Kamu berubah untuk yang kesekian kali, menunjukkan sikap acuhmu. Ditambah lagi dengan semakin lebarnya jarak antara kita dan semakin padatnya kesibukanmu. Bukan hanya intensitas perjumpaan kita yang terbengkalai, namun komunikasi antara kita pun semakin tak karuan arahnya.

Ada perasaan tidak nyaman di dalam dadaku. Belum lama ini setiap malam aku memimpikanmu, bukan tentang kita, tapi tentangmu dan perempuan lain. Mimpi yang selalu sama yang membuatku menangis setiap malamnya dan terbangun dalam keadaan gelisah. Aku membutuhkanmu, tapi kamu selalu berkelit tentang kesibukanmu.

1. Bagaimanapun Kamu, Rasa Yang Kupunya Tetap Sama

kebahagian yang kembali… via http://google.com

aku mencintaimu dengan kata walaupun

tanpa karena dan tanpa tapi

Advertisement

Pertemuan kita hari itu, aku berharap semua akan baik-baik saja. Entah, ada yang berselisih dalam diriku. Logikaku yang mengingkari bahwa kita baik-baik saja, dan perasaanku yang terlalu dalam menyayangimu. Sudah terlalu tersiksa aku menahan rindu yang terus saja semakin erat memelukku ditambah dengan jarak dan kesibukanmu yang semakin membuat kita menjauh, seakan mengejekku. Badanmu nampak lebih berisi, aku tahu kamu begitu bahagia. Tidakkah kau juga sama merindunya dengan diriku? Atau hanya aku yang begitu merindu semua tentangmu? Segala bentuk canda tawamu, caramu melihat dan mengusiliku hingga aku marah dan kamu kembali merayuku dengan cara manjamu, juga saat kamu mengusap puncak kepalaku. Aku rindu setiap perlakuan istimewamu. Tapi hari itu, kamu seperti agak kaku, namun berusaha seperti biasanya. Namun, bagaimanapun kamu, rasaku tetap sama, selalu menyayangimu.

2. Aku Mengingkari Setiap Firasat Yang Ada, Dan Itu Adalah Kesalahan

perasaan yang datang kebali… via http://google.com

rasa yang sebegitu dalam membuatku merasakan apa-apa yang tidak kuketahui,

tapi keburukan apapun tentangmu itu selalu kuingkari

Setelah pertemuan kita hari itu, batin dan logikaku semakin bertengkar hebat. Semua terasa sesak. Dan ketika aku menanyakan semua tentang sikapmu, kamu bilang semua baik-baik saja, tidak ada yang berubah. Tidak lama setelah itu, aku melihat fotomu di sebuah akun sosmed, bukan milikmu, tapi milik seorang perempuan yang kau sebut “adik”. Foto biasa memang, foto ketika kamu mendaki salah satu puncak gunung, tapi ada caption kiss dan kamu berkomentar dengan emotion kiss juga, dan dia membalas dengan hal yang sama. Apa maksudnya itu?

Advertisement

Aku tunjukan padamu adegan itu, dan bertanya apa maksud dari semua itu. Kamu bahkan tidak menjawab semua pertanyaanku, kamu hanya beralasan sedang sibuk. Hari setelahnya kamu bahkan sama sekali tak menghubungiku, semua pesan dan telfon dariku bahkan kamu abaikan. Aku menunggu kabarmu selama 1 minggu, bahkan lebih dari itu. 3 bulan kamu menghilang tanpa kabar tanpa alasan dan tanpa penjelasan. Hubungan kita kamu enyahkan begitu saja. Ternyata firasatku benar, hanya saja aku selalu mengingkarinya.

3. Aku Harus Menunggumu Atau Melupakanmu

kemudian semua pergi… lagi via http://google.com

kau bahkan ada tak hanya di dunia nyata, tapi selalu ada di dalam alam bawah sadarku,

kau selalu berputar dikepalaku, dan berdiam dihatiku

Dan bukan lagi masalah seberapa lama kamu tak berkabar, tapi mimpi malamku yang selalu berisi semua tentangmu. Selama itu, aku masih mencoba menghubungimu, tapi tak membuahkan hasil apapun. Entah sedang apa kamu di sudut dunia sana, aku hanya butuh sebuah alasan tentang kepergianmu yang secara tiba-tiba. Lebih lagi, aku ingin penjelasan tentang hubungan kita yang telah kita pertahankan bertahun-tahun lamanya. Tidakkah kau mengkhawatirkanku lagi seperti dulu? Aku bahkan lebih dari tersiksa, bukan hanya oleh rindu tapi juga mimpi-mimpi memuakkan itu. Aku lelah, aku bahkan hampir tak peduli dengan keadaanku yang semakin tak karuan, semakin kurus, tidak fokus. Kau tahu? Aku bahkan menggunakan sabun cair sebagai shampo selama sebulan, haha..lucu bukan?

Hingga seberapa lama aku harus menunggumu kembali? Atau haruskah aku menyerah sampai disini setelah semua hal yang kita lalui?

4. Kamu Kembali Setelah Aku Mulai Terbiasa Sendiri

setelah aku terbiasa sendiiri via http://google.com

tanpamu, semua memang berbeda.

tapi aku harus tetap jalani semuanya, ada atau tanpa kamu

Sudah, kusudahi untuk menunggumu. Aku sudah cukup bersabar dan berteman dengan segala kesendirian. Dulu, kamu terlalu memanjakanku menemani kemanapun dan kamu telah kujadikan teman, sahabat, kekasih, kakak juga bagian dari keluargaku. Kehilangan memang menyakitkan, sungguh aku tidak pernah sedikitpun ini semua terjadi. Dan pihak yang ditinggalkan memang lebih sakit daripada yang meninggalkan. Bahagiakah kau meninggalkanku dengan cara seperti ini? Aku pikir jawabanya iya. Jika tidak, tentu kau akan kembali. Dan dengan cara seperti ini, kau sudah membiasakanku untuk bisa sendiri, tanpamu.

“Hai, apa kabar?”

Bukan orang asing. Ya itu kamu, orang yang selama ini aku tunggu. Dan kamu kembali, setelah aku mulai membunuh setiap harapanku tentang kamu. Setelah aku berusaha memangkas setiap tunas kerinduan yang terus tumbuh menjerat hatiku. Kamu, kembali

5. Aku Menerimamu Kembali. Dan terimakasih, Kamu Menyakitiku (Lagi)

saat kesempatan itu kuberikan kembali via http://google.com

dan terimakasih,

kau hempaskan kembali kaca yang telah retak itu hingga jadi kepingan kecil yang tak berbentuk lagi

kaca yang bernama rasa cinta yang selalu aku pertahankan walau kau terus saja bersikap menyakitkan

Entah aku harus bahagia atau bagaimana dengan kembalinya kamu. Sungguh aku kecewa dengan perlakuanmu. Tapi rasa sayang ini masih terjaga untukmu. Berulang kamu menghubungiku walau berulang pula aku mengabaikan bahkan ketus kepadamu. Kamu tidak pernah mau menjawab alasanmu menghilang selama ini, kamu hanya meminta maaf atas tindakanmu itu. Kamu juga berkata hubungan kita belum berakhir dan kamu masih mengganggapku kekasihmu.

Jujur, sekali lagi, aku merindukanmu, bahkan lebih dari itu. Aku tidak ingin terbelahnya kita terulang kembali, cukup kemaren adalah yang terakhir kali. Please, just remember the reason you love me. Aku inginkan kita, bahkan lebih dari itu, aku ingin kita bersama seperti dulu, sekarang dan menua bersama. Aku menerimamu kembali, dan bersemilah kembali bunga cinta yang telah kering layu karena pernah kau tinggalkan.

Tapi itu ternyata hanya awal, awal kamu gores hatiku (lagi). Setelah sehari kita melepas rindu, mengulang kenangan yang telah lalu, menyemikan cinta yang telah layu, kutemukan fotomu tersenyum dengan perempuan lain. Perempuan yang selalu kamu sebut “adik” dan tertulis caption “he is mine”. Aku menghubungimu, kamu seakan tidak pernah melakukan apapun. Apa maksud semua itu? Aku butuh penjelasan atas semua sandiwara konyol ini, tapi tak kudapatkan apa-apa. Kamu menyakitiku (lagi) dan kamu pergi (lagi) entah untuk yang keberapa kali. Ini balasanmu terhadap semua kepercayaan dan ketulusan yng telah aku berikan. Dan aku sudah lelah, hanya terasa sesak, begitu sesak dan airmataku tiada setetespun yang keluar. Tidak lagi aku bisa menangis karenamu, telalu dalam rasa kecewa dan terlalu perihnya luka.

Dan aku berterimakasih (sekali lagi), kamu membawaku terbang dan menghempaskanku ke jurang yang begitu menyakitkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya