk

job opportunity for your jobdesk via http://jobsreet.com

Posisi sama, kualifikasi sama, jobdesk sama, dan tulisan ASAP. Mulailah mengecek pekerjaan divisimu, apakah butuh tenaga bantuan. Bila tidak, mulailah mengecek rekan-rekan kerjamu, tanyakan kepada mereka untuk apa perusahaan mencari karyawan baru. Bila mereka tidak jelas memberikan jawaban dan dimimik yang tidak biasa, hati-hati.

Sebagai catatan. Sebelum penulis diberhentikan, seorang rekan kerja mengaku akan berhenti karena ingin pulang kampung. Ternyata dia sama sekali tidak berhenti dan berkomplot dengan atasan untuk menyembunyikan pelengseran penulis. Jadi bila ada rekan kerjamu yang bilang mau berhenti, sebaiknya jangan percaya dulu...

4. Karyawan Baru Muncul

Hi, Let's work together

Hi, Let's work together via http://detik.com

Tanpa basa-basi, Bos memintamu untuk memberikan sebagian pekerjaanmu pada karyawan baru. Dia sangat antusias dengan pekerjaan barunya dan sering menanyakan semua yang kau kerjakan. Dia bahkan rela berbagi meja denganmu dan mengikuti semua perintahmu. Saking semangatnya, dia tidak mau nganggur dan terus meminta kerjaan. Dia juga memerhatikan dokumen-dokumen pending yang kau simpan dan menanyakan dengan polos : "Apa itu?"

Setiap atasan pasti memberitahukan fungsi karyawan baru pada anak buahnya. Kalau dia tidak menjelaskannya padamu sama sekali dan malah semakin menjaga jarak. Bersiap-siaplah menenangkan hati untuk menghadapi pertemuan mengerikan itu.

5. Kok, Gak Diajari Ya?

Why they didn't teach me properly

Why they didn't teach me properly via http://google.com

Perusahaanmu akan menggunakan sistem baru dan mengundang konsultan untuk datang mentraining. Kamu ikut ditraining tapi setiap pertanyaanmu tidak digubris oleh si trainee, dia terlihat ogah-ogahan setiap mau mengajarimu. Beda sekali bila rekan kerjamu yang memanggilnya, dia sangat baik dan menjelaskan dengan rinci. 

Para trainee pasti sudah tahu siapa saja yang akan ditraining dan mereka juga diberitahu kalau kamu akan segera dikeluarkan jadi tak perlu diajari.

 

Akhir kata dari, jangan langsung keluar bila mengalami beberapa atau bahkan semua pertanda ini. Tunggulah sampai bos memberikan pengumuman secara resmi padamu. Percayalah hal ini jauh lebih baik daripada keluar secara tidak hormat. Ingat, kau butuh surat referensi untuk berkarir di tempat yang baru. Jangan membuat masalah yang akan mengganggu perjalanan karirmu ke depannya. Bersikaplah profesional dan tetap pertahankan senyumanmu sampai akhir. Dengan begini bosmu akan merasa menyesal sudah mengeluarkanmu dan rekan-rekan kerja yang lain juga akan memerhatikan (meski diam-diam) siapa yang salah.

Menunggu hari terakhir bekerja akan terasa sangat panjang dan menyedihkan, tapi ingatlah waktu tak pernah berhenti berlari.

 

"Ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya